
Selepas mandi yang memakan waktu cukup lama. Kini Afifa dan Bram telah siap dengan pakaian mereka masing masing. Dimana Afifa mengenakan mukena, sedangkan Bram tampak begitu tampan dan gagah dengan balutan baju koko, sarung dan peci.
"Bagaimana, sudah siap?" Bram menengok dan melihat persiapan istrinya, begitu melihat istrinya yang sudah siap, ia kembali membalik badan, dan memulai Shalat Maghrib
Bram tampak begitu fasih mengucapkan bacaan bacaan Shalat. Di mulai dari Iftitah, Alfatihah, pembacaan surat pendek dan lainnya. Bram tampak begitu sangat pandai membaca, membuat Afifa yang ada di belakangnya juga ikut khusuk dalam Shalatnya
"Assalamu'alaikum warohmatullah..."
Shalat selesai, Bram dan Afifa mengadahkan tangan bersama sama. Meminta kepada sang pencipta dengan permintaan yang mereka utarakan di hati masing masing. Begitu selesai berdo'a, Bram membalik badannya dengan posisi masih bersila. Ia mengulurkan tangannya yang langsung di sambut baik oleh sang istri
Setelah Shalat, Bram dan Afifa tidak lantas pergi. Keduanya justru terlihat masih setia duduk di tempat semula. Afifa merubah posisinya, merebahkan dirinya berbantalkan paha sang suami, dan Bram tentu dengan sigap mengusap kepala istrinya yang terbalut mukena, sembari sesekali memberikan kecupan sayang di pucuk kepalanya
Ya, inilah yang Afifa sukai dari Bram. Karena selain bertanggung jawab, romantis, dan humoris, Bram juga adalah sosok yang cukup religius. Semua itu terbukti dengan Bram yang tidak pernah meninggalkan Shalatnya. Bahkan di saat sibuk sekalipun. Seperti sekarang, saat mereka ada di rumah bersama, Bram tak jarang meminta dirinya untuk melakukan Shalat berjamaah, dan berakhir dengan hal hal romantis yang keduanya lakukan
__ADS_1
*
Sedangkan di sisi lain. Aliya tengah membaca buku novel yang sudah pernah ia baca waktu itu di ruang keluarga. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk belajar cara meluluhkan hati suami. Karena dalam cerita itu, si wanita begitu gencar menggoda suaminya, dengan berbagai cara, dan Aliya pikir, ia pasti akan membutuhkan itu. Sebab, sesuai janjinya, di kesempatan terakhir ini, ia akan kembali berusaha untuk meluluhkan suaminya dengan cara apapun juga. Namun jika ternyata usahanya masih belum berhasil, maka apa boleh buat. Mungkin perpisahan memang jalan yang terbaik
"Sedang apa Al?" tanya Mama Rengganis
"Membaca buku Ma" jawab Aliya seadanya, sedangkan matanya tidak pernah ia alihkan dari buku di tangannya
"Lagi ingin saja" Aliya masih membalik balik halaman buku untuk mencari beberapa part yang menurutnya menarik. Namun di detik berikutnya, ia menurunkan buku tersebut, dan menatap Mama Mertuanya yang sudah ikut membaca majalah "Ma..."
Nyonya Rengganis ikut menurunkan majalah yang ia baca, lantas menatap menantunya "Ada apa?"
"Mama pernah memasak?" tanya Aliya
__ADS_1
"Tidak, 'kan sudah ada Bik Inem, jadi untuk apa memasak lagi? Memangnya kenapa?"
"Sepertinya Aliya ingin belajar masak Ma"
"Untuk?"
"Untuk Alex, agar dia semakin cinta padaku"
"Hahahaha... Sayang, hentikan leluconmu itu Nak. Oh Tuhan, perutku sampai sakit dibuatnya" Nyonya Rengganis tertawa terpingkal saat mendengar penuturan menantunya. Ya, ia tahu bahwa menantunya ini pasti tidak bisa memasak, karena selain ia adalah keturunan keluarga berada yang segala keperluannya sudah tercukupi, ia juga adalah seorang artis
"Mama..." Aliya mengerucutkan bibirnya kesal mendengar mertuanya yang tertawa mengejek
"Baiklah, baiklah, maafkan Mama. Jadi bagaimana, kau ingin belajar memasak? Ya sudah, ayo. Kebetulan sekali Bik Inem sedang memasak makan malam"
__ADS_1