
Nyonya Rengganis duduk santai di meja dapur yang menghadap pada tempat memasak. Di dalam sana, tepatnya di depan kompor, Aliya tampak telah mengenakan helm dan tutup panci sebagai tameng, karena saat ini ia tengah menggoreng ikan. Nyonya Rengganis yang melihat tingkah menantunya hanya terkikik geli sembari asik memakan camilannya. Ia sudah menduga ini sebelumnya, bahwa menonton atraksi menantunya akan lebih menyenangkan di banding membaca majalah. Maka dari itulah, tadi ia begitu semangat mengajak menantunya ke dapur
"Aa... Mama..." teriak Aliya
"Biar Bibik saja yang menggoreng Non, Non bisa mengerjakan yang lain kalau mau" tawar Bik Inem saat melihat majikannya menjerit sedari tadi
"Tidak Bik, aku pasti bisa, aww..."
Lagi lagi teriakan Aliya bergema karena minyak dalam penggorengan mengenai tangannya. Nyonya Rengganis hanya melirik sekilas, dan kembali menikmati camilannya. Ia bahkan mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dan memotret atraksi menantunya yang tengah mencak mencak karena tangannya terkena percikan minyak
"Ma, apa yang Mama lakukan?" terdengar suara Tuan Alan yang mendekat
"Papa..." sapa Nyonya Rengganis, ia kembali menyimpan ponselnya dan menawarkan camilan yang ia makan kepada suaminya
__ADS_1
"Apa yang Mama lakukan di... Aliya?" mata Tuan Alan terbelalak saat melihat Aliya yang masih berusaha menyelesaikan menggoreng ikan di dapur. Ia lantas melirik istrinya untuk meminta penjelasan
"Apa? Mama tidak mungkin tega menyuruh menantu Mama untuk memasak. Itu dia sendiri yang mau" bela Nyonya Rengganis
"Tapi kenapa Mama biarkan?"
"Sudahlah Pa, biarkan saja selagi itu kemauannya sendiri. Memangnya Papa tidak mau melihat atraksi terheboh abad ini? Lihatlah" Nyonya Rengganis menunjuk Aliya yang tengah berteriak sembari terus mencoba membalik ikan dalam penggorengan "Seru bukan?" tanya Nyonya Rengganis
"Iya, tapi kalau sampai putramu tahu, Mama bisa kena amukan" ucap Tuan Alan
"Yakin putramu tidak akan marah?" tanya Tuan Alan saat ekor matanya menangkap putranya yang berjalan mendekat
"Sangat, lagipula ini adalah permintaan Aliya sendiri, katanya dia ingin memanjakan suaminya dengan hasil masakannya sendiri"
__ADS_1
Alex yang sudah berada di belakang kedua orang tuanya, ikut memperhatikan apa yang kedua orang tunya lihat. Namun begitu matanya menangkap keberadaan sang istri di dapur sana. Dengan segera ia masuk ke dapur dan mematikan kompornya
"Apa yang kau lakukan?" tanya Alex di sela keterkejutannya
"Karaoke" sungut Aliya "Apa tidak lihat aku sedang menggoreng, minggir" Aliya menggeser tubuh suaminya, dan melihat hasil karyanya. Namun seketika matanya terbelalak saat melihat bentuk ikan di dalam wajan. Dimana dua ikan segar yang tadi ia masukkan dengan susah payah, malah berubah menjadi arang "Apa dia di kutuk jadi Malin Kundang ya?" monolog Aliya
"Sudahlah, kau memang tidak pintar memasak, dan aku juga tidak menuntutmu agar bisa memasak. Ayo, lebih baik aku obati tanganmu dulu" Alex menarik tangan Aliya untuk keluar dari dapur "Bik, tolong di lanjutkan ya" ucap Alex pada Bik Inem sebelum akhirnya ia benar benar keluar dari dapur
Alex membawa Aliya duduk di kursi ruang keluarga. Ia lantas mengambil kotak obat, dan langsung mengoleskan salep di tangan Aliya yang terkena percikan minyak. Aliya yang di perlakukan demikian merasa begitu bahagia. Ya, hanya hal kecil yang bahkan tidak begitu berarti akan menjadi sangat berarti saat di lakukan oleh orang yang kita sayang
"Apa masih sakit?" tanya Alex sembari meniup pelan tangan Aliya yang masih berada dalam genggamannya "Al, apa ini masih sakit?"
"Aw iya, ini sakit sekali"
__ADS_1
Aliya meringis dan melebih lebihkan dengan mimik wajah yang begitu meyakinkan. Membuat Alex yang melihatnya menjadi begitu khawatir, sebab ia melihat Aliya begitu amat kesakitan. Sedangkan Aliya, ia tersenyum senang dalam hatinya karena ia bisa mengerjai suaminya. Beruntung saat ia menjadi artis dulu, ia beberapa kali ikut bermain peran, sehingga ia bisa menguasai berbagai mimik wajah, dan itu tampak begitu meyakinkan