
Aliya, Afifa dan Bunda Sekar sudah keluar dari ruangan Dokter Zonya setelah melakukan berbagai pemeriksaan. Mereka kini telah duduk di dalam mobil, dan siap untuk kembali pulang. Namun ternyata di perjalanan pulang, Aliya melihat penjual ketoprak di pinggir jalan, yang entah mengapa membuatnya merasa sangat menginginkan makanan tersebut
"Mang, kita berhenti di depan sebentar ya" pinta Aliya
"Baik Non"
Bunda Sekar melirik putrinya dengan kening berkerut "Mau apa Kak? Mau beli sesuatu?"
"Iya Bun, lagi pengen ketoprak"
"What?" Afifa tampak terkejut mendengar ucapan Aliya. Bagaimana bisa Aliya menginginkan ketoprak yang di jual di pinggir jalan seperti itu. Padahal menurut Afifa dagangan di pinggir jalan itu sangat tidak sehat
"Kau kenapa terkejut begitu?" tanya Aliya
"Kau yakin ingin membeli ketoprak itu Al" tunjuk Afifa pada geroba ketoprak yang terlihat ramai, yang pastinya tidak higienis menurutnya
"Kenapa memangnya?"
__ADS_1
"Itu tidak sehat untuk perutmu Al, kau bisa sakit"
Aliya, Bunda Sekar, dan Mang Cecep saling pandang dengan helaan napas kasar. Inilah kekurangan Afifa, wanita itu tidak pernah mau makan di pinggir jalan karena berpikiran bahwa makanan makanan di pinggir jalan itu tidak sehat. Padahal tidak semua makanan pinggir jalan seperti itu
"Ish sudahlah, kau tidak akan mengerti" sungut Aliya, ia lantas keluar dari mobil meninggalkan yang lain
"Al, mau Bunda temani?" tanya Bunda Sekar
"Tidak Bun, biar aku saja"
Aliya menuju gerobak ketoprak di pinggir jalan dengan hati hati. Begitu tiba di kerumunan orang orang yang mengantre, Aliya celingukan bagaimana cara menerobos antrean tersebut. Lalu kemudian, ia mulai berbicara dengan para pengantre satu persatu agar mengizinkannya mendapat bagian lebih dulu dengan alasan kehamilannya, dan bersyukurnya semua orang yang mengantre benar benar memberinya izin untuk memesan lebih dulu. Hanya tinggal satu orang lagi yang belum Aliya ajak bernegosiasi. Ia menepuk bahu laki laki yang masih menunggu pesanannya tersebut, begitu laki laki itu berbalik, Aliya terdiam di tempatnya, karena ternyata laki laki itu adalah Alex, suaminya
"Maaf Mas, pesanannya" ujar penjual ketoprak membuat Alex tersadar
"Kau mau ketoprak juga?" tanya Alex pada Aliya setelah menerima pesanannya
"Mas, ketoprak komplit satu, yang pedas" ucap Aliya pada penjual ketoprak tanpa mempedulikan Alex
__ADS_1
"Al, ini ambil saja punyaku, aku juga memesan sama persis dengan pesananmu" ucap Alex
"Aku tidak butuh"
"Al..." hati Alex terasa tercubit dan terasa nyeri karena tawarannya di tolak oleh Aliya. Padahal, biasanya Aliya justru akan bermanja dan meminta makanan miliknya saat mereka makan berdua. Jujur Alex jadi merindukan sifat Aliya yang agresif padanya
"Mba, pesanannya" ujar penjual tadi setelah menyelesaikan pesanan Aliya
"Oh iya, terima kasih Mas" Aliya mengambil pesanannya dan mengeluarkan dompet, tapi tampaknya ia sedang tidak beruntung sekarang karena di dalam dompetnya tidak ada uang kecil. Melihat itu, Alex dengan segera menyerahkan uang kembaliannya pada penjual ketoprak untuk membayar pesanan Aliya
"Pakai uangku saja Mas" ucap Alex
"Tidak, pakai uang ini saja" Aliya menyodorkan uang seratus ribu pada penjual ketoprak
"Waduh, tidak ada kembalian Mba" ucap penjual ketoprak
"Tidak apa apa Al, pakai ini saja" saran Alex
__ADS_1
"Tidak" jawab Aliya cepat, kemudian tatapannya ia arahkan kembali pada penjual ketoprak "Kembaliannya buat Mas saja, terima kasih" Aliya meletakkan uang tersebut di gerobak tanpa mendengar penolakan yang dilontarkan penjual ketoprak tadi
Sedangkan Alex, ia segera mengejar Aliya yang sudah mulai menjauh. Namun sayang sekali ia harus menghentikan langkah, karena Aliya sudah terlanjur masuk ke dalam mobil yang Alex tahu milik keluarga Dirgantara. Setelah itu, mobil tersebut langsung melaju dan pergi