Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 21


__ADS_3

Afifa turun dari lantai atas dengan mengenakan piyama tidur. Membuat seluruh anggota keluarga yang melihat sedikit bertanya tanya. Sebab, ini adalah kejadian langka bagi mereka, melihat Afifa mengenakan setelan piyama di pagi hari. Biasanya, Afifa akan keluar dari kamar dengan setelan rapi, karena bagi Afifa tiada hari tanpa bekerja


"Pagi Tan, Bund" sapa Afifa pada Bunda dan Tante Daffina yang tengah menyiapkan sarapan bersama asisten rumah tangga


"Pagi Sayang, kau tidak ke kantor hari ini?" tanya Bunda Sekar


"Tidak Bun, aku ingin mencari buku bacaan siang nanti. Stok buku-ku hampir habis" Afifa menuang air putih dan meminumnya


Bunda Sekar dan Tante Daffina saling lirik. Ini memang akan terdengar aneh bagi sebagian orang, sebab jika biasanya para wanita lebih memusingkan alat make-up yang habis, maka bagi Afifa, kehabisan buku bacaan adalah suatu bencana. Ya, terdengar aneh, tapi itulah kenyataannya


Afifa melirik kearah tangga saat mendengar suara siulan dan senandung kecil. Dapat di pastikan jika itu adalah ulah Bara dan Aliya. Ya, dua orang itu adalah penyuka seni, jadi tidak heran jika mereka terus menerus bersenandung saat merasa bahagia, atau sedih sekalipun.


Ini memang terdengar sedikit aneh, putra dan putri dari keluarga pengusaha, justru memilih jalan seni sebagai jalan hidupnya. Namun yang membedakan adalah, Aliya di bebaskan dengan dunia seninya tanpa di tuntut untuk memahami bisnis. Sedangkan Bara, sebagai anak laki laki tunggal dari seorang pengusaha terkenal, maka ia di tuntut untuk memahami segala hal tentang perusahaan, tanpa menghalangi hobinya pada dunia seni


"Pagi Bun, Tan" sapa keduanya


"Pagi... ayo silahkan duduk, kita sarapan dulu" ajak Tante Daffina pada dua keponakannya

__ADS_1


"Sabila kemana Tan?" tanya Bara


"Ada, sedang olahraga bersama Papanya. Sebentar, Tante panggilkan dulu" Tante Daffina berlalu dari ruang makan


"Bunda masak apa pagi ini?" Aliya mendekati Bundanya, dan melihat beberapa hidangan yang tersaji


"Menu sehat Kak, ada sayur bayam, lalu ayam bakar kesukaan Ayah. Ada ikan pecak kesukaan kalian berdua, dan ini... ayam saus mentega, kesukaan putra Bunda" tunjuk Bunda Sekar pada berbagai menu yang tersaji


"Bunda memang yang terbaik, sayang Bunda" Aliya memeluk sang Bunda, dan melabuhkan kecupan di pipi Bundanya


"Ayah di mana Bun?" tanya Afifa


"Ayah di sini" terdengar suara Tuan Daffa yang juga ikut bergabung di meja makan "Afifa tidak ke kantor hari ini?" tanya Tuan Daffa saat menyadari tampilan putrinya yang berbeda


"Tidak Yah, aku libur hari ini"


"Ada apa? Ada sesuatu yang spesial?"

__ADS_1


"Tidak, aku hanya ingin mencari bahan bacaan saja hari ini, stok buku-ku hampir habis"


Tuan Daffa mengangguk mendengar penjelasan putrinya. Ia kemudian beralih pada Bara "Bara? Hari ini ke kampus 'kan?"


"I-iya Yah, ada apa memangnya?" tanya Bara


"Tidak apa apa, Ayah khawatir saja kalau kau tidak ke kampus" ucap Tuan Daffa


"Memang, kalau Kak Bara tidak ke kampus, lalu dia akan kemana Yah?" tanya Sabila kepo


"Coba tanyakan padanya" ucap Tuan Daffa menunjuk sang putra dengan dagunya


"Kau kemana jika tidak ke kampus Kak?" tanya Sabila, tampaknya gadis itu memang memiliki tingkat ke-kepoan tingkat tinggi


"Anak kecil di larang kepo"


"Ish..."

__ADS_1


__ADS_2