Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 61


__ADS_3

Aliya masih mempertahankan mimik wajahnya untuk menarik simpati Alex. Beruntungnya, Alex benar benar percaya, dan membuatnya begitu amat perhatian pada Aliya. Bahkan kini Aliya tengah mengulum senyumnya saat Alex mengambilkan makan untuknya


"Ini, makanlah yang banyak" ujar Alex


Aliya meraih pringnya dengan begitu senang. Ia lantas meraih sendok dan hendak makan, tapi tiba tiba ide jahil kembali terlintas dalam benaknya. Ia mengangkat sendok berisi nasi dan lauk tersebut, lalu mengarahkan di mulutnya. Namun belum saja sempat memakan, sendoknya justru terjatuh


"Al ada apa, apa masih sakit?" tanya Alex khawatir


"I-iya, masih perih" jawab Aliya. Ya, Aliya tidak berbohong mengenai ini, karena sejujurnya tangannya memang masih cukup perih karena terkena minyak panas tadi


"Ya sudah, kemari" Alex menarik kursi Aliya untuk mendekat, dan ia lantas menyuapkan makanan miliknya ke mulut Aliya, membuat Aliya senang bukan kepalang


"Ehem, kayak kita waktu muda ya Pa" ujar Nyonya Rengganis sembari menyenggol lengan suaminya, membuat Aliya dan Alex tersenyum kecil


"Kau tidak makan juga?" tanya Aliya saat Alex lagi lagi akan menyuapinya

__ADS_1


"Nanti saja, kau dulu. Ayo buka mulut lagi"


Aliya kembali menerima suapan dari suaminya. Namun di detik berikutnya, ia mengambil sendok yang tadi Alex gunakan untuk menyuapinya, lalu menyuapkan makan untuk suaminya. Tanpa ia sadari jika saat ini Tuan Alan dan Alex menatapnya heran


"Bukankah tanganmu masih perih?" tanya Alex


"Ehem, ketahuan ya Al" sindir Nyonya Rengganis. Ya, Nyonya Rengganis sudah menebak jika menantunya sedari tadi hanya bersandiwara. Sebab, ia juga pernah belajar memasak, walaupun hasilnya gagal. Tapi setidaknya ia tahu jika terkena percikan minyak tidak akan berakibat parah seperti itu


"Jadi kau membohongiku?" tanya Alex tak percaya


"Itu sama saja Al" sanggah Alex


Setelah aksi jahilnya ketahuan. Akhirnya makan malam berlanjut seperti biasa. Tidak lagi ada kata suap suapan diantara mereka. Bahkan setelah keduanya tiba di kamar 'pun, Alex terlihat enggan untuk berbicara dengan Aliya


"Lex, kau masih marah padaku?" tanya Aliya, tapi Alex sama sekali tidak menjawab "Lex, bicaralah. Apakah kau marah?"

__ADS_1


"Sudahlah Al, aku lelah mau tidur"


"Jadi kau benar benar marah?"


Huh


Alex menghela napas lelah. Setelah itu ia membalik badannya dan kembali menghadap Aliya "Kau membohongiku Al, lalu apa aku tidak boleh marah?"


"Kau yakin ingin mendengar jawabanku? Baiklah, dengarkan aku kalau begitu. Kau marah hanya karena aku memanfaatkan rasa sakitku agar bisa mendapatkan perhatian yang tidak pernah kau tunjukkan selama pernikahan kita. Lalu sekarang, aku ingin bertanya padamu, bolehkah aku marah karena suami yang sudah mengikat janji suci padaku, justru menyimpan perasaan cinta untuk wanita lain. Tolong katakan apakah aku berhak untuk marah?" tanya Aliya lirih


"Al..."


"Aku hanya berusaha meluluhkan hatimu Lex, dan aku rasa caraku tidaklah salah. Karena tanganku memang benar benar perih, aku hanya sedikit memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan perhatian suamiku. Lalu apakah aku benar benar salah?" tanya Aliya


"Al, tidak seperti itu juga caranya. Aku marah padamu dengan caramu mendekatiku karena aku merasa menjadi orang bodoh yang dengan gampang kau tipu" ucap Alex

__ADS_1


"Lalu aku harus apa, mendapatkan perhatianmu dengan cara normal? Aku lelah Lex, aku lelah berjuang untuk mendapatkan perhatian darimu, tapi kau sama sekali tidak melihat itu. Kau tidak pernah melihat perjuanganku" pekik Aliya "Lalu bagaimana, apakah kesempatan kedua ini masih akan berlanjut, atau kita hentikan sampai di sini?"


__ADS_2