Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 85


__ADS_3

"Tapi mengenai foto itu, aku rasa ini bukan hanya sebuah kesalahpahaman saja. Tapi juga ada unsur kesengajaan" ucap Bram


"Ya, aku juga berpikir sama sepertimu" timpal Afifa


"Kalian cukup pintar ternyata" puji Aksa "Ini memang kesengajaan. Seseorang sengaja membayar seseorang untuk menyerupai Alex, lalu memberikan fotonya pada Aliya, tujuannya untuk membuat Aliya dan Alex berpisah" jelas Aksa


"Lalu apa tujuan mereka?" tanya Afifa


"Untuk mendapatkan Aliya"


"Maksud Udo?"


"Laki laki itu menginginkan Aliya, tapi Aliya terus menolaknya. Tapi begitu laki laki itu tahu mengenai pernikahan Alex dan Aliya, laki laki itu menjadi murka"


"Udo sudah tahu mengenai ini?" tanya Afifa penasaran


"Aku sudah menangkap wanita yang mengaku hamil anak dari Alex itu, dan aku juga sudah tahu siapa yang menyuruhnya melakukan itu"


Tuan Daffa yang sejak tadi hanya menjadi pendengar obrolan anak anaknya, seketika menegakkan tubuhnya saat mendengar penuturan Aksa "Siapa orangnya?" tanya Tuan Daffa


"Smith Erlangga"


"Smith Erlangga?" tanya Tuan Daffa memastikan yang di jawab anggukan dari Aksa. Begitu melihat anggukan yakin dari Aksa, Tuan Daffa mengeluarkan ponselnya dan menghubungi putra bungsunya yang masih berada di perusahaan


"Halo Ayah, ada apa?" terdengar suara Bara di ujung telepon sana

__ADS_1


"Putuskan hubungan kerja sama dengan perusahaan Erlg'company" ucap Tuan Daffa begitu saja, membuat Bara yang ada di ujung sana terdiam


"Maksud Ayah?"


"Black list nama perusahaan itu dari perusahaan kita, Ayah ingin dia tahu, dengan siapa ia berhadapan"


Meski terlihat bingung, Bara akhirnya mengangguk, seakan anggukannya terlihat oleh sang Ayah "Sesuai perintah Ayah"


Tut


Begitu panggilan terputus, Tuan Daffa kembali memandang anak, menantu serta keponakannya satu persatu "Ayah juga ingin kalian memutus hubungan kerja sama dengan perusahaan itu" ujar Tuan Daffa


"Pasti Ayah"


*


"Al... ini aku" ucap Afifa


"Masuklah Fa"


Afifa membuka pintu kamar, dan mendapati Aliya yang tengah berbaring dengan wajah yang tampak pucat. Sesuatu yang hampir tidak pernah ia lihat "Al, kau sakit?" tanya Afifa


"Tidak, hanya lemas saja"


"Kau yakin?"

__ADS_1


"Iya, sudahlah ada apa kau kemari? Ingin mengejekku? Kalau iya, maka pergilah, aku lagi tidak mood untuk bercanda" ucap Aliya


Afifa duduk di tepi ranjang yang di tempati Aliya. Ia beringsut, dan membawa Aliya ke dalam pelukannya. Ia tahu, Aliya tidak sedang baik baik saja sekarang, tapi wanita itu justru terlihat banyak bicara seperti biasa, seakan ia tidak mengalami masalah apapun.


"Minggir Fa..." Aliya mendorong Afifa dengan kasar, sambil menahan mual, kemudian ia berlari dengan segera ke kamar mandi


Huek... huek... huek...


"Al kau kenapa?" tanya Afifa, sebab tadi ia melihat wajah Aliya yang memerah seperti menahan sesuatu, dan kini ia mendengar suara tidak mengenakan dari kamar mandi "Al buka pintunya" Afifa menggedor pintu kamar mandi, berharap Aliya membukakan. Namun Aliya masih tetap muntah di dalam sana tanpa henti "Al please buka pintunya. Kau kenapa?"


Ceklek


Pintu terbuka, menampilkan wajah Aliya yang lebih pucat dari sebelumnya. Melihat itu, Afifa berjalan mendekat hendak memapah Aliya ke ranjang. Tapi Aliya justru mengacungkan telunjuknya sebagai peringatan agar Afifa tidak mendekat


"Jangan mendekat Fa, please"


"Ada apa?" tanya Afifa bingung


"Aku mual mencium parfum-mu"


"What?"


"Pergilah Fa, please. Aku mual" peringat Aliya. Namun bukannya menjauh, Afifa justru berjalan semakin dekat "Fa..." wajah Aliya semakin pucat, ia segera masuk ke kamar mandi lagi dan kembali memuntahkan isi perutnya.


Sedangkan Afifa, begitu melihat Aliya kembali. masuk ke kamar mandi, ia juga ikut masuk, tapi dengan jarak yang lumayan jauh. Karena ia tidak ingin Aliya kembali mual karena bau parfum-nya.

__ADS_1


Bugh


"Aliya..."


__ADS_2