
"Ayo Fa" ajak Aliya membuat Bram dan Alex mengernyit secara bersamaan
"Al, ini maksudnya apa? Apa kita akan pergi ber-empat?" tanya Alex
"Iya, apa kau keberatan?"
"Tidak" jawab Alex. Ya ia sama sekali tidak keberatan, hanya sedikit merasa aneh saja
"Good, Bik... tolong bawakan kopernya ke mobil ya" teriak Aliya
"Koper? Koper apalagi?" kali ini giliran Bram yang bertanya
"Kenapa? Bukankah kita akan ke Lampung, jadi kita harus memiliki persiapan pakaian untuk dibawa ke sana 'kan?" ucap Aliya
__ADS_1
"Ke Lampung?" ucap Alex dan Bram bersamaan
"Kalian kenapa terkejut?" tanya Aliya heran
"Jadi, kita akan memakan makanan khas Lampung di Lampung-nya langsung?" tanya Alex memastikan
"Tentu saja" jawab Aliya "Sudahlah, ayo kita berangkat"
Aliya menarik tangan Afifa keluar lebih dulu. Di belakang mereka, Alex dan Bram tampak masih kebingungan, tapi mereka tetap mengikuti langkah istri mereka untuk keluar rumah. Begitu tiba di teras depan, terlihat Mang Cecep yang tengah memasukkan dua koper ke dalam bagasi
"Sudah Non" jawab Mang Cecep
Mang Cecep membukakan pintu untuk majikannya tersebut. Alex dan Aliya berada di kursi tengah, sedangkan Bram dan Afifa berada di kursi belakang. Setelah semuanya siap, Mang Cecep segera melajukan kendaraannya menuju bandara
__ADS_1
*
Alex dan Bram masing masing membawa koper milik istri mereka. Sedangkan dua ibu hamil itu terlihat jalan mendahului mereka menuju mobil yang di siapkan Udo Aksa diluar bandara. Ya, setelah memakan waktu tempuh beberapa jam dari Jakarta ke Lampung, akhirnya mereka tiba di Lampung dengan selamat tanpa ada hambatan. Karena memang, sebelum memutuskan untuk mengunjungi Lampung, Aliya dan Afifa sudah menanyakan tentang kehamilan mereka pada dokter Zonya, dan Dokter Zonya mengatakan bahwa kehamilan mereka cukup baik untuk melakukan perjalanan ini, maka dari itu akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengunjungi Lampung bersama suami mereka
Mobil mulai melaju menuju Bangkunat, sebuah kecamatan yang letaknya paling ujung di kabupaten Pesisir Barat, Lampung ini. Perjalanan dari bandara Krui menuju Bangkunat kurang lebih memakan waktu satu setengah jam, dan waktu yang cukup panjang itu, Aliya dan Afifa gunakan untuk mengistirahatkan tubuh mereka dengan tidur sepanjang jalan. Sedangkan para suami mereka hanya diam dengan segala pikiran dan pertanyaan dalam benak mereka
"Pak, apa akan ada acara keluarga di kediaman Bumantara?" tanya Bram pada sopir keluarga Om Gavin
"Setahu saya tidak ada Tuan" jawab sopir tersebut
"Lalu kenapa kita harus ke Lampung?" tanya Bram pada Alex, sedangkan Alex hanya mengangkat bahunya karena ia 'pun sama tidak mengertinya dengan Bram
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang. Setelah menghabiskan waktu satu jam setengah, akhirnya mobil yang membawa mereka berhenti di depan rumah kediaman Bumantara. Alex dan Bram memandang rumah bergaya tradisional tersebut dengan kagum. Sebab, rumah itu terlihat sangat indah dan unik dengan ornamen ornamen tradisional, dan lagi, rumah tersebut dibangun dengan 90% kayu, bukan beton atau lainnya.
__ADS_1
Alex memang pernah mengunjungi Lampung beberapa waktu tang lalu. Tapi, ia bukan mengunjungi rumah ini, melainkan rumah milik Udo Aksa yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah utama ini, dan rumah Udo Aksa tidak terlalu kental dengan ornamen tradisional seperti rumah utama ini. Karena rumah Udo Aksa sudah terlihat modern, dengan bahan dasar yang terbuat dari beton
"Silahkan Tuan" sopir membukakan pintu mobil untuk Tuan dan Nonanya, membuat Bram dan Alex tersadar dari lamunan mereka, dan segera membangunkan istri mereka untuk segera turun.