Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 42


__ADS_3

Aliya dan Alex sudah berada di dalam mobil yang di kemudikan oleh Mang Cecep. Tujuan mereka saat ini adalah rumah besar kediaman Dirgantara. Begitu tiba, keduanya segera turun dan masuk


"Assalamu'alaikum..." Alex dan Aliya mengucap salam bersamaan. Tidak lama, Bunda Sekar keluar, dan membukakan pintu


"Sayang, kalian sudah tiba. Ayo masuk"


"Al, kalian sudah pulang" sapa Tante Daffina, rupanya Tantenya ini belum pulang setelah menghadiri acar resepsi pernikahannya kemarin


"Tan..." Aliya dan Alex mencium punggung tangan wanita setengah baya itu bergantian


"Kalian sudah makan?" tanya Bunda Sekar


"Sudah Bun, tadi sarapan di hotel" jawab Aliya


"Ya, sudah kalian istirahat saja dulu. Afifa dan Bram juga sedang istirahat di kamar" ucap Nyonya Sekar


"Mereka di sini juga Bun?"

__ADS_1


"Iya, atas permintaan Ayahmu. Ya, sudah kalian istirahat ya"


Aliya mengangguk dan membawa Alex menuju kamarnya di lantai dua. Begitu masuk kamar, suara suara aneh memenuhi telinga Alex dan Aliya. Keduanya terlihat saling menatap, kemudian memalingkan wajah secara bersamaan. Ya, letak kamar yang tepat bersebelahan membuat Alex dan Aliya bisa mendengar suara suara aneh dari kamar Afifa, meskipun itu sangat lirih


"Kita ke balkon saja" ajak Aliya, menyadari suaminya yang tampaknya tidak nyaman. Jangankan suaminya, ia sendiri 'pun merasa tidak nyaman mendengar suara dari kamar sebelahnya


Begitu tiba di balkon, Aliya segera mengajak Alex untuk duduk berdampingan di sofa yang terdapat di sana. Lalu tanpa sungkan, Aliya merebahkan kepalanya di bahu Alex sembari memejamkan mata. Udara pagi yang masih cukup sejuk membuat Aliya merasa nyaman menghirupnya


"Kamar di rumah ini memang tidak memakai peredam suara?" tanya Alex


"Iya" jawab Aliya


"Kenapa?"


Melihat Aliya yang melakukan itu, Alex segera membekap mulut Aliya, dan mebawanya ke dalam pelukannya agar suara Aliya teredam dan tidak tidak terdengar oleh orang lain "Nanti di dengar orang" ucap Alex


"Memangnya kenapa, kita ini sudah sah jika kau lupa. Atau mungkin, kau ingin mencoba sensasi luar biasa untuk melakukannya, seperti melakukannya di sini contohnya" ucap Aliya. Namun lagi lagi mulutnya di bekap oleh Alex "Ish, rambutku jadi kusut kau tahu"

__ADS_1


"Iya iya maaf"


Alex kembali menegakkan tubuhnya seperti semula. Ia memandang halaman luas kediaman Dirgantara dari atas balkon kamar. Namun sesaat kemudian, ia sedikit terkejut saat Aliya menggenggam tangannya yang berhasil membuatnya menoleh kearah Aliya


"Jujur, aku masih tidak percaya jika kau dan Afifa tidak memiliki hubungan apa apa sebelumnya" ucap Aliya, mengungkap kegundahan hatinya


"Kenapa?" tanya Alex


"Tidak tahu, tapi aku rasa ada sesuatu diantara kalian yang belum aku ketahui" ucap Aliya sembari menatap wajah Alex "Semacam friend zone mungkin"


Alex mengusap punggung tangan Aliya yang tengah memegang tangannya "Percayalah, kami tidak memiliki hubungan apapun" ucap Alex yakin


"Berjanjilah untuk selalu terbuka padaku, jangan pernah tutupi apapun antara kau dengan siapapun. Karena aku berhak mengetahuinya" ucap Aliya


Alex kembali memandang wajah Aliya, kemudian ia mengangguk meski sedikit tak yakin. Aksi tatap tatapan antara Alex dan Aliya masih berlanjut, bahkan kini wajah Aliya terlihat semakin dekat dengan wajah Alex, membuat Alex menahan napasnya. Begitu Aliya memiringkn kepalanya hendak melakukan lebih, Alex justru melakukan hal di luar dugaan. Ia memalingkan wajahnya kearah lain


"Maaf..."

__ADS_1


Aliya kembali membuka matanya dan mendapati wajah Alex yang sudah kembali menjauh. Aliya sedikit kecewa di buatnya. Namun sebisa mungkin ia tetap mencoba tersenyum


"Aku paham, pernikahan kita memang terlalu cepat, dan kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk masa pengenalan, mungkin kau masih terkejut dengan apa yang aku lakukan, tapi aku hanya ingin menunjukkan bahwa inilah aku. Aku tidak suka menunggu, saat aku menginginkan, maka aku yang akan memintanya"


__ADS_2