
Hari terus berganti. Setiap hari, ada saja yang Aliya inginkan, dan menuntut Alex untuk mengabulkannya dengan dalih bahwa itu semua adalah keinginan anak mereka. Alex tentu saja tidak keberatan, karena baginya, segala keinginan anak dan istrinya adalah yang paking utama, meskipun untuk mengabulkan itu ia harus mengorbankan segalanya. Termasuk, waktu berharganya untuk mendapatkan tender bernilai milyaran rupiah
Seperti hari ini, Alex barusaja mendapat telepon dari Aliya bahwa wanita itu menginginkan makanan khas Lampung dengan sambal pedas, dan meminta Alex untuk menemaninya mencari makanan tersebut. Alex yang semula akan menuju ruang meeting, seketika meminta agar meeting-nya di batalkan dan meminta untuk meeting lain waktu saja. Namun ternyata pihak klien tidak menyetujui itu, dan mengancam akan memutus kontrak kerja sama mereka jika hari ini meeting tidak dilaksanakan. Namun Alex tidak begitu memikirkan, sebab yang menjadi prioritasnya saat ini adalah anak anaknya, dan sekarang mereka tengah membutuhkan dirinya
"Maaf Tuan, dengan berat hati, saya memutuskan untuk tetap menemui istri saya" putus Alex, dan langsung meninggalkan perusahaan begitu saja menuju rumah besar Dirgantara. Tidak sampai sepuluh menit, mobil yang membawa Alex akhirnya tiba didepan kediaman Dirgantara. Laki laki itu segera masuk kedalam untuk menemui istrinya
"Bro, bukankah kau..." ucapan Bram tertahan saat melihat tatapan mata Alex yang menatapnya tajam. Ya, ia mengetahui jika hari ini Alex akan ada pertemuan penting dengan klien, tapi kenapa Alex justru berada di sini sekarang
"Dimana istriku?" tanya Alex
"Masih di kamar" jawab Bram
Alex melihat sekitar ruang keluarga dimana ia dan Bram berada. Ia tidak mendapati siapapun di sana. Baik kedua mertuanya ataupun adik iparnya
__ADS_1
"Bara sedang di kantor, Ayah dan Bunda juga sedang tidak di rumah" ucap Bram, saat menyadari tatapan Alex yang seperti mencari sesuatu
"Lalu sedang apa kau di sini?" tanya Alex
"Aku ingin menemui istriku, tapi dia justru sedang membantu istrimu bersiap. Memang kalian akan ke mana?" tanya Bram
"Aliya mengajakku pergi mencari makan" jawab Alex santai
"Dan itu adalah alasanmu meninggalkan perusahaan dan tender yang kau nanti nantikan itu?"
"Lalu tender miliaran-mu?"
"Akan ada rezeki lain yang dibawa anak dan istriku nantinya, dan aku percaya itu"
__ADS_1
Bram mengangguk membenarkan. Ia juga berpikiran hal yang sama dengan Alex, bahwa anak dan istrinya pasti membawa rezeki lain yang akan didapatkan melalui kerja kerasnya. Maka dari itulah, ia selalu menuruti keinginan istrinya. Namun yang membedakan antara dirinya dan Alex adalah, ia datang kemari tanpa meninggalkan sesuatu yang penting apapun, tapi Alex, laki laki itu meninggalkan tender miliaran demi untuk memenuhi keinginan istrinya
"Lalu, apa ini artinya kau sudah mencintai istrimu?" tanya Bram
"Belum, tapi aku sedang mengusahakan untuk tidak lagi membuatnya kecewa"
"Semangat Bro" Bram menepuk pundak sepupunya beberapa kali, seolah mewakili ucapan semangat yang ia utarakan
Bram dan Alex terlibat obrolan ringan sembari menunggu istri mereka turun. Mereka membicarakan banyak hal. Tidak lama, akhirnya Aliya dan Afifa terlihat turun bersamaan dari lantai atas
"Al..." Alex bangkit dari duduknya dan menyambut kedatangan istrinya
"Kau sudah datang rupanya?"
__ADS_1
"Iya, bagaimana, apa kita pergi sekarang?"
"Ayo"