
"Ingat, tidur jangan lupa mengunci pintu" peringat Bram
"Iya, aku masuk ya, good night"
"Good night"
Setelah memastikan Afifa masuk ke kamar dan mengunci pintu. Barulah Bram masuk ke kamarnya. Bram sendiri tidak langsung tidur, ia memilih membaca beberapa email yang masuk ke ponselnya, dan membalasnya jika di perlukan. Cukup lama waktu yang Bram habiskan untuk bermain ponsel, setelah itu ia meletakkan ponselnya, dan bersiap tidur. Namun barusaja hendak merebahkan tubuhnya di kasur, Bram kembali bangkit saat lampu di kamarnya tiba tiba mati. Ia bangkit, dan melihat ke luar melewati jendela kamarnya, dan ternyata lampu di desa ini mati total
"Afifa..." monolog Bram, Bram bergegas keluar dari kamarnya menuju kamar Afifa, bahkan ia beberapa kal8 hmpir menabrak pintu karena tidak adanya pencahayaan. Ya, dia lupa membawa ponselnya tadi "Afifa, hei jangan takut oke, sekarang buka pintunya. Fa... Afifa..."
Bram terus menggedor pintu kamar Afifa. Karena terlalu khawatir, ia mencoba mendobrak pintu itu, tapi ternyata pintu tersebut masih cukup kokoh. Tidak kehabisan akal, Bram mengambil kunci kamar miliknya, kemudian mencocokkan pada pintu kamar Afifa, dan keajaiban terjadi, pintu kamar miliknya cocok, sehingga ia bisa membuka pintu kamar tanpa harus merusaknya
"Fa, Afifa..."
Bram berjalan pelan sembari mencari keberadaan Afifa, ia meraba berbagai tempat, untuk mencari keberadaan Afifa. Sebab, kamar Afifa benar benar gelap tanpa ada celah untuk cahaya bulan masuk. Begitu melihat bayangan Afifa yang meringkuk di bawah ranjang, dengan segera Bram menghampiri, dan memeluknya
"Shut... Tenang oke, ada aku"
__ADS_1
Bram terus mengelus punggung Afifa yang sudah bergetar karena tangisnya. Secara perlahan, Bram menuntun Afifa untuk naik keatas ranjang. Ia melihat keluar kamar dari jendela, nampaknya masih belum ada tanda tanda lampu akan hidup, sementara Afifa sudah sangat ketakutan.
"Di mana kau meletakkan ponselmu?" tanya Bram. Namun Afifa sama sekali tidak menjawab, membuat Bram akhirnya meraba di setiap sisi nakas, dan ranjang. Ketemu, Bram bisa merasakan jika benda persegi itu sudah menyentuh tangannya, Bram buru buru mengambil ponsel tersebut. Namun semua itu ia urungkan saat tiba tiba lampu ruangan hidup seketika, diiringi dengan teriakan keras dari arah pintu
"Apa yang kalian lakukan?"
Bram dan Afifa saling tatap saat mendengar teriakan keras itu, dan mereka baru menyadari jika posisi mereka saat ini begitu dekat. Bahkan, Afifa berada dalam kungkungan tubuh Bram. Karena tadi, dan ponsel Afifa berada di dekat bantal, sehingga mengharuskan Bram sedikit merebahkan tubuh untuk tetap bisa memeluk Afifa, dan meraih ponsel secara bersamaan
"Mereka sudah pasti berbuat tak senonoh Pak" salah satu warga menyahuti
"Tidak tidak, kalian salah paham. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan" sangkal Bram
"Tidak Pak, kami berani bersumpah, kami tidak melakukan hal tak senonoh" sangkal Bram, ia bangkit dari duduknya dan mencoba untuk menjelaskan pada warga yang ada
"Tidak melakukan, atau belum melakukan karena keburu kepergok? Sudahlah Pak, kita bawa saja mereka ke Balai Desa" ucap salah satu warga kepada kepala desa
"Tidak Pak, kalian semua salah paham. Saya dan teman saya tidak melakukan apapun" ucap Bram "Fa, ayo katakan bahwa kita tidak melakukan itu" pinta Bram, meminta Afifa untuk ikut bersuara. Namun Afifa yang masih merasa ketakutan karena insiden mati lampu tadi, lidahnya terasa kelu. Bahkan iya ia tidak mampu untuk sekedar menggelengkan kepala. Yang ia lakukan hanya memeluk dirinya sendiri, karena masih merasa takut
__ADS_1
"Lihat Pak, wanitanya ketakutan, pasti laki laki ini memaksanya" seru warga lain
Melihat Afifa yang masih belum sadar dari keterkejutannya. Bram tidak lagi menghiraukan para warga yang berada di ambang pintu. Ia justru kembali mendekati Afifa dan memeluknya
"Fa, tenang lah, kendalikan dirimu. Aku ada di sini" bisik Bram
"Lihat, mereka berani melakukannya secara terang terangan" tunjuk bapak bapak lainnya
"Iya, padahal di sini masih ada kita. Sudahlah Pak, mereka benar benar melewati batas. Sebaiknya, kita bawa mereka ke Balai Desa sekarang juga, kita harus segera menikahkan mereka, atau Desa kita akan mengalami bencana"
"Iya benar" semua warga saling bersahutan membenarkan ucapan salah satu warga tadi
Pak Kepala Desa mendekat kepada Bram dan Afifa "Tolong ikut kami ke Balai Desa sekarang Nak" ajaknya
"Tidak Pak, teman saya masih shock, tolong beri kami waktu" mohon Bram
"Halah, itu hanya alasan mereka saja Pak, mereka pasti sengaja mengulur waktu agar bisa kabur"
__ADS_1
"Ya, benar" suara warga kembali saling bersahutan
"Bapak Bapak tenang, tenang, biarkan mereka tenang dulu. Kita tidak bisa main hakim sendiri seperti ini" seru Kepala Desa