
Setelah Afifa mulai tenang. Mereka di giring menuju Balai Desa, dimana para warga yang lain sudah menunggu. Sorakan demi sorakan mulai terdengar saat Bram dan Afifa melintas di depan mereka
"Oh, pantas saja mereka berani melakukannya di sini. Ternyata benar ya gosip gosip yang beredar, bahwa Aliya itu simpanan para pengusaha" ucap salah satu ibu ibu yang mengenal wajah Aliya
"Iya iya, aku tadinya tidak percaya, karena 'kan wajah artis itu kelihatannya wajah wanita baik baik. Aku tadinya malah berpikir kalau berita berita itu hanya settingan, tapi ternyata apa yang di beritakan itu benar. Malah mereka melakukannya di desa kita. Apa mereka tidak memiliki uang untuk menyewa hotel, sampai sampai harus mengotori desa kita ini" sahut ibu ibu lain
"Memang ada apa, siapa wanita itu tadi?" tanya yang lain
"Dia itu artis terkenal itu lo, masa kalian tidak tahu. ehh... tapi wajarlah kalau kalian tidak tahu, di rumah kalian 'kan tidak ada televisi"
Bisik bisik itu terus terdengar sampai Afifa dan Bram masuk ke Balai Desa. Setelah masuk, Pak Kades mempersilahkan keduanya untuk duduk berhadapan dengannya di ruangan khusus. Di samping Pak Kades terdapat Ibu Kades, dan beberapa Pejabat Desa lainnya.
__ADS_1
"Ada apa ini Pak?" tanya Bu Kades
"Tidak tahu Buk, coba Ibu saja yang tanya mereka" pinta Pak Kades
Ibu Kades duduk di samping Pak Kades, dan menatap Bram dan Afifa bergantian "Bisa kalian jelaskan ada apa ini?"
"Pak, Buk, kami tidak melakukan apapun" jawab Afifa
"baiklah Bu" Bram memulai ceritanya, ia menceritakan segalanya secara detail, tentang alasan mengapa ia dan Afifa bisa berada dalam satu kamar yang sama. Ia akui jika posisi antara ia dan Afifa tadi sudah cukup membuat kesalahpahaman warga menjadi lebih besar. Karena jika Bram yang melihat itu, mungkin ia juga akan berpikiran yang sama dengan para warga tadi, mengingat posisi mereka yang begitu intim "Tapi saya berani bersumpah Buk, saya dan teman saya tidak melakukan hal hal aneh, saya hanya mencoba menenangkan teman saya saja, karena dia phobia gelap, tidak lebih" ucap Bram di akhir kalimatnya
Ibu Kades dan Pak Kades saling pandang setelah mendengar cerita dari Bram. Mereka memahami penjelasan Bram dengan baik, dan mereka yakin jika Bram tidak berbohong. Hanya saja, mereka tidak bisa memutuskan sesuatu yang besar seperti ini secara sepihak. Terlebih aturan desa sudah di tetapkan, jika warga desa melihat atau mendengar hal hal yang tidak senonoh terjadi di lingkungan desa mereka, maka pasangan itu akan langsung di nikahkan begitu saja. Pandangan Ibu dan Pak Kades terarah pada beberapa pejabat desa yang lain, seolah meminta solusi
__ADS_1
"Kita tidak bisa membela mereka Pak, meskipun apa yang mereka katakan tadi mungkin saja benar, tapi kita tidak bisa menghadapi amukan warga jika kita melanggar aturan yang sudah di tetapkan" jawab salah satu pejabat desa yang ada
"Tapi Pak, kami tidak mungkin menikah" ucap Afifa
"Tidak ada cara lain Nak, aturan desa sudah kami berlakukan sejak satu bulan yang lalu dan kami tidak mungkin menyalahinya" sahut Ibu Kades
"Tapi Buk..."
"Sudah, sekarang kalian hubungi saja keluarga kalian, dan minta mereka kemari. Jika tidak, maka dengan berat hati, kami harus menikahkan kalian dengan wali hakim"
"Kami pasti akan menghubungi keluarga kami Pak, tapi mohon tunggu sampai pagi, kami tidak mungkin menghubungi keluarga kami di tengah malam seperti ini"
__ADS_1
Pak Kades, Bu Kades, serta para pejabat desa mengangguk bersamaan "Baiklah, malam ini kalian akan tidur di Balai Desa, dan besok pagi silahkan hubungi keluarga kalian, dan minta untuk langsung kemari" putus Pak Kades