
Afifa keluar dari kamar dengan kulot di bawah lutut, yang di padukan dengan baju tanpa lengan yang membuat Afifa tampak memesona "Bun, aku izin keluar sebentar" ucap Afifa saat melihat sang Bunda berada di ruang keluarga
"Iya Sayang, hati hati"
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum Salam"
Afifa keluar dari rumah, menuju mobilnya yang sudah di siapkan oleh Mang Cecep "Pagi Mang"
"Pagi Non, ini mobilnya sudah Mamang siapkan"
"Terima kasih Mang"
Setengah jam Afifa habiskan di perjalanan menuju mall terdekat. Begitu tiba, Afifa tidak lantas turun dari mobil, melainkan mengutak atik layar ponselnya untuk menghubungi Bram, dan menanyakan keberadaan laki laki tersebut. Sebab, ia sudah memiliki janji dengan Bram sebelumnya untuk menemaninya belanja buku. Barusaja hendak menempelkan telepon di telinganya, sebuah mobil yang sangat ia kenali terparkir tepat di samping mobilnya
"Halo, selamat pagi Nona Muda Dirgantara" ucap Bram sembari turun dari mobil
__ADS_1
"Kau benar benar datang?" Afifa turun dari mobilnya saat melihat Bram sudah berdiri di depan mobilnya
Tadi malan, Bram menghubunginya dan menanyakan kemana ia hari ini. Setelah Afifa mengatakan bahwa dirinya akan pergi belanja, Bram mengajukan diri untuk menemani. Namun Afifa pikir Bram tidak serius dengan ucapannya. Sebab, pengusaha sibuk seperti Bram tidak mungkin akan membuang waktu berharganya hanya untuk menemaninya belanja
"Tentu saja, bukankah sudah aku katakan semalam?"
"Baiklah, ayo"
Afifa dan Bram masuk bersama ke dalam mall, Apalagi tujuannya jika bukan untuk mencari buku bacaan yang diinginkan Afifa. Begitu tiba di lantai yang di tuju, Afifa dan Bram segera menuju stand penjualan buku. Afifa melihat semua buku yang tersedia, ia mengambil beberapa buku novel yang cukup menarik, lalu tidak lupa ia juga mencari buku buku tentang bisnis. Sedangkan Bram, laki laki itu dengan setia mengikuti langkah Afifa kemanapun, bahkan ia telah membawa keranjang di tangannya untuk menampung buku buku pilihan Afifa
Cukup lama mereka menghabiskan waktu untuk memilih buku, akhirnya mereka memutuskan untuk menyudahi. Afifa duduk di sebuah kursi yang tersedia, sedangkan Bram, laki laki itu tampak mengikuti barisan antre untuk pembayaran. Begitu selesai pembayaran, Bram segera mendekati Afifa yang menunggunya
"Seperti yang kau lihat" Bram mengangkat dua paper bag berukuran besar yang berada di kedua tangannya, membuat Afifa tertawa, sebab kapan lagi ia bisa melihat seorang bos besar seperti Bram, membawakan barang belanjaannya
"Oh iya, uangmu sudah aku transfer" Afifa menunjukkan layar ponselnya yang memuat bukti transfer
"Kenapa? Padahal aku tidak meminta kau membayarnya dengan uang" keluh Bram
__ADS_1
"Kau pasti tahu alasannya. Sudah ayo, kita cari makan saja, aku lapar"
Sedari dulu, hal yang paling tidak Afifa sukai adalah di traktir. Karena ia merasa dirinya mampu untuk membayar makan atau belanjaan sendiri, itu sebabnya ia selalu menolak saat akan di bayarkan. Tadi, Afifa memang tidak menolak saat Bram menawarkan diri untuk membayar belanjaannya, tapi itu bukan berarti ia akan menerima cuma-cuma, terbukti ia langsung men-transfer uang Bram seharga buku yang ia bayarkan tadi
Bram meletakkan dua paper bag besar itu di bawah kursinya, lalu ia duduk berhadapan bersama Afifa "Jadi bagaimana planning-mu setelah saudara kembarmu menikah, apakah kau juga berencana akan menikah dalam waktu dekat?"
"Tidak tahu, aku belum memikirkannya"
"Kenapa?"
"Yaa, belum menemukan laki laki yang cocok saja"
"Berarti, setelah kau menemukannya, kau akan langsung menikah?"
"Tidak juga"
"Kenapa lagi?"
__ADS_1
"Karena laki laki yang aku cintai, belum tentu mencintaiku"
Tatapan mata Afifa dan Bram bertemu. Setelah beberapa saat, keduanya memutus tatapan itu, dan terlihat salah tingkah. Tidak lama, seorang waitress datang, dan mengantar pesanan mereka. Membuat kecanggungan yang sempat terjadi menjadi sedikit mencair