
Saat ini, semua orang telah berkumpul di Balai Desa kembali untuk menyaksikan pernikahan antara Bram dan Afifa. Tuan dan Nyonya Wijaya juga sudah tiba beberapa menit yang lalu, dan sekarang mereka telah duduk bersama di ruangan yang sudah di siapkan untuk memulai akad nikah. Begitupun dengan Afifa dan Bram yang sudah duduk berdampingan di hadapan Tuan Daffa dan beberapa saksi
"Apa maskawin yang akan kau berikan?" tanya Tuan Daffa
Bram sedikit terkejut, ia melupakan hal penting itu, dan ia sama sekali tidak memiliki apapun yang bisa ia berikan sebagai mahar. Ia kemudian melirik Tuan dan Nyonya Wijaya, berharap dua orang itu bisa membantunya. Namun Sayang sekali, karena terburu buru untuk datang kemari, Tuan dan Nyonya Wijaya tidak membawa apapun untuk mejadi mahar pernikahan keponakan mereka
"Maskawin tidak harus besar dan mahal, berapa 'pun yang Nak Bram bisa berikan, maka itu yang akan kita sebutkan sebagai mahar" ucap Pak Kades saat melihat Bram dan keluarganya tampaknya kebingungan
"Jadi apa mahar yang ingin kau berikan untuk putriku?" tanya Tuan Daffa
Bram mengeluarkan dompetnya, berharap ada uang cash yang bisa ia berikan sebagai mahar. Namun sayang sekali, canggihnya tekhnologi membuat Bram merasa tidak perlu menyimpan uang cash lagi, karena uang miliknya sudah ia simpan di dalam kartu. Pandangan Bram seketika tertuju pada STNK mobil miliknya, ia segera mengeluarkan STNK tersebut, dan memperlihatkannya pada Pak Kades
"Apakah ini bisa menjadi mahar Pak?" tanya Bram
"Boleh"
Bram bernapas lega setelah mendengar jawaban Pak Kades. Setelah persetujuan dari masing masing pihak, kini ruangan itu terdengar sangat hening. Mereka menantikan detik detik ijab qabul akan di laksanakan
"Silahkan di mulai Pak" ucap Pak Kades, yang langsung di jawab anggukan oleh Tuan Daffa
__ADS_1
"Bram Luwisky Pradipta bin Ardi Pradipta, saya nikahkan engkau dengan putri kandungku Afifa Andini Dirgantara dengan maskawin satu buah mobil di bayar tunai" Tuan Daffa mengucapkan ijab dengan lantang
"Saya terima nikah dan kawinnya, Afifa Andini Dirgantara binti Daffa Alfano Dirgantara dengan maskawin yang tersebut di bayar tunai"
"Bagaimana saksi, sah?" tanya Pak Kades pada dua Pejabat Desa yang ia tunjuk sebagai saksi
"Sah"
"Alhamdulillahirabbil'alamin"
Salah satu warga yang di tunjuk mulai memimpin do'a pernikahan. Semua orang ikut berdo'a, terlebih anggota keluarga. Bahkan, Afifa juga ikut mengadahkan tangan dengan air mata yang menetes di setiap ucapan Aamiin
*
"Langsung bersiap ya, kita kembali ke Jakarta siang ini juga" ujar Bram pada Afifa yang tampak masih merenung di pinggir ranjang "Hei, Fa..." Bram melambaikan tangannya di depan wajah Afifa, membuat Afifa tersadar dari lamunannya
"A-ada apa?" tanya Afifa gugup
"Tante dan Om meminta kita untuk kembali ke Jakarta bersama mereka, jadi siapkan barang barangmu"
__ADS_1
"Baiklah"
Afifa mengambil kopernya dari sudut ruangan. Ya, ia tidak sempat membongkar koper dan memindahkan pakaiannya, sebab ia memang baru satu hari berada di desa ini, dan ternyata ini menjadi satu hari yang begitu bersejarah dalam hidupnya. Karena tepat hari ini, ia menyandang gelar sebagai seorang istri dari sahabatnya sendiri
"Sudah siap?" tanya Bram
"Sudah"
"Baiklah, ayo"
Bram membawa koper Afifa keluar dari kamar penginapan. Di depan sana, Tuan dan Nyonya Dirgantara serta Tuan dan Nyonya Wijaya sudah menunggu di depan mobil masing masing. Terlihat juga Pak Kades dan Ibu Kades ikut mengiringi kepergian Afifa, Bram dan anggota keluarga yang lain. Karena kebetulan, penginapan ini adalah milik Bapak dan Ibu Kades. Itulah mengapa, saat kejadian tak mengenakan antara Bram dan Afifa, para warga memiliki akses untuk masuk, karena kebetulan setiap jam sembilan malam, Pak Kades akan memantau penginapannya agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan
"Terima kasih atas bantuan Pak Kades, dan maaf untuk ketidaknyamanan ini" ujar Tuan Daffa
"Tidak Pak, justru saya merasa bersalah karena memaksa anak Bapak untuk menikah, padahal saya juga yakin kalau mereka tidak melakukan apa apa" Ya, Pak Kades yakin jika apa yang Bram dan Afifa jelaskan sepenuh benar, tapi ia tidak bisa melanggar aturan yang sudah ia tetapkan di desanya
"Ini bukan salah Bapak dan Ibu, kalian hanya mencoba untuk menegakkan peraturan dan keadilan di masa kepemimpinan kalian" ujar Nyonya Sekar
"Terima kasih Buk" ucap Ibu Kades, ia melangkah mendekati Afifa, dan mengusap wajah Afifa dan Bram bergantian "Cinta bukan satu satunya jalan untuk bahagia dalam pernikahan, tapi saling percaya dan saling memahami adalah kunci utamanya. Semoga kalian bahagia"
__ADS_1