Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 68


__ADS_3

Begitu selesai memetik sayuran. Aliya, Afifa dan Bunda Sekar langsung kembali ke dapur, dan membuat masakan untuk makan siang. Tiga wanita keturunan Dirgantara itu tampak berbincang santai, lalu sesekali tertawa sembari terus melanjutkan pekerjaan mereka. Begitu selesai, Afifa langsung kembali ke ruang keluarga untuk mengajak Ayah, suami dan Kakak Iparnya makan siang


"Yah, makan siang sudah siap" ucap Afifa sembari berjalan mendekat


"Baiklah, ayo makan siang dulu" ajak Tuan Daffa pada dua menantunya. Bram dan Alex langsung bangkit hendak ikut ke dapur, tapi tiba tiba Afifa menghadang langkah suaminya, dan akhirnya hanya Tuan Daffa dan Alex yang menuju dapur lebih dulu


"Ada apa Sayang?" tanya Bram


"Kau tidak mungkin makan lagi 'kan?" tanya Afifa memicing


"Kenapa tidak? Aku menghargai usaha kalian untuk membuatkan makanan dengan cara memakannya"


"Tapi tadi kau makan banyak sekali, memang masih muat?" tangan Afifa bergerak mengusap perut suaminya yang membuncit "Ini saja masih besar begini" ucap Afifa


"Tapi masih lapar Honey, tidak apa apa ya aku makan"


"Tapi janji tidak akan sakit perut"

__ADS_1


"Kita lihat nanti, tapi aku rasa tidak akan. Sudahlah ayo ke dapur, nanti kita malah tidak kebagian makanan"ucap Bram sembari merangkul istrinya menuju ruang makan


"Ayo silahkan duduk" seru Bunda Sekar saat melihat anak dan menantunya datang. Sedangkan yang lain sudah siap di tempat masing masing "Nak Bram makan lagi 'kan?" tanya Bunda Sekar


"Iya Bun" jawab Bram tanpa sungkan


"Baiklah, ayo di makan"


Semua orang mulai mengambil makanan. Di mulai dari Bunda Sekar yang mengambilkan makan untuk Ayah Daffa. Aliya juga mengambilkan makan untuk Alex. Lalu, Afifa juga ikut mengambilkan makanan untuk suaminya


"Terus Sayang, satu sendok lagi" titah Bram saat istrinya mengambilkan nasi untuknya dengan takaran biasa


"Tidak, tambah lagi saja satu sendok" pinta Bram, dan akhirnya di setujui oleh Afifa


Mereka semua makan dengan damai. Terlihat saling berbincang lalu tertawa bersama, mereka semua terlihat sangat bahagia. Sedangkan Bram, laki laki itu menyandarkan tubuhnya pada kursi meja makan, sebab karena terlalu banyak makan membuat matanya mengantuk, jadilah ia bersandar pada kursi meja makan dengan mata tertutup


"Fa, kenapa suamimu jadi suka makan? Sepertinya kemarin kemarin makannya masih normal" ucap Bunda Sekar. Ya, ini terlihat sedikit aneh, karena beberapa kali putri dan menantunya berkunjung, tapi menantunya tidak akan makan dengan jumlah banyak seperti itu. Tapi hari ini, menantunya justru makan dengan porsi berkali kali lipat

__ADS_1


"Tidak tahu Bun, ini aku juga bingung" jawab Afifa


"Lagi masa pertumbuhan paling Bun" ucap Alex mengejek adik sepupunya


"Iya Bun, nanti tahu tahu dia jadi gendut seperti kata Bara" timpal Aliya


"Ingat, tidak boleh body shaming" timpal Bara dari arah belakang. Ya, laki laki itu sudah pulang dari mainnya, dan langsung mendapati jika Kakak pertamanya menggunjing dirinya "Kakak ini tadi bilangnya tidak boleh body shaming, tapi Kakak sendiri justru body shaming" gerutu Bara


"Hus, sudahlah, jangan ribut terus" ucap Bunda Sekar


Bunda Sekar dan yang lain langsung keluar dari ruang makan bwgitu menyelesaikan makannya. Menyisakan Bram dan Afifa di sana. Afifa mengusap rambut suaminya dengan penuh kasih sayang. Ia lalu mengecup singkat pipi suaminya, membuat suaminya terganggu


"Ayo bangun" bisik Afifa


"Sebentar Sayang, aku mengantuk"


"Kita ke kamar saja ya. Kau bisa tidur nyenyak nanti"

__ADS_1


"Baiklah" meski malas, tapi Bram mengikuti ajakan Afifa dengan mata yang sesekali terpejam menahan kantuk


__ADS_2