Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 108


__ADS_3

"Al, Fa, kalian sudah sampai Nak" Tante Daffina memeluk keponakannya satu persatu "bagaimana perjalanan kalian, lancar 'kan?"


"Lancar Tan"


"Syukurlah" Tante Daffina melirik dua menantunya yang berada di belakang dua keponakannya "Nan, tulung usung koperni kughuk (Bik, tolong bawa kopernya masuk)" pinta Tante Daffina pada seseorang yang bekerja di rumahnya. Setelah itu, ia berjalan mendekat pada dua menantunya, dan memeluk keduanya "Bagaimana kabar kalian sehat 'kan?" tanya Tante Daffina


"Sehat Tan"


"Alhamdulillah, ayo masuk" Tante Daffina menggandeng dua keponakannya untuk masuk dan membawanya duduk di ruang tengah


Begitu memasuki ruang tengah. Mata Bram dan Alex tidak hentinya memindai seisi ruangan yang benar benar indah itu. Ya, indah, karena di sana terdapat berbagai macam senjata tradisional, dan piagam serta trofi yang berjejer layaknya sebuah museum.


"Al, kalian sudah sampai" sapa Om Gavin yang berangsur memasuki ruang tengah


"Iya Om, Om apa kabar?"


"Om baik, bagaimana dengan kalian?"


"Kami juga baik Om"


"Alhamdulillah" Om Gavin ikut duduk bersama keponakan dan menantunya "Bagaimana rasanya berada di Lampung?" tanya Om Gavin pada dua menantunya


"Seru Om, pemandangan disini masih cukup asri dan sejuk" jawab Bram "Iya 'kan Bro?" tanya Bram pada Alex


"Iya Om" timpal Alex

__ADS_1


"Syukurlah kalau kalian suka"


Cintamu itu hoax


sayangmu itu hoax


kini kau terciduk


sama cewek saling peluk


Alex dan Bram saling lirik saat mendengar senandungan kecil yang masuk ke indra pendengaran mereka. Om Gavin yang menyadari kebingungan diwajah kedua menantunya ikut tersenyum tipis "Itu Sabila" ucap Om Gavin memberitahu. Tidak lama Sabila benar benar muncul dari pintu samping rumah, dan ikut bergabung bersama mereka di ruang tengah.


"Hai Kak, kalian sudah sampai ternyata" sapa Sabila sembari duduk bersama dua sepupunya "Kak Al, bagaimana suaraku, bagus bukan? Aku rencananya ingin menjadi artis, dan sekarang sedang ikut ajang pencarian bakat" ucap Sabila


"Oh ya?"


"Sebenarnya suaramu itu bagus" ucap Aliya, membuat senyum terbit disudut bibir Sabila "Tapi lebih bagus lagi kalau kau diam"


"What? Kak Al, kau itu jahat sekali. Sejak saat itu senyumku tak lagi setulus dulu" ucap Sabila dramatis


"Kenapa? Bukankah aku harus berkata jujur? Aku sedang jujur sekarang" ucap Aliya


"Ma... lihatlah Kak Al menghinaku" adu Sabila


"Mama juga 'kan sudah bilang bahwa suaramu terlalu pas pasan untuk ikut audisi, sudahlah tidak perlu jadi penyanyi ya" bujuk Tante Daffina

__ADS_1


"But being a singer is my dream Ma"


"Ya sudah, kalau begitu latihan saja terus sampai suaramu matang dan siap untuk menjadi artis" usul Aliya


"Tapi kapan?"


"Sampai waktunya tiba"


"Ish, lama sekali, bisa bisa aku keburu nikah muda kalau begini" gerutu Sabila


"Sudah sudah. Bil, tolong antar Kakak Kakakmu ke kamar mereka ya" ucap Tante Daffina


"Di lantai atas?"


"Di bawah saja"


"Ish, kenapa tidak diatas biar dekat dengan aku dan Dongah Aaron" bantah Sabila


"Kau tidak lihat kedua Kakakmu tengah hamil, jadi jangan mengada ada untuk membawa mereka ke lantai atas. Sekarang antar mereka ke kamar mereka" ucap Tante Daffina tegas


"Iya iya, ish punya Mama kandung serasa punya Mama tiri. Aku hanya bicara satu, dia justru berbicara panjang lebar" gerutu Sabila


"Apa katamu?"


"Tidak, Mama cantik"

__ADS_1


"Bagus, sekarang antar Kakakmu"


__ADS_2