Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 104


__ADS_3

Bram membawa Afifa menuju ruangannya tanpa menghiraukan tatapan para karyawannya yang menyimpan tanda tanya. Karena baginya, ia tidak harus menjelaskan apa apa. Begitu tiba di ruangannya, ia segera membukakan pintu dan membawa istrinya duduk di sofa ruangan


"Kau pasti lelah, kemari biar aku pijat kakimu" Bram menarik kaki Afifa perlahan, dan memberikan pijatan lembut di sana "Oh iya Sayang, aku berpikir apa tidak sebaiknya kita melakukan resepsi untuk mengumumkan pernikahan kita? Aku tidak ingin hal seperti tadi terjadi lagi" ujar Bram


"Tidak perlu Bram"


"Sayang, kau harus memanggilku Sayang seperti tadi" peringat Bram, karena tadi istrinya itu memanggil Sayang padanya saat di lobi kantor, tapi mengapa sekarang malah berubah


"Iya baiklah" Afifa mengelus rahang tegas suaminya dengan tersenyum "Mmm mengenai permintaanmu, maaf karena aku rasa kita tidak perlu melakukan resepsi lagi, apalagi sekarang aku tengah hamil, aku jadi lebih tidak menyukai keramaian" ucap Afifa


"Kalau setelah melahirkan bagaimana?" tawar Bram

__ADS_1


Afifa menurunkan kakinya, dan membenamkan wajahnya di dada sang suami "Kau benar benar ingin ada resepsi ya?"


"Sebenarnya tidak juga, hanya saja aku ingin mengenalkanmu sebagai istriku pada dunia, dan aku rasa moment resepsi adalah moment yang paling pas untuk itu"


"Ada banyak cara untuk kita mengumumkan status kita Sqyqng, dan maaf karena aku tidak ingin ada resepsi diantara kita. Pernikahan kita yang sudah sah secara hukum dan agama saja sudah cukup untukku" Afifa melepas pelukannya, dan memandang wajah suaminya "Kau setuju 'kan?" tanya Afifa


"Apapun untukmu Sayang, tapi maaf untuk yang kali ini aku tidak akan mengabulkannya secara cuma cuma"


"I want you" bisik Bram tepat di telinga Afifa, membuat bulu kuduk Afifa seketika merinding karena hembusan napas suaminya menerpa kulitnya, dan siang hari yang cerah itu menjadi saksi bisu berpadunya cinta antara mereka setelah beberapa hari tidak bertemu


*

__ADS_1


Alex mengusap sudut bibir Aliya dengan ibu jarinya setelah Aliya menghabiskan semua martabak yang tadi ia buat. Ya, Aliya menghabiskan semuanya tanpa sisa sedikitpun. Karena bagi Aliya, makan pagi tanpa gangguan mual dan muntah adalah anugerah terindah dari Tuhan untuknya. Karena selama masa kehamilannya, ia sama sekali tidak bisa makan dengan tenang karena morning sickness yang ia alami


"Aku ingin menambah nasi, tapi kau harus menyuapiku lagi agar aku tidak mual" pinta Aliya, membuat Alex melongo tak percaya "Kenapa? Tidak mau menyuapiku? Ya sudah, aku makan sendiri saja" ucap Aliya


"Tidak tidak, maksudku, apa masih akan muat kalau kau menambah nasi?" tanya Alex, sebab tadi satu loyang martabak dihabiskan oleh Aliya seorang diri tanpa bantuannya, lalu sekarang Aliya justru meminta untuk menambah nasi


"Memangnya kenapa? Anak anakku yang menginginkannya" ucap Aliya yang lagi lagi membuat anaknya sebagai tameng


"Baiklah, akan aku ambilkan" Alex tidak punya pilihan lain selain mengabulkan keinginan istrinya, apalagi saat istrinya itu mengatakan bahwa ini adalah keinginan bayi mereka yang sudah pasti harus Alex pastikan nutrisinya.


Alex mengambil piring, dan mengisinya dengan nasi dan berbagai lauk pauknya. Setelah itu, ia membawa piring tersebut keatas meja, dan mulai menyuapi istrinya dengan telaten. Sesekali, ia akan tersenyum saat melihat istrinya yang makan dengan begitu lahap. Bahkan, makanan didalam mulut istrinya belum sepenuhnya tertelan, tapi istrinya sudah memintanya untuk menyuapi lagi dan lagi. Sedangkan di belakang sana, Tuan Daffa masih berada di tempat semula dengan tatapan yang terfokus pada anak dan menantunya. Ia menatap sendu pada sang putri dan menatap menantunya dengan tatapan tak terbaca

__ADS_1


"Aku sudah menduga bahwa kau hanya mencintai anak anakmu"


__ADS_2