Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 109


__ADS_3

Sebuah kamar berukuran tidak begitu luas. Dengan dipan besi yang juga tidak begitu lebar menjadi isi utama dari kamar yang akan Bram dan Afifa tempati. Di samping tempat tidur terdapat sebuah jendela kecil yang mungkin hanya berfungsi untuk membantu pertukaran udara saja. Lalu di sudut lainnya, terdapat sebuah lemari berkuran sedang yang di pintunya terdapat kaca berukuran cukup besar. Ya, ini benar benar kamar nuansa tradisional khas perdesaan, dan jujur Afifa sangat menyukai ini


"Kamarnya bagus, ini seperti kamar impianku" ucap Afifa


"Iya, kamarnya nyaman"


Afifa duduk diatas ranjang. Sedangkan Bram, memilih mendekati jendela kecil tersebut, dan melihat halaman belakang kediaman Bumantara yang terlihat sangat rindang. Tentu saja, sebab Tante Daffina sangat menyukai berbagai jenis buah, dan ia memilih menanam sendiri buah buahan segar untuk ia dan keluarganya konsumsi


"Jadi, keluargamu memang ada keturunan kembar ya?" tanya Bram


"Bisa iya bisa tidak" jawab Afifa


"Kenapa begitu?" Bram mendekat dan duduk bersama istrinya di ranjang. Begitu Bram duduk, ranjang yang ia tempati berbunyi membuat Bram dan Afifa saling pandang "Sepertinya tidak aman untuk pengantin baru seperti kita" ujar Bram terkekeh, membuat Afifa ikut tersenyum "Jadi kenapa kau bilang bisa iya dan bisa tidak?" tanya Bram, teringat akan jawaban Afifa tadi


"Ya sebenarnya, Nenek dan Kakekku tidak ada keturunan kembar, tapi mungkin memang sebuah keajaiban, dan akhirnya Nenek bisa melahirkan anak kembar, yaitu Ayah dan Tante Daffina" jelas Afifa


"Oh... tapi kenapa kau tidak hamil kembar juga ya, padahal aku juga ingin merasakan memiliki anak kembar" ujar Bram

__ADS_1


"Kenapa kau ingin sekali?"


"Tidak tahu, tapi aku rasa akan seru saja kalau kita punya anak kembar. Rumah kita pasti akan ramai"


"Aku juga ingin rumah kita ramai karena anak anak, dan aku ingin ikut program hamil setiap dua tahun sekali, bagaimana menurutmu?" tanya Afifa


"Dua tahun sekali? Sayang, itu terlalu beresiko, aku tidak setuju" tolak Bram


"Kenapa?"


"Aku tidak ingin kau kelelahan mengurus anak anak kita nanti"


"Iya, aku pasti akan selalu menemanimu sampai kapanpun, tapi memiliki anak dalam waktu yang terlalu dekat cukup beresiko Sayang. Bagaimana kalau kita memiliki anak setiap lima tahun sekali saja?" tawar Bram


"Apa kau tidak apa apa?" tanya Afifa membuat Bram mengernyit bingung


"Aku tidak apa apa, memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Aku hanya ingin mengabulkan keinginanmu untuk memiliki banyak anak, dan aku ingin mengobati rasa kesepianmu karena selama ini hidup seorang diri tanpa ada saudara, tapi kalau kau justru ingin kita memberi jarak lima tahun untuk anak anak kita, maka aku akan menurut"


Bram tersenyum teduh, ia memeluk istrinya dengan erat, dan membenamkan kecupan di puncak kepala sang istri "Terima kasih telah mengerti aku, aku mencintaimu"


"Aku juga mencintaimu"


*


Tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di kamar Bram dan Afifa. di kamar Alex dan Aliya, keduanya juga tengah mengagumi keindahan kamar milik keluarga Bumantara ini, tepatnya Alex yang mengagumi, karena Aliya memang sudah sangat sering mengunjungi rumah besar ini


"Al, apa kakimu lelah? Kau butuh aku pijat tidak?" tanya Alex


Aliya mendengus kesal mendengar pertanyaan Alex "Tidak perlu, aku baik baik saja"


"Kau yakin?"


"Hm"

__ADS_1


"Baiklah" ucap Alex akhirnya


Aliya yang mendengar gumaman Alex yang hanya sekedar berbasa basi, membuat ia kembali memasang wajah masam. Tidak tahukah Alex jika seharusnya laki laki itu tidak perlu bertanya, tapi langsung berinisiatif untuk melakukan. Karena seorang wanita sangat tidak suka dengan pertanyaan


__ADS_2