Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 88


__ADS_3

Hari hari berlalu. Tidak terasa, sudah satu bulan berlalu sejak kejadian dimana Aliya mengetahui penghianatan yang di lakukan suaminya. Itu artinya, sudah satu bulan juga ia tidak melihat wajah suaminya secara langsung. Ya, secara langsung, karena kalau secara tak langsung, ia sudah sering melihatnya saat laki laki itu menatap kamarnya dari gerbang depan. Di samping itu, ia sama sekali tidak tahu perkembangan kasus penghianatan suaminya itu. Entah Alex memilih bertanggung jawab atas kehamilan wanita itu, atau justru Alex lari dari tanggung jawabnya. Entahlah...


Hari ini adalah jadwal Aliya memeriksa kandungan untuk pertama kalinya. Ia tidak berangkat sendiri ke rumah sakit. Sebab, di jadwal periksa pertamanya ini, ia akan memeriksa bersamaan dengan Afifa, dan akan ditemani Bunda Sekar. Saat ini Aliya telah siap dengn pakaiannya. Sebuah dress selutut dengan sendal flat tanpa heels menjadi pilihannya kali ini


"Al, sudah siap Nak?" tanya Bunda Sekar dari luar kamar


"Sudah Bun, tunggu sebentar" Aliya segera keluar menemui sang Bunda, dan turun bersama ke ruang keluarga "Afifa sudah datang Bun?"


"Belum, mungkin sebentar lagi"


Tin... tin...


"Sepertinya itu Afifa" seru Bunda Sekar saat ia mendengar suara klakson mobil berbunyi "Ayo Nak" ajak Bunda sembari menggandeng tangan putrinya. Namun bukannya menurut, Aliya justru menahan langkahnya, membuat Bunda Sekar bingung "Kak?"


"Ayah di mana Bun?" tanya Aliya


Sebab ia tidak melihat Ayahnya pagi ini. Bukan hanya pagi ini saja, tapi beberapa minggu belakangan, ia juga sangat jarang melihat Ayahnya. Padahal, seingatnya Ayahnya selalu menghabiskan waktu dengan membaca di ruang keluarga, tapi entah mengapa kali ini berbeda. Tepatnya sejak ia datang ke rumah ini kembali, Ayahnya justru terlihat sangat pendiam, dan jarang menyapanya

__ADS_1


"Ayah ada di halaman belakang, mungkin sedang olahraga. Kenapa?" tanya Bunda


"Aliya mau pamitan dulu sebentar dengan Ayah"


"Ya sudah, biar Bunda antar"


"Tudak Bun, biar Aliya pergi sendiri saja"


"Baiklah"


Aliya segera berjalan menuju halaman belakang. Dari kejauhan, ia bisa melihat sang Ayah yang tengah merenggangkan ototnya dengan olahraga ringan. Aliya berusaha jalan mendekati sang Ayah


Fokus Tuan Daffa teralihkan saat mendengar suara putrinya mendekat. Ia tersenyum begitu lembut saat melihat kedatangan putrinya "Nak..."


"Ayah sedang apa?" tanya Aliya bodoh, padahal jelas jelas ia melihat bahwa saat ini sang Ayah tengah ber-olahraga


"Ayah sedang olahraga" jawab Tuan Daffa "Kenapa belum berangkat, Bunda bilang kalian akan ke rumah sakit untuk periksa kandungan?"

__ADS_1


"Aliya ingin menemui Ayah dulu saja. Aliya rindu dengan Ayah"


"Hahaha sejak kapan putriku merindukan Ayahnya, biasanya kau selalu gengsi untuk mengatakan rindu pada Ayah"


"Ayah..." rengek Aliya tak terima, ia bahkan sampai mengerucutkan bibirnya kesal


"Baiklah, kemarilah kalau begitu" Tuan Daffa menepuk kursi taman yang ada di halaman belakang itu, dan meminta sang putri untuk duduk bersamanya "Jadi ada apa, kenapa Kakak merindukan Ayah?"


"Ya rindu saja, memangnya tidak boleh?"


"Kenapa tidak? Tentu saja boleh"


"Aku pikir tidak boleh, karena selama aku di sini, Ayah justru terlihat tidak pernah merindukanku"


Pandangan Tuan Daffa menatap wajah putrinya dengan intens. Ia akui, sejak keberadaan putrinya di kediaman mereka, ia sama sekali tidak pernah mengungkapkan kerinduan pada putri tertuanya ini. Bukan hanya itu saja, ia bahkan terkesan menghindar saat akan bertemu dengan putrinya. Alasannya hanya satu, ia merasa bersalah atas apa yang menimpa putrinya, karena perjodohan itu terjadi atas keinginannya, dan ternyata pernikahan yang ia harapkan membawa perubahan dan kebahagiaan untuk putrinya, justru berubah menjadi bencana


"Yah..." panggil Aliya, membuat Tuan Daffa kembali tersadar dari lamunan panjangnya "Apa Aliya ada salah?"

__ADS_1


Tuan Daffa menggeleng sembari mengukir senyum tipis. Ia merentangkan tangan, meminta Aliya untuk masuk ke dalm pelukannya. Melihat isyarat itu, tanpa bantahan, Aliya segera membalas pelukan sang Ayah


"Maafkan Ayah Kak, Ayah tidak pernah bermaksud mendiamkanmu. Ayah hanya merasa bersalah karena telah memaksa menjodohkanmu. Ayah pikir, seiring berjalannya waktu, kau dan Alex akan bisa saling mencintai seperti Ayah dan Bunda. Tapi ternyata tidak semua jalan hidup itu sama. Ayah justru membuatmu berada dalam kepedihan dan kesakitan. Maafkan Ayah Nak"


__ADS_2