Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 103


__ADS_3

Afifa memandang perusahaan menjulang milik suaminya. Dengan langkah anggun, ia memasuki lobi kantor dan mendatangi resepsionis "Selamat Siang, boleh saya bertemu dengan Tuan Bram?" ucap Afifa


"Apakah sudah ada janji temu?" tanya salah satu resepsionis, sedangkan yang satunya justru sibuk dengan ponselnya


"Belum, tapi boleh tolong hubungi Tuan Bram dulu, dan katakan aku ingin bertemu"


Resepsionis tersebut tampak menimbang sedikit "Baiklah, dengan Nyonya siapa?"


"Afifa"


"Baiklah" resepsionis tersebut langsung menghubungi nomor telepon sekretaris Bram, begitu telepon terhubung ia langsung mengucapkan akan kedatangan Afifa "Baik, akan saya sampaikan" ucap resepsionis mengakhiri pembicaraannya di telepon. Begitu panggilan terputus, ia memandang Afifa kembali "Maaf Nyonya, Tuan Bram akan ada meeting lima menit yang akan datang, dan sekretaris beliau berpesan untuk tidak menerima tamu sampai meeting selesai" ujar resepsionis


"Oh baiklah, tapi bisakah aku menunggunya di sana?" tunjuk Afifa pada sofa tunggu


"Silahkan Nyonya"


"Ish, kau ini apa apaan, itu kursi tunggu tamu VVIP, memang dia tamu VVIP kita? Kau ini sembarangan sekali" ujar resepsionis lain saat mendengar temannya mempersilahkan Afifa untuk menunggu di sana


Afifa menghentikan langkahnya yang akan menuju sofa. Ia lantas berbalik, dan kembali menatap resepsionis "Jadi bagaimana, bisakah aku duduk di sana?" tanya Afifa lagi


"Silahkan..."

__ADS_1


"Tidak..."


Kedua resepsionis itu menjawab bersamaan. Namun dengan jawaban yang berbeda. Membuat Afifa tersenyum samar


"Baiklah kalau tidak boleh" Afifa mengambil ponselnya dan langsung menghubungi nomor Bram "Halo Hubby, aku di lobi kantormu sekarang"


"Apa? Baiklah, aku segera turun" jawab Bram dengan segera


Resepsionis yang melarang Afifa tadi hanya mencibir saat mendengar Afifa menelpon seseorang dan mengatakan bahwa ia berada di lobi kantor milik seseorang yang ia hubungi itu. Ya, tentu saja ia tidak percaya, karena sepengetahuannya, pemilik perusahaan ini belum menikah, jadi mana mungkin ia memiliki istri. Namun cibirannya itu hanya ia tahan karena tidak ingin terkena masalah. Ia memilih menyibukkan diri kembali dengan ponsel ditangannya


"Nyonya, silahkan istirahat dulu" ujar resepsionis pada Afifa, sebab ia sedikit ngilu melihat Afifa yang berdiri sejak tadi dengan perut yang sudah cukup buncit.


"Baiklah" resepsionis tersebut mengambil sebuah kursi lipat di samping tubuhnya untuk ia berikan pada Afifa. Namun resepsionis yang tadi bermain ponsel dengan segera merampas kursi itu, dan memakainya untuk duduk


"Jangan terlalu baik dengan orang, nanti kau dimanfaatkan" ujar resepsionis itu


"Tapi..."


"Sudahlah, lagipula apa untungnya berlaku baik padanya, memangnya dia siapa? Bos-mu?" ucap resepsionis tadi "Merepotkan saja" gerutunya "Oh iya, katakan padaku jika ada petinggi perusahaan yang datang, aku ingin istirahat sebentar" ujarnya lagi sembari kembali bermain ponsel.


Afifa hanya mendelik kesal mendengar resepsionis suaminya yang terdengar begitu tidak sopan. Namun sebisa mungkin ia hanya mencoba bersabar dan terus menerus mengelus dada. Begitu mendengar langkah kaki mendekat, ia tersenyum senang, dan langsung merentangkan tangan meminta pelukan, karena yang saat ini berjalan mendekat itu adalah Bram, suaminya

__ADS_1


"Sayang, kenapa tidak duduk, kau pasti lelah" ucap Bram


"Tidak, aku sudah terbiasa"


"Hm apakah dia tidak rewel hari ini?" tanya Bram sembari mengelus perut sang istri


"Tidak, memang sejak kapan dia rewel pada Mamanya, dia hanya rewel padamu saja Papa" ucap Afifa mengingatkan. Ya, mengingatkan, karena mungkin saja suaminya lupa bahwa selama ini, segala gejala kehamilan akan dirasakan oleh Bram, sedangkan Afifa justru terlihat biasa saja


"Ah iya, aku melupakan itu" Bram mengecup puncak kepala istrinya, lalu berjongkok didepan sang istri dan mencium perutnya "Sehat sehat ya Nak" ucap Bram hangat


Bram tidak tahu saja jika saat ini, semua orang tengah menatap interaksi antara dirinya dan Afifa. Apalagi dua resepsionis tadi, keduanya tampak membulatkan mata saat melihat atasan mereka berlaku begitu lembut dan hangat pada Afifa. Mereka begitu terpana melihat hal itu, karena selama ini, Bram tidak pernah menunjukkan sisi dirinya yang begitu lembut dan hangat, justru yang terlihat adalah sosok tegas yang tanpa segan memarahi orang lain jika melakukan kesalahan


"Sayang..." panggil Afifa, membuat Bram kembali berdiri dan menatap istrinya dengan tersenyum


"Ada apa? Kau menginginkan sesuatu?"


"Dia" tunjuk Afifa pada resepsionis yang tadi berlaku tidak baik padanya, membuat resepsionis tersebut pucat pasi "Aku ingin kau memecat dia dari perusahaanmu, karena tanaman 'pun tidak akan tumbuh dengan baik jika ada hama yang hinggap, begitu 'pun dengan perusahaan"


Bram mengernyit bingung, ia melihat resepsionis tersebut yang terlihat pucat dan takut. Lalu tatapannya kembali mengarah pada istrinya. Sejujurnya ia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi diantara istrinya dan resepsionis kantornya. Hanya saja, ia sangat mengenal istrinya yang tidak akan melakukan suatu hal tanpa alasan yang kuat


"Sesuai permintaanmu Sayang" ucap Bram tersenyum. Ia kemudian kembali menatap resepsionis tadi dengan wajah datarnya "Bereskan barangmu, dan pergi temui HRD, mintalah pesangonmu karena mulai sekarang kau bukan lagi karyawanku, kau dipecat"

__ADS_1


__ADS_2