
Aliya menarik Alex dengan kuat untuk kembali ke penginapan mereka. Begitu tiba di kamar penginapan, Aliya mengunci pintu dan langsung menghadap Alex dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan hembusan napas keduanya juga terdengar bersahutan
"Al, apakah harus sekarang?" tanya Alex gugup, walau bagaimana 'pun ini adalah pengalaman pertama untuknya, dan ia merasa sangat gugup
"Apakah kau kuat menahan godaan untuk mendiamkanku?" goda Aliya sembari menurunkan satu tali dress-nya, hingga bahu putihnya ter-expose sempurna
Alex meneguk ludah kasar begitu melihat Aliya yang benar benar membuat tubuhnya panas dingin. Dengan memberanikan diri, ia mengangkat tangannya, dan meraih wajah Aliya. Ia mulai melancarkan aksinya untuk menyentuh istrinya.
"I want you" bisik Alex
"I am yours"
Mendengar jawaban istrinya. Tanpa pikir panjang lagi, Alex memulai segalanya. Segala hal yang memang sudah seharusnya terjadi sejak awal pernikahan mereka. Ia sudah tidak lagi memikirkan akan dirinya yang mungkin akan kecewa, sebab ia juga tahu bagaimana pergaulan Aliya selama menjadi publik figur. Namun ia sudah menanamkan keyakinan dalam hatinya bahwa ia akan belajar untuk menerima segalanya dengan ikhlas. Sore itu, jingganya langit menjadi saksi berpadunya dua insan itu untuk saling memiliki
*
Bram dan Afifa telah berada di ruangan Dokter Zonya, anak dari Dokter Ardan, yang merupakan sahabat Ayah Daffa. Afifa di arahkan untuk berbaring di brankar, sedangkan Bram, calon ayah itu duduk di kursi yang tersedia sembari menggenggam tangan istrinya
"Kita langsung peruksa ya Fa" ucap Dokter Zonya
"Iya Kak"
Dokter Zonya mengoleskan gel khusus pada permukaan perut Afifa. Setelah itu ia menempelkan transducer pada perut Afifa, dan menggerakannya secara perlahan "Kantung janinnya sudah terlihat" tunjuk Dokter Zonya pada layar monitor "Perkiraan usianya sudah dua minggu. Janinnya juga sehat dan keadaannya sangat baik" tutur Dokter Zonya
__ADS_1
"Dok..." panggil Bram, membuat Afifa dan Dokter Zonya menatapnya bersamaan "Yang mana bayiku?"
"Yang ini, kau bisa lihat titik hitam ini?" tunjuk Dokter Zonya
"Titik hitam? Tapi semua layarnya terlihat hitam Dok, lalu yang mana?" tanya Bram lagi, ia bahkan sampai menajamkan penglihatannya karena yang ia lihat, layar monitor itu semuanya berwarna hitam
"Ini, kau lihat yang ini" tunjuk Dokter Zonya berusaha sabar
"Itu? Yang seperti kacang itu?" tanya Bram memastikan
"Ahh iya, di penglihatanmu seperti kacang rupanya. Jadi biar aku jelaskan. Yang kau lihat seperti kacang itu adalah janin yang baru tumbuh. Nantinya, janin itu akan bertambah besar seiring dengan pertumbuhannya di dalam perut istrimu. Saat usia kehamilan sudah tiga bulan, kita bisa melihat kacang itu sudah berbentuk bayi" jelas Dokter Zonya "Lalu, ada yang ingin di tanyakan lagi?
"Apakah bayinya kembar Dok?" tanya Bram
"Iya, Dokter pasti tahu kalau istriku terlahir kembar, lalu apakah anak kami juga kembar?"
"Tidak, kantung janinnya hanya ada satu"
"Oh, baiklah"
Afifa mengusap wajah suaminya dengan tersenyum lembut "Kau ingin anak kembar ya?"
"Iya Sayang, agar cantik seperti kau dan Aliya" ujar Bram
__ADS_1
"Oh, jadi Aliya cantik?" tanya Afifa tak suka
"Iya, bukankah kalian kembar? Kalian tentu sama sama cantik" ujar Bram, ia seakan tak bisa membaca jika saat ini istrinya tengah cemburu
"Ya sudah, sana dengan Aliya saja kalau begitu. Berani beraninya memuji wanita lain di hadapanku" gerutu Afifa
"Tidak Sayang, dengarkan aku" Bram menggenggam tangan istrinya "Kau dan Aliya adalah kembar identik, wajah kalian sama, kalian sama sama cantik. Tapi satu yang perlu kau tahu, bahwa hanya kau yang menempati tempat istimewa di hatiku. Aku hanya mencintaimu istriku"
"Benar?"
"Iya"
"Ya sudah, cium aku kalau begitu"
"Ha?" Bram melotot bingung mendengar permintaan istrinya. Namun tak urung, ia mendekatkan diri dan mencium wajah istrinya bertubi tubi
"Ish, kalian ini bermesraan tidak tahu tempat sekali. Sudahlah, pemeriksaannya selesai, dan silahkan pulang" usir Dokter Zonya, karena kini jiwa jomblonya meronta ronta saat menyaksikan keromantisan pasangan di hadapannya ini
"Kak Zonya, Kakak mengusirku? Tega sekali, Huaaaa...." ucap Afifa di iringi air matanya yang mulai menetes
"Eh?"
Huh
__ADS_1
"Dasar ibu hamil dengan segala hormonnya"