Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 31


__ADS_3

Tiga iringan mobil dari Bogor telah tiba di Jakarta. Bahkan, kini tiga mobil tersebut telah memasuki pekarangan rumah keluarga Dirgantara. Begitu mobil berhenti, mereka semua segera turun dan masuk ke dalam rumah. Di dalam sana, tepatnya di ruang keluarga, Aliya dan Bara tampak sudah duduk menunggu. Begitu mendengar pintu terbuka, keduanya segera bangkit, dan melihat siapa yang datang


"Yah, Bun... Ehh ada Om dan Tante juga?" Aliya dan Bara menyalami semua orang yang datang


"Apa kabar Nak?" tanya Nyonya Rengganis pada calon menantunya


"Aku baik Tan"


"Syukurlah"


Pandangan Aliya teralihkan dari orang tua dan calon mertuanya, kini matanya justru terfokus pada Afifa dan Bram yang juga ada di sana "Kalian sudah kembali, kenapa cepat sekali? Seingatku kau mengatakan akan pergi untuk beberapa hari" ujar Aliya pada Afifa


"Al, duduklah. Biar Ayah jelaskan apa yang terjadi pada adikmu" ujar Tuan Daffa


"Ada apa sebenarnya Ayah, kenapa Ayah terlihat serius sekali?"


"Duduklah"


Mendengar perintah sang Ayah, Aliya segera menurut. Ia kembali duduk bersama yang lain. Begitupun dengan Afifa dan Bram

__ADS_1


"Jadi ada apa Yah?" tanya Aliya penasaran


"Adikmu mengalami musibah kemarin" ucap Tuan Daffa


"Musibah?"


"Ya, kau tahu adikmu sangat takut dengan kegelapan, dan kemarin secara kebetulan lampu penginapannya mati total, dan Bram yang memang mengetahui tentang phobia adikmu, akhirnya berusaha untuk membantu menenangkan, tapi ternyata mereka malah di fitnah warga, dan di minta untuk menikah saat itu juga" jelas Tuan Daffa


"Dan mereka sudah menikah?" tanya Aliya memastikan yang di jawab anggukan oleh semua orang "Itu artinya, kau melangkahiku?" tanya Aliya pada Afifa


Afifa yang di tanya demikian hanya menundukkan kepalanya. Ia takut jika Aliya sampai marah padanya. Karena, ia dan Aliya pernah berjanji, jika mereka tidak melangsungkan pernikahan bersamaan, maka Afifa tidak boleh menikah jika Aliya belum menikah. Namun kini, secara tidak sengaja, Afifa justru melanggar janji mereka


"Kau tidak marah?" tanya Afifa bodoh


"Kenapa aku harus marah?"


"Karena aku melangkahimu"


"Ish, justru itu bagus. Karena kalau kau mendahuluiku, maka itu artinya aku akan mendapatkan uang yang sangat banyak" seru Aliya

__ADS_1


Tanpa kata, Afifa segera memeluk Aliya dengan erat. Membuat Aliya sedikit terhuyung karena Afifa yang memeluknya secara tiba tiba. Namun tak urung, Aliya juga ikut membalas pelukan adiknya


"Kak, aku juga ingin berpelukan" Bara mulai merentangkan tangannya hendak memeluk kedua saudaranya. Namun belum juga berhasil memeluk, tatapan tajam dari Aliya sudah membuat Bara menciut


"Jangan peluk peluk, enak saja, memang kami ini wanita apaan?"


"Ish, kalian itu saudaraku jika kalian lupa" sungut Bara "Ya sudah kalau kalian tidak mau memelukku, aku memeluk Kak Bram saja"


"Hei, dia suamiku" Afifa menarik kerah baju Bara agar menjauh


"Bunda..." Bara mendekati Bundanya dengan merengek, tentunya Bunda Sekar segera menyambut pelukan putranya


"Rumah tangga kalian harmonis sekali ya Jeng" ujar Nyonya Rengganis


"Alhamdulillah Jeng, anak anak memang sumber kebahagiaan" jawab Nyonya Sekar


"Iya, dulu aku juga berniat memiliki anak yang banyak, tapi Papanya Alex melarang, katanya tidak tega melihat aku kesakitan saat melahirkan" ujar Nyonya Rengganis "Tapi untuk anak dan keponakanku, kalian harus memberikan cucu yang banyak untuk Mama" ujar Nyonya rengganis pada Afifa, Aliya dan Bram tentunya


"Pasti Tan" jawab Bram

__ADS_1


"Good boy"


__ADS_2