Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 53


__ADS_3

Bram baru tiba di kediamannya setelah seharian bergelut dengan pekerjaan yang tak berkesudahan. Ia membuka pintu depan tanpa mengetuk terlebih dahulu, sebab ia memang membawa kunci cadangan. Begitu masuk, ia tersenyum begitu cerah saat melihat Afifa menyambutnya dengan senyum yang begitu manis


Bram bergerak dan memeluk istrinya, lalu menciumi wajahnya bertubi tubi "Kenapa belum tidur? Apa tidak lelah?" tanya Bram


"Aku menunggumu" jawab Afifa. Ia mengambil tas kantor serta jas suaminya, dan membawanya masuk "Sudah makan malam?" tanya Afifa


"Sudah tadi di kantor"


"Baiklah"


Afifa dan Bram berjalan bersama menuju kamar mereka. Afifa segera mengambil handuk dan baju ganti untuk suaminya. Setelah itu ia masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air untuk suaminya mandi. Begitu selesai, ia keluar menemui suaminya yang tengah merebahkan diri di sofa


"Airnya sudah siap, ayo mandi" ajak Afifa


Berdua?" goda Bram


Afifa terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Ia lantas mwnarik tangan sang suami dan mendorongnya dengan paksa menuju kamar mandi. Setelah itu, ia beralih memasukkan pakaian kotor miliknya dan suaminya di keranjang sembari menunggu suaminya yang tengah mandi


Ceklek


Afifa melihat Bram yang barusaja keluar dari kamar mandi, ia lantas mendekat, dan membantu mengeringkan rambut suaminya dengan telaten "Suamiku harum sekali" ucap Afifa


"Tentu saja, selain harum aku ini juga tampan"


"Dih, narsis sekali" cibir Afifa


"Kalau narsis, harus..."


"Menikah dengan Aliya" sungut Afifa


"Hahaha..."


Tawa Bram terdengar begitu nyaring saat melihat wajah istrinya yang cemberut. Ya, ia sangat suka melihat wajah istrinya yang cemberut lucu saat ia mengatakan untuk menikah dengan Aliya saja karena terlalu narsis. Ia menduselkan wajahnya pada wajah Afifa, hingga membuat wanita itu melupakan kekesalannya dan ikut tertawa


"Sudah malam, ayo tidur" ajak Afifa


"Tidak usaha lagi?" tanya Bram

__ADS_1


"Usaha?" Afifa mengernyitkan dahinya bingung saat mendengar ucapan suaminya


"Usaha agar cepat jadi" bisik Bram


"Ish Bram..." Afifa melototkan matanya dan memukul perut Bram dengan pelan saat ia sudah menangkap arti dari ucapan Bram. Sedangkan Bram hanya tertawa melihat wajah menggemaskan istrinya


*


Sedangkan di sisi lain. Tepatnya di kediaman Wijaya. Aliya bangkit dari sofa setelah melihat Alex masuk ke kamarnya. Ia lantas mendekat, dan membantu Alex untuk melepas pakaian kerja yang masih ia kenakan


"Malam ini lembur lagi?" tanya Aliya basa basi.


"Iya, banyak pekerjaan di kantor" jawab Alex "Kau jadi ke mall tadi?"


"Jadi, sama Mama"


"Oh ya, membeli apa?" tanya Alex


"Mama yang belanja, dia membeli tas tadi"


"Oh... dan kamu?"


"Kenapa?" Alex mengerutkan dahinya saat mendengar jawaban Aliya. Sebab, selama ini Aliya sama sekali tidak pernah mengatakan kurang mood untuk belanja, karena biasanya Aliya dan Mamanya adalah satu paket lengkap. Dimana jika Nyonya Rengganis berbelanja maka Aliya 'pun akan ikut berbelanja


"Lagi malas saja"


"Tumben?"


"Sudahlah, aku sedang malas saja. Kau mau mandi atau bersih bersih saja?" tanya Aliya


"Mmm mungkin bersih bersih saja sedikit"


"Baiklah"


Selama Alex membersihkan diri, Aliya sibuk dengan ponselnya. Namun suara ponsel Alex yang berdering membuat Aliya sedikit terganggu. Ia meraih ponsel Alex, dan melihat nama pemanggil


"Sekretaris Ivy? Untuk apa dia menghubungi suami orang selarut ini?" monolog Aliya

__ADS_1


Ceklek


Suara pintu kamar mandi yang terbuka, membuat Aliya dengan segera meletakkan ponsel Alex di tempat semula. Ia berpura pura fokus pada ponselnya tanpa menghiraukan Alex yang terlihat menaruh handuk di pengeringan. Begitu Alex mendekat kearahnya, barulah ia menatap suaminya


"Tadi ada telepon" ucap Aliya


"Siapa?"


"Sekretaris Ivy"


Alex meraih ponselnya dan melihat panggilan masuk, dan benar saja ada nama Ivy di sana "Kau tidak menjawab panggilannya?" tanya Alex


"Tidak, aku malas berurusan dengan wanita penggoda sepertinya" ucap Aliya santai


"Al, jangan berburuk sangka dengan orang lain, apalagi dia hanya sekretarisku" ucap Alex


"Kau tidak percaya bahwa dia wanita penggoda, kalau begitu hubungi saja lagi, kita dengar apa yang akan sekretarismu itu katakan di jam yang sudah sangat larut ini" tantang Aliya


Alex sedikit menimbang, antara menelpon sekretarisnya kembali, atau mengabaikan saja. Belum saja ia sempat berpikir, ponselnya sudah kembali bergetar, dan menampilkan nama yang sama. Alex menatap Aliya sekilas, sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut


"Halo, sekretaris Ivy"


"Halo Pak, Pak tolong saya Pak, ada preman yang menghadang mobil saya, saya tidak berani keluar, mereka sangat menyeramkan Pak"


Alex menatap Aliya, begitupun dengan Aliya yang balas menatapnya tanpa mengucap sepatah kata 'pun "Ehem, kau di mana sekarang? Aku segera kesana" Alex mematikan telepon secara sepihak, dan langsung mengambil jaketnya


"Mau kemana?" tanya Aliya


"Sekretaris Ivy membutuhkan bantuanku sekarang" ucap Alex sembari sibuk memakai jaketnya


"Tapi Lex, awww..." Aliya memegangi perutnya dengan wajah yang terlihat memerah dan ringisan yang terdengar hingga di telinga Alex


"Al, ada apa? Hei?"


"Perutku, perutku sakit, Lex" ringis Aliya


"Kita ke dokter sekarang" ajak Alex

__ADS_1


"No, kau ambilkan air hangat saja di dapur" ucap Aliya dan langsung saja di turuti Alex, begitu Alex keluar dari kamar, Aliya mengepalkan tangannya dengan mata memelotot tajam "Hama pengganggu, awas kau!"


__ADS_2