
"Bagaimana keadaan Aliya Bun?" tanya Afifa begitu melihat sang Bunda keluar dari kamar Aliya
"Aliya sedang istirahat" jawab Bunda Sekar
"Apa aku boleh melihatnya?"
"Nanti ya Nak, biarkan Kakakmu istirahat dulu. Lebih baik kau istirahat dulu saja, kau 'kan juga tengah mengandung" saran Bunda Sekar
"Mmm aku tidak mengantuk Bun, lagipula ini masih cukup pagi, tidak baik kalau aku tidur pagi pagi. Aku ikut Bunda ke bawah saja ya" pinta Afifa
"Ya sudah, ayo"
*
Di luar gerbang, Alex mengernyit saat melihat mobil yang beberapa menit yang lalu memasuki ke kediaman Dirgantara, kini keluar dan pergi. Karena rasa penasaran, Alex keluar dari mobil, dan mendekati satpam yang barusaja menutup gerbang
"Pak, mobil siapa yang barusaja keluar?" tanya Alex
__ADS_1
"Itu mobil Dokter Zonya, Tuan" jawab pak satpam
"Dokter Zonya?" Alex tentu tidak asing dengan nama itu, karena ia juga sempat berkenalan dengan Dokter Zonya saat acara pernikahannya dan Aliya saat itu. Tapi yang menjadi pertanyaannya adalah, untuk apa Dokter Zonya mengunjungi kediaman Dirgantara "Mmm Pak maaf, kalau boleh tahu, untuk apa Dokter Zonya kemari?" tanya Alex
"Maaf Tuan, kalau soal itu saya tidak tahu"
Alex mengangguk mendengar jawaban pak satpam. Mungkin satpam ini memang tidak mengetahui maksud kedatangan Dokter Zonya kemari. Ia hanya berharap semoga tidak terjadi hal apapun pada Aliya ataupun calon anaknya
Tin... tin...
Mendengar suara Aksa, Alex segera melihat asal suara, dan benar saja ada Aksa di depannya yang hanya dibatasi gerbang. Begitu gerbang terbuka, mobil Aksa segera melaju keluar. Namun mobil itu tidak langsung pergi begitu saja, melainkan berhenti tepat di depan Alex
"Sedang apa kau di sini?" tanya Aksa tak suka
"Aku ingin menemui istriku"
"Istri?" tanya Aksa memicing sembari terkekeh kecil "Sebentar lagi tidak lagi, dan aku harap, kau bisa menguatkan diri saat gugatan itu datang kepadamu" Aksa lantas menutup kaca mobilnya dan langsung pergi
__ADS_1
Alex mematung di tempatnya saat mendengar kata kata Aksa. Apa kata itu berarti, Aliya akan benar benar meminta bercerai darinya. Seharusnya tidak bukan? Apalagi, saat ini wanita itu tengah mengandung anaknya, secara agama, Aliya tidak bisa bercerai dengannya sebelum anak itu lahir. Ya, itu tidak akan mungkin terjadi dalam waktu dekat ini, dan Alex bertekad untuk kembali mendapatkan Aliya kembali secepatnya
*
Hari hari berlalu. Tiada satu hari 'pun yang di lewati Alex tanpa mengunjungi kediaman Dirgantara. Beberapa hari ini, Alex tidak pernah datang dengan tangan kosong. Karena setiap ia datang, ia akan membawakan berbagai jenis sayur, buah buahan, dan susu ibu hamil untuk istrinya.
Meskipun awalnya niat baiknya di tolak oleh seluruh keluarga Dirgantara, tapi ia selalu memaksa pak satpam untuk membawa barang barang itu masuk. Atau jika pak satpam juga menolak, maka ia akan menaruh kantung besar berisi gizi lengkap itu di depan gerbang. Sehingga mau tidak mau mereka akan tetap menerimanya.
"Pak, tolong bawakan ini masuk ya" pinta Alex pada pak satpam sembari menyerahkan kantung belanjaan seperti biasa
"Baik Tuan" pak satpam segera membawa barang pemberian Tuannya untuk masuk. Begitu masuk, ia menyerahkan kantong belanjaan tersebut kepada asisten rumah tangga "Seperti biasa Bik" ucap pak satpam. Asisten rumah tangga itu mengangguk dan langsung membawa kantong itu untuk masuk tanpa bertanya lagi. Sebab ia juga sudah paham jika barang barang ini pasti pemberian dari suami Nona Aliya
Aksa yang tengah bermain bersama Arka seketika menghentikan tawanya saat melihat asisten rumah tangga melintas dengan kantong besar di tangannya "Apa itu Bik?" tanya Aksa
"Barang barang untuk Nona Aliya dari Tuan Alex, Tuan"
"Oh, kalau begitu bawalah masuk" ucap Aksa. Setelah kepergian asisten rumah tangga tersebut, Aksa menyingkap gorden di dekatnya. Dapat ia lihat bahwa di depan sana, Alex yang barusaja menutup pintu mobil dan hendak pergi. Seketika, senyum tipis terbit di sudut bibir Aksa "Gigih juga dia"
__ADS_1