Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 64


__ADS_3

Pagi ini, Afifa telah berada di dapur, dan fokus pada apa yang ia kerjakan. Hingga tiba tiba tangan kekar memeluk perutnya dengan begitu mesra. Bukan hanya memeluk, tangan itu juga mengusap usap permukaan perut Afifa, membuatnya merasa geli


"Bram, jangan mengganggu"


"Tidak, hanya mengusap saja" ucap Bram masih terus dengan aksinya "Kau membuat apa?" tanya Bram sembari memperhatikan tangan Afifa yang terus mengadon tepung dan bahan lainnya


"Aku membuat kue, kau harus mencobanya nanti"


"Membuat kue?" Bram melepas belitan tangannya pada perut istrinya, dan berpindah menjadi berdiri di samping sang istri "Aku tidak pernah melihat kau membuat kue sebelumnya"


"Ini memang pertama kalinya aku membuat kue, dan kau sebagai suamiku tercinta harus menjadi yang pertama mencicipinya" jawab Afifa


"Jadi, aku jadi bahan percobaan?"


"Begitulah kira kira"


"Nakal ya sekarang" Bram mengambil sisa tepung yang tersedia lalu mengoleskannya pada pipi istrinya


"Bram..." Afifa mendelik kesal saat Bram mengotori wajahnya

__ADS_1


"Apa? Kenapa? Mau marah?" Bram kembali mengolekan tepung di wajah Afifa seiring dengan ucapannya, membuat Afifa kesal dan ikut membalas perbuatan suaminya. Hingga terjadilah perkelahian tepung diantara mereka berdua. Suara derap kaki yang saling berkejaran, dan tawa yang bersahutan membuat rumah sederhana itu terasa begitu hidup. Ya, Afifa dan Bram selalu memiliki cara mereka sendiri untuk membuat rumah mereka terasa hidup dan nyaman


"Bram stop, aku lelah"


"Iya sama" ucap Bram menimpali


"Ish lagipula, sudah tahu sudah tua malah kejar kejaran dengan anak muda" ejek Afifa


"Mulai nakal ya sekarang. Ingat, kita ini seumuran, Sayang" ucap Bram tak terima


"Tapi pada kenyataannya kau yang lebih tua"


"Hanya lebih tua dua tahun Sayang, dan itu bukan jadi masalah"


Bram mengikuti langkah istrinya yang kini tengah duduk di kursi. Ia melirik sekeliling, dan tidak mendapati kursi lain di sana. Dengan tanpa dosanya, Bram mengangkat tubuh sang istri, dan menggendongnya. Setelah itu, ia duduk di kursi yang tadi di duduki sang istri, dan membawa istrinya ke pangkuan. Membuat Afifa melilitkan tangannya di leher sang suami, dan bersandar dengan nyaman di tubuh suaminya


"Sayang, kita bulan madu ya" pinta Bram entah untuk ke-berapa kalinya


"Tidak, kita di rumah saja ya. Aku malas bertemu orang lain"

__ADS_1


"Baiklah"


"Bram, kau tidak marah 'kan?" tanya Afifa takut


"Tidak, lagipula kita masih bisa berdua di rumah 'kan? Jadi tidak masalah"


"Terima kasih atas pengertianmu" ucap Afifa tulus


"Segalanya untukmu, Sayang. I love you"


"I love you too"


Afifa tersenyum bahagia. Ya, selama pernikahan mereka, Bram tidak pernah memaksanya melakukan appun yang tidak ia suka. Justru, Bram yang selalu mengalah dengan segala permintaannya. Seperti bulan madu ini, Bram sudah mengajaknya berbulan madu sejak awal mereka menikah, tapi Afifa selalu menolak karena ia sangat tidak menyukai keramaian


Ting


Afifa melirik oven pemanggang yang sudah berbunyi pertanda kue buatannya telah matang "Sebentar, aku mengangkat kuenya dulu" ucap Afifa


"Baiklah"

__ADS_1


Bram memperhatikan istrinya yng begitu cekatan mengeluarkan kue dari dalam oven. Ia tersenyum senang, karena istrinya benar benar mampu memanjakannya dengan hasil masakannya sendiri. Ya, selama pernikahan mereka, Afifa tidak pernah mengizinnkan Bram untuk membeli makanan di luar, karena ia akan memasak sendiri untuk suaminya, dan di setiap masakan yang di buat istrinya selalu tidak pernah gagal.


Ia juga tidak mempermasalahkan jika istrinya tidak mau ia ajak bulan madu. Karena baginya, menghabiskan waktu berdua di rumah saja juga tidak buruk. Lagipula, niat mengajak bulan madu itu tercipta karena ia ingin melihat istrinya bahagia, tapi jika ternyata istrinya justru tidak nyaman dengan usulannya, maka tidak masalah.


__ADS_2