
“Selamat pagi Tuan...,” sapa sosok perempuan berambut pirang sepundak berpakaian pelayan yang bernama Solution saat melihat Xia Yun membuka pintu kamarnya.
Xia Yun yang di sapa oleh Solution menganggukkan kepalanya pelan kemudian lanjut berjalan menuju tangga sambil berpikir.
‘Apakah mereka masih membenci keberadaan manusia?’ batin Xia Yun sambil berjalan menuruni anak tangga.
“Selamat pagi Tuan...,” sapa sosok perempuan berambut hitam legam yang diikat oleh pita dengan pakaian pelayan menundukkan kepala di depan Xia Yun.
Bruk!
“Aduh... maafkan aku Nabe!” ucap Xia Yun panik kemudian dengan cepat berdiri karena dirinya tidak sengaja menabrak sosok perempuan sebelumnya sehingga mereka berdua terjatuh di lantai dengan badan Xia Yun yang menindih perempuan pelayan yang bernama Nabe tersebut.
“T-tidak Tuan! ini adalah salah hamba karena sudah menghalangi jalan Tuan...,” ucap Nabe membantah permintaan maaf Xia Yun.
“Sudahlah, berdirilah. Ini adalah salah kita berdua, oke?” Menyalurkan tangannya, sontak Nabe langsung menyambut uluran tangan Xia Yun yang ingin membantunya berdiri.
“Kalau begitu aku akan pergi dulu Nabe, sampaikan pada yang lain kalau aku akan pergi sebentar,” ucap Xia Yun pada Nabe kemudian berjalan meninggalkannya sambil melambaikan tangan pelan.
.
.
.
.
.
.
“Kakek Liang, di mana perjamuannya dilakukan?” tanya Xia Yun yang saat ini sedang dalam perjalanan menuju tempat perjamuan bersama dengan Zhuge Liang.
“Di Istana Tuan,” jawab Zhuge Liang dengan sopan.
“Ayolah Kakek Liang, jika hanya kita saja tidak perlu formal, kecuali jika bersama dengan orang asing...,” ucap Xia Yun dengan nada yang jengkel di dalam kereta.
“Hehehe baiklah Xia Yun,” balas Zhuge Liang terkekeh kecil dengan sikap Xia Yun.
Setelah percakapan singkat itu, keadaan menjadi hening karena mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing selama perjalanan ini.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Setelah memacu kendaraan selama kurang lebih 40 menit dari kediaman menuju Istana, akhirnya Xia Yun dan Zhuge Liang sampai di depan gerbang Istana. Para penjaga yang pernah melihat kereta kuda Xia Yun langsung mendekat dan menawarkan untuk mengantarkan kereta kuda mereka.
Zhuge Liang dan Xia Yun tentu tidak menolak tawaran itu, setelah menitipkan kereta itu, segera Xia Yun dan Zhuge Liang di antar oleh pelayan yang sedari tadi menunggu kedatangan mereka menuju ruang perjamuan yang di maksud.
“Xia Yun, rupanya kau sudah datang!” ucap Ming Hu (Kaisar terdahulu) saat dirinya melihat Xia Yun yang di pandu oleh salah satu pelayan wanita menuju ruang perjamuan.
“Ayo, kita bersama-sama pergi ke sana.”
Xia Yun tersenyum menanggapi sikap Ming Hu tanpa membantahnya dan ikut berjalan bersama Ming Hu menuju sebuah ruangan yang sangat luas dengan meja persegi panjang berada di tengah ruangan lengkap dengan kursinya.
Di sana, ada Ming Bao (Kaisar sekarang) bersama dengan Mei Yue, dan Seorang Pria Paruh Baya yang rambut dan jenggotnya sudah bewarna putih. Bukan hanya mereka bertiga saja, tetapi ketiga Ketua Sekte besar juga ikut hadir di sana dan sedang duduk di meja jamuan sambil mengobrol kecil.
Masing-masing di belakang mereka terdapat satu orang bawahan yang bertugas untuk menjaga keamanan mereka apabila terjadi sesuatu. Untuk Mei Yue, orang yang bertugas menjaga dia adalah kakeknya.
Awalnya mereka sedang berbincang-bincang tetapi saat Ming Bao melihat kedatangan Ming Hu bersama Xia Yun, Ming Bao segera menyapa keduanya lalu meminta mereka untuk duduk.
Xia Yun dan Ming Bao segera duduk dengan Zhuge Liang yang berdiri di belakang Xia Yun yang saat ini juga ikut bergabung dalam perjamuan.
Itu bagi orang lain, bagi Xia Yun. Dirinya sempat menatap mata Ketua Sekte Lahar Surgawi itu kemudian membaca pikirannya, jadi Xia Yun tahu kalau Ketua Sekte Lahar Surgawi itu memiliki rasa tidak suka padanya.
Xia Yun memang sudah menduganya, alasannya pasti karena Xia Yun melukai anaknya, yaitu Ye Lu saat pertandingan sebelumnya.
“Kenapa seorang anak yang tidak jelas asal usul nya bisa bergabung dengan kita, Kaisar?” tanya Ketua Sekte Lahar Surgawi dengan nada menghina ketika Xia Yun baru saja duduk bersebelahan dengan Ming Hu.
“Aku mengundangnya karena ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padanya terkait insiden penyerangan sebelumnya,” jawab Ming Bao menjelaskan pada Ketua Sekte Lahar Surgawi.
Mendengar penjelasan dari Ming Bao, Ketua Sekte Lahar Surgawi hanya diam tanpa membalasnya dan menatap tajam Xia Yun. Xia Yun juga tidak ingin mempersulitnya sehingga memutuskan untuk mengabaikan tatapan Ketua Sekte Lahar Surgawi itu.
“Akhirnya aku bisa bertemu langsung dengan mu, Nak Xia Yun,” ucap seorang perempuan berambut perak sepinggang dengan wajahnya yang terlihat seperti perempuan berusia 20 tahunan pada Xia Yun sambil tersenyum.
Xia Yun yang di sapa oleh perempuan itu merasa bingung karena Xia Yun tidak mengenal perempuan itu sehingga dirinya mengajukan pertanyaan yang membuat perempuan itu beserta perempuan paruh baya di belakangnya tersedak air liurnya sendiri. “Em... maaf, Anda siapa?”
!!
“Uhuk uhuk! kau sungguh tidak mengenalku?” tanya perempuan itu memastikan.
__ADS_1
“Mn,” balas Xia Yun menganggukkan kepala jujur.
“Hmph, pembohong!” Mendengus kesal, Ketua Sekte Lahar Surgawi menyela percakapan mereka berdua.
“Perkenalkan, aku adalah Ketua Sekte Selendang Dewi sekaligus Ibu dari Zhou Fei. Zhou Yu,” Perempuan berambut perak sepinggang itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum.
“Rupanya Anda adalah Ibu dari Si Loli... sejujurnya aku hampir tidak percaya bahwa Anda sudah memiliki anak,” ucap Xia Yun sambil tersenyum canggung pada Zhou Yu.
“Loli?” Ulang Zhou Yu kebingungan.
“Ah, itu adalah panggilan aku padanya, karena ukuran tub-” penjelasan Xia Yun terhenti lalu mencoba mengalihkan perhatian Zhou Yu.
“Karena ukuran tingkat kekuatannya yang sangat....”
‘Kakek Ming Hu, bantu aku alihkan perhatian Nyonya Zhou Yu!’
!!
Ming Hu yang tiba-tiba mendengar suara Xia Yun di benaknya langsung terkejut tetapi kembali tenang setelah mendengar penjelasan Xia Yun sehingga dirinya dengan cepat berbicara. “Uhuk! Ming Bao, bisakah kau jelaskan kenapa kau mengundang mereka hari ini?”
‘Terima kasih Kakek Ming Bao! aku berutang budi pada Anda!’ batin Xia Yun senang saat semua perhatian mulai tertuju pada Ming Bao (Kaisar sekarang).
“Aku mengundang kalian kesini berniat untuk mendiskusikan tentang keamanan turnamen pada besok hari, tetapi sebelum itu,” Mata Ming Bao menatap Xia Yun lalu kembali melanjutkan perkataan nya tetapi yang berbicara adalah Zhou Yu juga pria paruh baya berambut dan jenggot bewarna putih.
“Kami ingin menyampaikan rasa terima kasih pada mu karena sudah menyelamatkan dan menyembuhkan sebagian peserta turnamen.”
Xia Yun tidak menyangka kalau dirinya akan terlibat hal seperti ini karena perbuatan sepele yang dirinya lakukan sebelumnya sehingga saat ini Xia Yun langsung memijat pelipis matanya pelan.
.
.
.
.
.
.
Yah... maaf aku kurang konsisten dalam up chapter nya ya, aku begini karena lagi bantu-bantu orang tua aku, jadi badan aku capek dan nggak bisa nulis.
Buat kalian yang baca jangan lupa like dan tinggalkan jejak ya... dan jangan lupa kasi bintang lima karena semua itu gampang hehehe biar aku semangat nulisnya.
__ADS_1
Kalau ada yang salah tentang penulisan tanda baca, atau apapun bisa kalian kasi saran ke aku di komentar, pasti aku balas kok...tenang aja tapi aku tidak tau kalian nya komen di chapter berapa tapi aku pasti balas kok.
Juga kalau kalian punya saran kekuatan seperti jenis tubuh, skill atau penggunaan skill combo dan penggunaan skill yang Xia Yun punya maka kalian bisa komentar di bawah aja kok nanti aku bakal masukin saran kalian.