Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 91


__ADS_3

Alex menatap kepergian mobil yang membawa istrinya dengan tatapan sendu. Sudah satu bulan lamanya ia menanti saat ini. Saat dimana ia bisa bertemu dengan istrinya. Karena selama satu bulan ia mengunjungi kediaman Dirgantara, ia sama sekali tidak pernah melihat Aliya, dan hari ini takdir seolah berpihak padanya, tapi ternyata itu hanya sesaat, karena kini harapannya untuk meminta maaf pupus begitu saja setelah istrinya pergi


Alex menatap ketoprak di tangannya, seulas senyum tipis terbit di bibirnya saat teringat Aliya yang memesan ketoprak dengan reques yang sama persis sepertinya. Ia jadi sedikit bertanya, apa jangan jangan keinginan keinginan aneh yang kerap ia rasakan selama ini juga di rasakan oleh istrinya?


Sedangkan Aliya. Setelah pertemuannya dengan Alex tadi, Aliya lebih banyak diam. Bahkan hingga mobil berhenti di depan rumah mereka 'pun Aliya masih belum bersuara. Ia masuk lebih dulu ke dalam rumah, meninggalkan Bunda Sekar dan Afifa di belakangnya


"Kak..." sapa Bram, rupanya laki laki itu sudah di sini untuk menjemput istrinya. Namun sayang sekali, sapaannya sama sekali tidak di jawab oleh Kakak Iparnya


"Bram..." terdengar suara Afifa yang mendekat, dan langsung saja di sambut pelukan oleh sang suami


"Kak, kenapa panggilannya masih Bram? Ubah panggilannya ya, tidak enak di dengar" saran Bunda Sekar saat mendengar anaknya lagi lagi memanggil suaminya dengan nama


"Iya Bun, aku belum terbiasa saja" ucap Afifa


"Ya sudah, nanti ganti panggilannya, masa dengan suami sendiri panggilnya nama" peringat Bunda


"Iya Bun"


"Ya sudah, Bunda ke kamar ya"


Bram dan Afifa mengangguk bersamaan. Begitu Bunda Sekar sudah tak terlihat lagi. Bram menoel perut istrinya membuat sang istri melotot karena merasa geli


"Bram geli" ucap Afifa

__ADS_1


"Sayang, panggilnya Sayang mulai sekarang" ucap Bram sembari tersenyum menggoda


"Ish, masa harus panggil Sayang, seperti anak remaja pacaran saja"


"Tidak apa apa 'kan. Lagipula kau memanggil Sayang juga dengan suami sendiri, lalu apa masalahnya?"


"Ish tapi aku malu" keluh Afifa


"Tidak apa apa, kalau begitu kau panggil aku Hubby saja"


"Itu lebih memalukan lagi"


"Baiklah, kalau begitu panggil saja Honey"


"No, itu terdengar alay"


"No!"


Bram menghela napas kasar saat panggilan panggilan yang ia usulkan di tolak oleh istrinya "Ya sudah, panggil nama saja lagi" ucap Bram lemas


Afifa terkekeh melihat ekspresi suaminya. Ia lantas mencubit hidung mancung sang suami, dan memeluknya dengan erat "Kau lucu sekali kalau merajuk"


"Aku tidak merajuk" sangkal Bram

__ADS_1


"Benarkah? Lalu kenapa wajahmu ditekuk begitu?"


"Hanya sedikit kesal saja" jawab Bram, ia lalu menundukkan tubuhnya dan mencium perut sang istri, membuat Afifa kian merasa geli


"Papa jangan seperti itu" ucap Afifa


"Apa tadi, Papa?" tanya Bram


"Iya, mungkin aku akan memanggilmu Papa saja, seperti panggilan anak kita nanti"


"Tapi itu malah terdengar seperti panggilan Sugar baby Sayang" keluh Bram


"Tidak, itu justru terdengar romantis" ucap Afifa


"Itu aneh"


"Tidak, ini unik"


"Unik dan aneh itu hanya beda tipis Sayang. Pokoknya aku tidak suka" ucap Bram sembari terus menduselkan hidungnya pada perut sang istri. Lalu tiba tiba ide gila muncul di otaknya, ia mendongak sebentar untuk menatap istrinya yang ternyata juga tengah menatapnya. Ia lantas melingkarkan kedua tangannya, dan menggigit kecil perut istrinya dengan gemas


"Hahaha Bram... itu geli sekali"


"Ini hukuman untukmu Sayang"

__ADS_1


Afifa dan Bram tertawa begitu keras di ruang keluarga. Membuat Aliya yang hendak menuju dapur, memilih menghentikan langkahnya. Ya, tadi Aliya sudah masuk ke kamarnya, tapi tiba tiba saja ia merasa haus, tapi ternyata air minum di kamarnya habis. Jadilah ia memutuskan untuk mengambil air di dapur. Namun baru saja menuruni tangga, ia sudah dibuat iri dengan keromantisan antara Adik dan Iparnya


"Jangan sedih ya Nak, ada Mama yang akan memastikan kebahagiaanmu. Mama akan pastikan kau bahagia walau tanpa Papa"


__ADS_2