
Afifa berdiri di depan kamar yang sudah di tunjuk oleh Nyonya Rengganis sebelumnya. Ia masih belum berani untuk masuk. Walaupun tadi malam ia dan Bram sudah tidur bersama, tapi tetap saja Afifa merasa canggung
"Masuklah"
Afifa tersentak mendengar suara Bram dari dalam sana. Ia tidak langsung masuk setelah mendengar Bram yang memerintahkannya masuk. Yang ia lakukan adalah meneliti setiap bagian luar kamar Bram. Mencari jika saja ada celah yang membuat Bram mengetahui keberadaannya. Namun ia sama sekali tidak melihat apapun
"Apa dia memiliki indra ke-enam?" monolog Afifa
Ceklek
"Kenapa tidak masuk?" tanya Bram saat ia membuka pintu dan mendapati Afifa di depan kamarnya
"Kau tahu aku di sini?" alih alih menjawab pertanyaan Bram, Afifa justru malah balik bertanya
"Tentu saja"
"Dari mana? Apa kau punya kemampuan khusus?"
Bram terkekeh, dan meraup wajah Afifa dengan tangannya "Kurang kurangi membaca novel fantasi"
"Lalu bagaimana kau mengetahuinya?" tanya Afifa penasaran
"Sudahlah, ayo masuk"
Afifa melangkah perlahan ke dalam kamar Bram. Ia meneliti setiap sudut kamar, hingga pandangan matanya berlabuh pada sebuah foto keluarga. Dimana di dalam foto itu terdapat empat anggota keluarga, dengan senyum ceria
"Itu keluargaku, keluarga Pradipta"
__ADS_1
Afifa membawa foto itu untuk ia bawa menuju Bram "Jadi, kau memiliki adik?"
"Dulu iya, tapi sekarang sudah tidak. Ia dan kedua orang tuaku sudah di syurga" ucap Bram
"Maaf..."
"Tidak apa apa" Bram memilih duduk di ranjang, kemudian menarik tangan Afifa agar duduk di sampingnya "Sebelum kau tahu dari orang lain, aku ingin mengatakan padamu bahwa dulu waktu aku kecil, kedua orang tuaku sangat mengharapkan aku untuk menikah dengan gadis kecil yang menjadi tetangga kami. Tapi kemudian Ayah gadis itu di pindah tugaskan, dan membuat kami tidak lagi bertemu"
"Apa waktu itu, kau menyukai gadis itu?" tanya Afifa
"Kagum mungkin, tapi suka... aku rasa tidak"
"Kenapa?"
"Tidak apa apa, ini hanya perkara hati, dan aku tidak menyukainya"
"Jangan 'kan waktu kecil, sekarang saja aku tampan" ujar Bram
Afifa mendelik mendengar ucapan Bram "Kau itu memang dasar narsis, sama seperti Aliya"
"Oh ya? Apa memang sebenarnya kita ini adalah jodoh yang tertukar? Karena setahuku, jodoh itu adalah cerminan diri, mungkin saja cerminan ke-narsisanku ada pada Aliya. Bukan begitu?"
"Ya, kalau begitu menikahlah dengan Aliya sana" ucap Afifa ketus
Bram tertawa mendengar ucapan Afifa. Ia lantas menggeser duduknya menjadi lebih dekat, dan membawa Afifa ke dalam pelukannya. Afifa yang menerima pelukan secara tiba tiba, merasakan dadanya bergetar hebat, ia bahkan sampai menahan napas saking grogi-nya
"Fa..." panggil Bram "Afifa, kau mendengarku 'kan?"
__ADS_1
"Ya, ada apa?"
"Tidak, lupakan saja"
"Dasar, tidak jelas" Afifa memukul kecil dada Bram
Bram tersenyum mendengar cibiran yang di lontarkan Afifa. Ia kembali mengeratkan pelukannya, dan menghirup dalam dalam aroma tubuh Afifa. Bahkan, bukan hanya itu, ia juga melabuhkan kecupan kecupan hangat di puncak kepala Afifa. Membuat Afifa menjadi kian berdebar
"Fa..."
"Ada apa lagi?" tanya Afifa ketus
Ya, Afifa sedikit kesal karena tadi Bram memanggilnya, lalu tanpa rasa bersalah mengatakan tidak jadi. Namun sedetik berikutnya, ia merasakan tubuhnya terdorong, dan wajahnya berhadapan dengan wajah Bram. Dapat Afifa lihat bulu bulu halus yang tumbuh di sekitar rahang Bram, dan Afifa akui, jika Bram memang jauh lebih tampan dengan bulu bulu itu
"Kalau aku meminta hak-ku malam ini, apa boleh?" tanya Bram hati hati
Ya, bagaimana 'pun ia adalah laki laki normal, dimana tubuhnya akan bereaksi jika berhadapan dengan wanita, terlebih wanita yang ia cintai. Tadi malam, ia berusaha menahan dirinya untuk tidak menyentuh Afifa, sebab ia sedikit merasa sungkan, tapi jangan tanya seberapa tersiksa dirinya. Karena tadi malam, ia dan Afifa tidur dalam satu ranjang, bahkan dalam selimut yang sama. Jadi bisa di bayangkan apa yang ia rasakan tadi malam. Namun malam ini, entah keberanian dari mana, Bram dengan berani mengungkapkan keinginannya
Afifa menatap wajah Bram begitu dalam. Jauh di dalam hatinya, ia sangat takut untuk mengiyakan permintaan Bram, karena ia takut laki laki itu akan meninggalkannya. Namun ia sadar, saat ini, posisinya adalah seorang istri, dan Bram adalah suaminya, hal yang wajar jika ia memberikan sesuatu yang berharga dalam dirinya kepada Bram. Apalagi, ia juga tahu, akan berdosa baginya jika menolak permintaan suaminya
"Berjanjilah padaku untuk tidak meninggalkanku" ujar Afifa, dan tanpa berpikir lagi, Bram segera menganggukan kepalanya
"Aku berjanji atas nama Allah, bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu"
Dengan tangan bergetar, Afifa memberanikan diri untuk mengusap rahang Bram "Aku milikmu Bram"
Bram memejamkan matanya menikmati usapan tangan afifa. Malam ini, adalah malam yang paling membahagiakan bagi Bram, karena akhirnya ia bisa memiliki wanita pujaan hatinya sepenuhnya. Jika tadi malam ia masih tersiksa, maka malam ini ia merasa bahagia. Sebab, hal yang memang seharusnya terjadi sejak tadi malam, akhirnya ia rasakan malam ini
__ADS_1