
Sepeninggal Bram, Afifa melihat lihat isi kamar penginapannya. Ternyata tidak buruk, penginapan ini cukup layak untuk menjadi persinggahan sementara. Terdapat ranjang, meja nakas dan sebuah lemari di sudut ruangan sana. Afifa berjalan menuju jendela dan menyingkap gorden, hingga menampakkan halaman belakang yang terlihat menyajikan pemandangan yang begitu asri
"Kenapa penginapan ini tidak di renovasi saja? Padahal view di sini bagus sekali" monolog Afifa
Tok... tok... tok...
"Ya, sebentar" Afifa berjalan menuju pintu dan membukanya "Ada apa?" tanya Afifa saat melihat Bram di sana
"Aku ingin bersantai di halaman belakang, kau mau ikut"
"Boleh, tunggu sebentar"
Afifa masuk kembali dan mengambil buku bacaannya, baru setelah itu ia mengikuti Bram yang berjalan di depannya. Begitu tiba di halaman belakang, terlihat adanya kursi yang mengarah langsung pada pemandangan hijau pegunungan sejauh mata memandang. Afifa dan Bram duduk berdampingan di kursi tersebut, sembari melihat sajian alam yng begitu memanjakan mata
"Udara di sini segar sekali" ucap Afifa
"Iya, udaranya masih sangat terjaga" jawab Bram
"Ngomong ngomong, kau tahu dari mana tentang tempat sebagus ini?"
"Awalnya dari internet, karena aku penasaran, jadilah aku mengunjunginya langsung, dan ternyata tempatnya memang seindah yang terlihat di foto"
__ADS_1
Afifa mengangguk membenarkan "Berarti kau sudah sering ke sini?"
"Tidak juga, baru dua kali, dan ini ke-tiga kalinya, dan yang paling berkesan tentu saja yang ke tiga kali ini. Karena aku berangkat bersamamu"
Afifa menatap Bram, dan tersenyum singkat. Bram memang selalu berhasil membuatnya merasa panas dingin dengan rayuannya. Seperti saat ini, Afifa terlihat biasa saja, ia tidak menunjukkan suatu reaksi yang berlebihan, sebab ia merasa malu. Jika saja ia tengah sendiri saat ini, mungkin ia akan melompat riang karena mendapat gombalan maut itu
"Fa, aku berniat membangun rumah di sini, bagaimana menurutmu?" tanya Bram
"Rumah untuk di tinggali? Atau untuk sekedar tempat berlibur?"
"Hanya untuk berlibur, untuk tempat tinggal mungkin akan tetap di Jakarta, karena pekerjaanku juga domisili di sana" jelas Bram "Bagaimana menurutmu?"
Pertanyaan Afifa membuat Bram mengernyit heran. Sebab tidak biasanya Afifa bertanya seperti itu. Karena biasanya Afifa akan langsung menjawab pertanyaannya, tanpa lupa atau semacamnya. Bram menempelkan punggung tangannya di dahi Afifa untuk memastikan keadaannya baik baik saja
"Kau sehat 'kan?"
"Ten... tentu saja"
"Lalu? Kenapa kau seperti tidak fokus dengan pertanyaanku, kau banyak pikiran? Apa ini soal Alex?" tebak Bram
"Tidak, kau salah paham" elak Afifa
__ADS_1
"Iya juga tidak apa apa, aku mengerti" Bram melepas tatapannya dari mata Afifa, ia kembali menatap hamparan pemandangan di depan sana, membuat Afifa juga ikut memandang ke depan "Kapan kita akan pulang?" tanya Bram
"Kita barusaja sampai hari ini, tapi kau malah sudah menanyakan waktu pulang" sungut Afifa
"Untuk apa juga berlibur dengan seseorang, jika hati dan pikiran orang itu tidak fokus, dan justru memikirkan orang lain"
Afifa kembali menatap Bram dengan kening berkerut "Maksudmu?"
"Tidak, lupakan saja"
*
Di kediaman Dirgantara, Aliya tampak fokus membaca buku novel di tangannya. Buku novel yang sempat ia katakan aneh, ternyata menyimpan cerita yang cukup menarik, hingga membuat Aliya seakan enggan untuk berhenti membacanya. Ia bahkan membaca buku tersebut dengan nyaman di kamarnya, di temani berbagai camilan
"Dasar laki laki tidak tau di untung. Sudah di beri istri yang baik, malah di abaikan"
Aliya menjadi kesal sendiri dengan tokoh laki laki dalam novel itu, dimana laki laki tersebut menikah dengan seorang wanita baik baik karena di jodohkan oleh orang tuanya. Tapi, laki laki tersebut kerap menghabiskan waktu di kantor, dan mengabaikan istrinya di rumah. Bahkan berkali kali istrinya bertindak agresif hanya agar suaminya mau menyentuhnya, tapi nyatanya suaminya tetap tidak tertarik sama sekali
"Uh... ternyata suaminya sweet juga" monolog Aliya.
Ya, baru saja ia menggerutu karena tokoh pria yang menurutnya mengesalkan. Namun setelah membaca lebih lanjut, ia di buat terpesona dengan alasan laki laki itu tidak mau menyentuh istrinya, dan alasannya adalah karena tidak adanya cinta. Ya, laki laki itu tidak ingin menyentuh istrinya tanpa cinta, yang pada akhirnya akan membuat keduanya merasakan sakit bersama
__ADS_1