
Di kediaman Bram dan Afifa. Bram masih berlutut dan memunguti sepihan gelas yang berserakan di lantai. Tadi, begitu bangun tidur, Bram berinisiatif untuk membuatkan susu hamil untuk istrinya, tapi ternyata istrinya justru meminta untuk ikut ke dapur, dan Bram jelas tidak bisa menolak. Namun begitu susu telah selesai ia buat dan ia berikan pada istrinya. Gelas susu tersebut seakan jatuh begitu saja dari tangan sang istri
"Sayang, ada apa?" tanya Bram sembari mendekati istrinya yang sudah duduk di kursi meja makan setelah sebelumnya membereskan kekacauan yang terjadi pagi itu
"Aliya..." ucap Afifa lirih
"Ada apa? Apa terjadi hal yang buruk pada Aliya?"
"Aku tidak tahu, tapi aku merasa mencemaskan dirinya, entah karena apa"
Bram memilih duduk di samping istrinya dan membawa sang istri ke dalam pelukannya "Sudahlah, semoga itu hanya perasaanmu saja. Semoga Aliya baik baik saja"
"Iya, semoga saja"
*
Pagi ini Aliya terbangun dari tidurnya, dan mendapati wajah tampan yang tertidur lelap dalam pelukannya. Begitu mata kecil itu mengerjab dan hendak terbuka, Aliya segera menutup matanya kembali. Dapat ia rasakan ranjang yang sedikit bergerak karena pergerakan seseorang di sampingnya
"Ate, bangun sudah siang"
__ADS_1
Aliya membuka matanya perlahan seolah ia baru terbangun dari tidurnya. Ia melihat bocah menggemaskan di sampingnya "Sudah pagi ya?" tanya Aliya
"Ini siang Ate, bukan pagi lagi" ucap anak laki laki itu
"Hm? Iya, kau benar, ini sudah siang ternyata. Kalau begitu, mau madi bersama Ate?" ajak Aliya
"Tidak, Arka bisa mandi sendiri" jawab bocah itu. Ia lantas turun dari ranjang dengan susah payah, karena ranjang yang cukup tinggi untuk anak anak seusianya
Begitu anak itu keluar, Aliya menatap perutnya sembari mengelusnya pelan "Aku hamil?" monolog Aliya
Aliya masih tak percaya jika saat ini ada kehidupan lain di dalam perutnya yang sialnya merupakan benih dari laki laki yang saat ini ia benci. Aliya menghela napasnya, bagaimanapun keadaannya, anak ini pernah sangat ia nantikan untuk membuat rumah tangganya tetap utuh. Tapi ternyata kehadiran anak ini justru di saat keluarganya tidak baik baik saja. Lalu ia harus bagaimana sekarang? Menggugurkan? Tidak, ia tidak akan se-tega itu. Walaupun tadi malam ia sempat mengatakan tidak sudi mengandung benih dari laki laki itu, tapi itu hanya sebuah luapan emosi semata. Karena nyatanya ia tidak akan tega membunuh anak yang tidak bersalah itu
"Nyenyak Ka"
"Syukurlah" ucap Kaka Nia, istri dari Aksa "Langsung mandi ya, kami tunggu di meja makan"
Nia segera keluar dari kamar Aliya. Begitu melihat Kakak Iparnya keluar, Aliya lekas masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah itu ia bergabung ke ruang makan apartemen sepupunya
Ya, apartemen. Aliya beserta Aksa dan keluarga kecil Aksa berada di apartemen milik Aksa. Tadi malam, begitu Aksa dimintai tolong oleh Aliya untuk menjemput wanita itu di kediaman Wijaya, ia langsung mengiyakan tanpa menolak karena memang ia tengah melakukan perjalanan bisnis ke Ibukota bersama anak dan istrinya. Jadilah saat ini mereka tinggal di apartemen
__ADS_1
"Morning Arka" sapa Aliya
"Morning Ate" sapa Arka kembali "Ish Ate belum mandi ya?"
"Ha? Sudah, kenapa memangnya?"
"Iler Ate masih ada"
"Benarkah?"
Aliya meraba wajahnya dan di sekitar mulutnya. Namun ia tidak merasa ada yang aneh. Sedangkan Aksa dan Nia tersenyum tipis karena melihat putra mereka yang mengerjai Aliya
"Eh, tunggu dulu. Kau mengerjaiku ya?" ucap Aliya tidak lupa dengan tatapan tajamnya yang hanya di jawab Arka dengan cengiran "Dasar bocah nakal"
"Sudah sudah, ayo sarapan dulu" ajak Ka Nia
Mereka mulai menyantap sarapan pagi mereka. Setelah selesai, Aliya kembli ke kamarnya lebih dulu, meninggalkan Aksa bersama anak dan istrinya di ruang makan. Sedangkan Aksa ia memandang punggung adik sepupunya dengan sendu
"Maafkan Udo, Al. Tapi inilah yang terbaik"
__ADS_1