Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 100


__ADS_3

Huek... huek...


Aliya membasuh mulutnya setelah berkali kali memuntahkan isi perutnya. Ya, morning sickness yang ia alami memang cukup parah. Mungkin ini juga pengaruh dari kehamilan kembarnya. Ya, kehamilan kembar, karena walaupun Dokter Zonya belum sepenuhnya bisa menyimpulkan bahwa Aliya hamil kembar, tapi Dokter Zonya begitu amat yakin dengan dugaannya, dan Aliya juga meyakini itu


"Al sudah belum?" tanya Afifa dari luar kamar mandi


"Sudah..." jawab Aliya lemas


Mendengar jawaban Aliya, Afifa segera masuk ke kamar mandi dan membantu Aliya untuk keluar. Ya, selama beberapa hari mereka bersama, inilah yang sering Afifa lakukan. Ia yang memang tidak mengalami gejala kehamilan seperti yang dialami Aliya, membuatnya bisa membantu Aliya disaat saat seperti ini


"Apa ada yang kau butuhkan?" tanya Afifa setelah berhasil membantu Aliya untuk berbaring di ranjang


"Tidak ada"


"Makanan? Mungkin kau menginginkan sesuatu?"


Aliya tampak sedikit menimbang untuk mengutarakan keinginannya. Ia sedikit ragu untuk mengatakan keinginannya yang terbilang sangat aneh ini, karena ia takut Afifa akan menertawainya atau mungkin menggodanya atau apapun itu. Namun keinginannya kali ini benar benar tidak bisa ia tahan


"Al?"


"Aku ingin martabak yang dibuat langsung oleh Alex" ucap Aliya yang berhasil membuat Afifa terkejut


"Martabak buatan Alex?"


Afifa masih tak percaya dengan permintaan Aliya. Sebab, baginya ini sangat aneh. Selama ia mengenal Alex maupun Bram, dua laki laki itu tidak mungkin mau memasak, apalagi untuk membuat kue. Tapi baiklah, untuk kali ini Afifa akan mencobanya. Ia langsung mengambil ponsel dan menghubungi nomor telepon Alex

__ADS_1


"Kau mau apa?" tanya Aliya


"Tentu saja menghubungi Alex"


"Untuk?"


Afifa menghela napas mendengar pertanyaan bodoh Aliya "Sudahlah lebih baik kau diam" Afifa kembali mencari cari nomor Alex


"Tapi dia tidak akan diizinkan masuk oleh Ayah" ucap Aliya. Ya, ia ingat betul bagaimana Alex selama ini tidak dibiarkan untuk masuk kedalam kediaman Dirgantara


"Aku yang akan mengurusnya" Afifa menghubungi nomor Alex dengan segera


"Halo Fa" terdengar suara Alex diujung sana


"Aku di kantor, ada apa? Apa ada masalah dengan Aliya?"


"Iya, tolong ke rumah sekarang"


"Baiklah aku ke sana sekarang juga"


Tut


Afifa tersenyum saat panggilan ditutup begitu saja oleh Alex "Sekarang giliran Ayah dan Bunda. Kau tunggu di sini biar aku yang mengurusnya" ucap Afifa


Setelah mengatakan itu, Afifa segera turun menuju lantai bawah. Biasanya di jam seperti ini, kedua orangtuanya pasti berada di ruang keluarga. Benar saja, begitu ia berada diujung tangga, matanya sudah dapat menangkap keberadaan kedua orangtuanya di sana

__ADS_1


"Yah, Bun..." panggil Afifa


"Kak..." Bunda merentangkan tangannya menyambut sang putri yang semakin berjalan mendekat "Ada apa? Apa Kakakmu mual lagi?"


"Iya Bun, seperti biasa" jawab Afifa sembari mendudukkan diri di samping sang Bunda


"Lalu apa ada yang ia inginkan lagi kali ini?"


Afifa mengangguk sebagai jawaban. Ya, selama masa kehamilan, Aliya akan mual dan muntah di pagi hari, setelah itu ia pasti akan meminta hal hal aneh. Namun selama ini, semua keinginan Aliya masih mampu untuk mereka kabulkan, sebab biasanya Aliya hanya menginginkan bubur, soto, atau ayam geprek dan semacamnya. Tapi kali ini, permintaannya sedikit berbeda, yaitu sebuah martabak yang dibuat langsung oleh Alex


"Jadi apa yang Aliya inginkan?" tanya Bunda


"Mmm sebenarnya..." Afifa melirik Ayahnya yang tengah fokus membaca koran. Tuan Daffa yang menyadari akan lirikan putrinya, seketika menurunkan koran tersebut dan ikut menatap sang putri


"Ada apa Kak?" tanya Bunda Sekar saat melihat anak dan suaminya saling tatap


"Aliya ingin memakan martabak" ucap Afifa


"Hanya itu? Lalu?" tanya Tuan Daffa menimpali


"Tapi Ayah harus berjanji untuk mengabulkan apapun keinginnn Aliya"


"Baiklah, katakan" ucap Tuan Daffa cepat


"Aliya ingin memakan martabak yang dibuat langsung oleh Alex"

__ADS_1


__ADS_2