
Bram keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe. Ia menghela napas lesu saat melihat istrinya yang tengah membelakanginya sembari menata baju di dalam tas. Bram bergerak maju, dan memeluk istrinya dari belakang
"Sayang, jangan malam ini ya, mulai besok malam saja" pinta Bram
Afifa mengelus rahang suaminya masih dengan posisi membelakangi "Malam ini dan besok malam sama saja, Papa, lagipula ini hanya sementara. Setelah semuanya selesai, kita akan kembali lagi tidur bersama seperti sebelumnya. Sabar ya"
"Aku menyesal mengusulkan padamu untuk membantu mereka kalau seperti ini" keluh Bram
"Kita harus membantu mereka Bram" Afifa membawa tangan suaminya untuk mengelus perutnya "Apa kau tega jika anak kita ini kekurangan kasih sayang darimu ataupun aku?" tanya Afifa
"Sayang jangan katakan itu, karena aku tidak akan membiarkannya"
"Begitupun dengan Alex, aku yakin dia juga tidak ingin anaknya tumbuh tanpa kasih sayang darinya. Apalagi, Kak Zonya sudah mengatakan bahwa kemungkinan besar, kehamilan Aliya itu kembar, Aliya akan kesusahan nanti mengurus mereka sendiri" Afifa membalik tubuhnya dan mencium pipi suaminya "Maka dari itu izinkan kami pergi ya Papa" ucap Afifa sembari mengerjab lucu
"Baiklah"
*
Mobil yang membawa Bram dan Afifa telah kembali terparkir di halaman luas kediaman Dirgantara. Bram lebih dulu keluar, dan membawa tas pakaian istrinya. Setelah itu, ia mengitari mobil, dan membantu istrinya untuk turun
__ADS_1
"Assalamu'alaikum" salam Afifa sembari masuk
"Wa'alaikum salam" dahi Aliya mengernyit saat melihat Adik dan Iparnya kembali lagi, padahal tadi siang mereka sudah pulang. Kebingungn di wajah Aliya kian bertambah saat matanya melihat tas yang cukup besar di tangan Bram
"Kalian mau kemana?" tanya Aliya
"Aku ingin menginap dengan Kakak-ku tersayang" jawab Afifa
"What? Apa maksudmu?"
"Menginap" ucap Afifa menegaskan "Aku ingin tidur di kamarmu, bersamamu"
"Al, apa kau tidak kasihan padaku, bayiku sendiri yang memintaku untuk menginap bersamamu, apa kau tega untuk tidak mengabulkan keinginan keponakanmu sendiri?" ucap Afifa dramatis
"Tetap tidak. Kau 'kan bisa tidur di kamarmu sendiri, kenapa harus tidur bersamaku"
"Ini permintaan bayi Al, apa kau tidak mengerti" sungut Afifa
"Aku tetap tidak mau, kau tidur saja bersama suamimu" ujar Aliya ketus
__ADS_1
Afifa menginjak kaki suaminya, membuat Bram mengaduh pelan. Lalu sedetik kemudian, akhirnya Bram paham kode dari istrinya "Kakak Ipar, aku akan ke luar kota untuk beberapa hari, jadi aku mohon agar istriku bisa tidur bersama Kakak beberapa hari ini. Aku khawatir meninggalkannya sendiri" ujar Bram
Aliya masih tetap memasang wajah datarnya. Lalu kemudian helaan napas kasar terdengar "Ya sudah iya"
"Yeay, thanks Al" Afifa langsung berhambur memeluk Aliya
"Ingat, jangan menyusahkanku" peringat Aliya
"Pasti" jawab Afifa cepat "Lagipula selama ini yang banyak menyusahkanku itu dia, kenapa ucapannya malah berbalik" ucap Afifa lirih
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Aliya memicing
"Ti-tidak. Sudahlah, ayo kita tidur" ajak Afifa. Sebelum menaiki tangga menuju kamar, ia lebih dulu menghadap suaminya, dan mencium pipi laki laki itu "Sabar ya Papa, kita sama sama menjalankan misi. Biar Mama dan Adek yang membantu Tante Aliya, dan tugas Papa membantu Om Alex, oke"
"Hm"
Aliya kembali membalik tubuhnya, dan melihat Afifa dan Bram yang masih berbisik "Hei, jadi menginap tidak? Malah bermesraan saja"
"Iya, ayo" Afifa menjawab dengan cepat. Namun sebelum menyusul untuk naik ke kamar, ia masih menyempatkan untuk mencium pipi suaminya sekilas "Good night Hubby" ucapnya menggoda
__ADS_1
"Sayang, apa tadi?" Bram seakan terkena angin syurga saat mendengar istrinya memanggil Hubby. Bahkan kekesalan di hatinya karena akan tidur terpisah dari istrinya lenyap seketika hanya karena panggilan romantis itu. Lalu tanpa pikir lagi, ia kembali pulang, dengan hati yang riang