
Alex memilih menunggu di rumah makan yang dekat dengan bandara. Ia melirik jam di pergelangan tangannya yang baru menunjukkan pukul lima sore. Sedangkan saat ia bertanya kepada petugas bandara tadi, mereka mengatakan penerbangan malam baru akan ada sekitar jam sebelas nanti malam
"Al, tunggu aku. Aku harap aku bisa menemukanmu" Batin Alex
Ya, Alex akan secepatnya menemukan istrinya dan membawanya kembali. Karena ia tidak rela jika anaknya melalui masa perkembangan tanpa dirinya. Ia tidak rela jika harus terpisah dari anaknya. Berbicara mengenai anak, Alex teringat dengan wanita gila yang mendatangi kediamannya kemarin malam, sekaligus menjadi awal kehancuran rumah tangganya. Ia sangat yakin bahwa ia tidak mengenal wanita itu, tapi yang menjadi pertanyaannya apa tujuan wanita itu mengaku ngaku hamil anaknya?
Waktu seakan enggan untuk berlalu. Bahkan, Alex telah menunggu dengan begitu sabar di rumah makan ini, tapi jam masih belum menunjukkan angka yang ia harapkan. Di meja Alex, sudah banyak sekali makanan dan minuman yang ia pesan agar ia bisa tetap berada di rumah makan ini dengan waktu yang lama. Karena tadi, saat ia menghabiskan minum yang ia pesan pertama, petugas rumah makan ini memintanya pergi karena banyak pembeli lain yang tidak kebagian tempat duduk. Namun bukannya pergi, Alex justru memesan menu dengan jumlah yang banyak agar ia tidak di usir lagi
Sebenarnya hal yang mudah untuk Alex mencari penginapan, hotel atau semacamnya. Tapi jika ia menyewa penginapan, ia takut dirinya malah tertidur, dan ketinggalan pesawat. Jadilah ia merelakan uangnya untuk membayar makanan yang tidak ia inginkan itu
Alex menunggu dengan begitu sabar. Begitu jam menunjukkan pukul sebelas malam, ia segera berlari menuju bandara, dan langsung melakukan segala prosedur penerbangan. Di sinilah Alex berada saat ini, ia telah berada di pesawat yang akan membawanya kembali ke Jakarta
*
__ADS_1
Alex melangkah keluar dari bandara, dan mencari taksi untuk ia tumpangi menuju kediaman Dirgantara. Tidak begitu lama, akhirnya ada taksi yang melintas. Alex segera menyetop, dan meminta untuk di antar menuju tujuannya. Begitu tiba di kediaman Dirgantara, ia segera mengetuk pintu, dan di buka secara langsung oleh Aksa. Nampaknya, Aksa sudah menduga akan kedatangannya
"Ada apa kau kemari?" tanya Aksa, padahal ia sudah tahu jika tujuan Alex pasti untuk mencari Aliya
"Aku ingin menemui istriku. Aku ingin menjelaskan semuanya, karena ini hanya salah paham" jelas Alex
"Tapi Aliya sudah berpesan untuk tidak menerima tamu yang bernama Alexander. Namamu Alexander bukan? Maka dari itu pergilah, karena kau tidak diterima" Aksa melirik satpam rumah yang berjaga, ia melambaikan tangannya dan meminta satpam tersebut untuk mendekat
"Bawa dia pergi, dan jangan izinkan dia menginjakkan kaki di rumah ini lagi" ucap Aksa yang membuat satpam tampak kebingungan, sebab yang ia tahu, laki laki yang di usir Aksa ini adalah menantu keluarga Dirgantara, lalu kenapa ia diminta untuk mengusirnya "Sekarang Pak" ucap Aksa saat satpam tersebut hanya diam
"Baik Tuan"
"Tidak, kau tidak ada hak untuk mengusirku" ucap Alex "Al, Aliya keluarlah. Kau hanya salah paham Al, tolong dengarkan penjelasanku dulu" teriak Alex
__ADS_1
"Keras kepala"
Aksa langsung menggulung lengan kemejanya dan menghantamkan tinjunya di wajah Alex. Alex yang mendapat pukulan, bukannya berhenti dan pergi, ia malah mengusap sudut bibirnya, lalu menegakkan tubuhnya kembali
"Pukul aku sampai kau puas. Tapi setelah itu izinkan aku untuk menemui istriku"
Bugh
Aksa benar benar mengabulkan permintaan Alex. Ia memukul wajah Alex bertubi tubi, dan Alex sama sekali tidak memberikan perlawanan sedikit 'pun "Melawan bodoh, atau kau akan mati"
"Sesuai perjanjian, lakukan sesukamu asal aku bisa bertemu dengan istriku" ucap Alex menahan sakit
"Dan itu tidak akan terjadi" Aksa kembali melayangkan tinjunya dan menghajar Alex berkali kali sampai membuat Alex terkapar begitu saja "Pergi sebelum aku benar benar menghabisimu!"
__ADS_1