
Bram langsung merebahkan dirinya di ranjang kamar sang istri. Kantuk yang menderanya benar benar tidak bisa di kondisikan lagi, membuatnya memejamkan mata, dan langsung tidur. Afifa mendekati suaminya, dan melabuhkan kecupan di pucuk kepala sang suami. Setelah memastikan suaminya terlelap, Afifa keluar dari kamar menuju ruang keluarga kembali, dimana Aliya dan Alex serta Ayah dan Bundanya berada
"Kalian jaga diri, hati hati di jalan" ucap Bunda Sekar pada anak dan menantunya
"Iya Bun"
"Lex, Ayah titip putri Ayah" ucap Tuan Daffa
"Pasti Yah, kalau begitu kami permisi"
"Iya, hati hati. Afifa dan Bram juga mungkin masih tidur siang, nanti Bunda sampaikan saja pada mereka kalau kalian sudah pulang" ucap Bunda Sekar
Afifa yang sedari tadi berada di ujung tangga, segera mempercepat langkahnya menuju ruang keluarga "Al... mau pulang?"
"Iya, sekaligus kami juga akan berangkat besok"
"Baiklah, hati hati" ucap Afifa sembari memeluk Aliya. Setelah itu, ia berbalik menatap Alex dan mengangguk singkat
Alex dan Aliya langsung pergi dari kediaman Dirgantara. Menyisakan Afifa dan kedua orang tuanya di ruang keluarga. Afifa ikut mendudukkan diri bersama kedua orang tuanya
"Bunda dan Ayah tidak tidur siang?" tanya Afifa
__ADS_1
"Ini baru mau ke kamar. Tadi suamimu benar benar tidur?" tanya Bunda Sekar
"Iya Bun"
"Aneh sekali, biasanya dia tidak pernah tidur siang" ujar Bunda Sekar, teringat akan menantunya yang beberapa kali berkunjung dan tidak pernah sekalipun tidur siang. Justru, biasanya waktu tidur siang akan di gunakan menantunya untuk mengobrol bersama Ayah Daffa sembari bermain catur "Apa suamimu memang sering tidur siang sekarang?"
"Kadang iya kadang tidak. Tapi sekarang memang lebih sering tidur siang Bun"
"Hamil paling Kak" sahut Bara sembari duduk di samping Kakaknya
"Ish, seperti Jailangkung saja, dari tadi datang, pergi, sekarang datang lagi" ucap Afifa sewot "Lagipula mana mungkin suamiku hamil, ada ada saja"
"Iya, dulu Ayahmu yang selalu mengidam makanan ini dan itu" jawab Bunda Sekar membenarkan
"Nah, itu dia. Siapa tahu kejadiannya sama, Kak Bram itu mengalami ngidam karena Kakak hamil" ucap Bara yang membuat Bunda Sekar dan Ayah Daffa jadi terkejut
"Kak, sejak kapan Kakak terlambat datang bulannya?" tanya Bunda Sekar
"Baru bulan ini sih Bun, tadinya aku juga bingung kenapa bisa terlambat, tapi aku pikir mungkin karena aku kerja, dan dampak lelah"
"Tapi benar yang adikmu katakan, mungkin saja ini adalah jenis kehamilan simpatik"
__ADS_1
"Kehamilan simpatik?"
"Iya, singkatnya, kau yang hamil, tapi suamimu yang merasakan gejala ngidamnya"
"Apa mungkin?" monolog Afifa
"Mungkinlah Kak, 'kan Kakak punya suami" timpal Bara
"Sudahlah, kita langsung cek saja ya" usul Bunda "Bara, kau ke apotek sekarang, dan belikan test pack untuk Kakakmu"
"Ish, kenapa jadi aku?" sungut Bara
"Tidak mungkin Ayah 'kan?" ucap Ayah Daffa menimpali ucapan putranya
"Ya, kenapa tidak suami Kak Fifa saja yang belikan. Masa aku yang membelikan, bagaimana kalau aku bertemu gadis gadis incaranku, bisa habis aku oleh mereka" sungut Bara
"Gadis gadis? Memangnya ada berapa gadis yang kau dekati?" tanya Afifa
"Sebatas ini baru lima belas, tapi sebentar lagi enam belas, nambah satu" ucap Bara bangga
"Dasar buaya darat"
__ADS_1