
"Bagaimana keadaan Aliya Zoe?" tanya Bunda Sekar
"Keadaan Aliya baik baik saja Tan. Aliya hanya mengalami dehidrasi karena terlalu banyak memuntahkan cairan sedangkan tubuhnya tidak menerima asupan" jawab Dokter Zonya
"Apa itu bahaya, Zoe?"
"Sayangnya iya Tan, apalagi untuk tubuh Aliya yang tengah hamil muda, karena itu bisa mengganggu tumbuh kembang janin dan komplikasi pada kehamilannya"
"Hamil?" tanya Bunda Sekar terkejut, begitu 'pun dengan orang orang yang ada di kamar tersebut
"Iya Tan. Tunggu, apa kalian semua tidak tahu tentang kehamilannya?" tanya Dokter Zonya
Eugh
"Bun..." panggil Aliya lemah, dan berhasil mengalihkan mereka dari pertanyaan yang dilontarkan Dokter Zonya
"Kak kau tidak apa apa Nak?" Bunda Sekar segera mendekat dan memberi minum pada putrinya
__ADS_1
Sedangkan Afifa, ia menarik Dokter Zonya ke sudut ruangan dan menanyakan lebih lanjut mengenai ucapan Dokter Zonya sebelumnya "Kak, tadi kau bilang bahwa Aliya hamil. Apa kau yakin?"
"Aku yakin Fa, memangnya kenapa, kenapa kalian sepertinya terkejut begitu? Bukankah Aliya juga sudah menikah. Jadi wajar 'kan kalau dia hamil" ucap Dokter Zonya
"I-iya, Kakak benar. Wajar kalau Aliya hamil" ucap Afifa selanjutnya. Sebab, ia tidak mungkin mengatakan masalah rumah tangga Aliya pada Zonya, karena bagaimana 'pun hal ini adalah privasi Aliya
"Baiklah, kalau begitu aku sampaikan padamu saja, tolong jaga Aliya. Asupan yang masuk ke dalam tubuhnya harus seimbang, sebab ia mengalami morning sickness, dimana ia akan mengalami mual muntah di pagi hari, berbeda denganmu" jelas Dokter Zonya, karena memang Afifa tidak mengalami itu, karena yang mengalami itu semua adalah Bram, suaminya
"Baik Kak" Afifa mengangguk, ia lqntas mengantar Dokter Zonya hingga ke depan kamar. Setelah itu ia kembali masuk ke dalam, dan mendekati suaminya yang sudah terlihat pucat "Bram, kau istirahat saja di kamar kalau tidak kuat"
"Tapi di sini masih banyak orang Bram, tidak enak"
"Sudahlah Fa, ajak suamimu pergi. Dia pasti tersiksa" ucap Aksa, saat ia tak sengaja mendengar pembicaraan antara Bram dan Afifa, yang langsung saja di jawab anggukan oleh Afifa
Ya, kehamilan Afifa memang berbeda. Dimana mual, muntah, ngidam dan segala gejala ibu hamil akan di alami oleh Bram. Sedangkan Afifa, ibu hamil itu justru terlihat biasa saja, tanpa ada tanda kehamilan apapun selain perutnya yang sudah sedikit menonjol
"Sayang, kau di sini saja, aku ingin memelukmu" ucap Bram saat Afifa akan beranjak. Saat ini keduanya telah berada di kamar lama Afifa
__ADS_1
"Baiklah"
Afifa merebahkan dirinya si samping Bram, yang langsung saja di pekuk Bram dengan posesif. Tidak hanya itu saja, tangan Bram kini sudah berlabuh di tempat ternyamannya, yaitu diatas perut istrinya. Ya, sejak mengetahui kehamilan istrinya, Bram memiliki kebiasaan dan kesukaan baru sekarang, yaitu mengelus dan mencium perut istrinya
"Bram..."
"Hm?"
"Apa cara Udo Aksa tidak berlebihan untuk menguji cinta Alex?" tanya Afifa
"Kenapa?"
"Kau lihat sendiri tadi Aliya pucat dan lemas begitu karena kehamilannya. Lalu bagaimana dia bisa menjalani kehamilan ini seorang diri. Dia pasti membutuhkan suaminya"
"Iya" ucap Bram lirih
"Iya apa? Kau ini masa aku sudah berbicara panjang lebar, tapi kau hanya menjawab iya" gerutu Afifa. Ia kemudian melirik wajah suaminya yang ternyata sudah begitu tenang. Tampaknya suami tampannya ini telah terlelap. Pantas saja tadi ia bicara panjang lebar hanya di tanggapi dengan kata iya saja. Afifa tersenyum melihat wajah damai suaminya, lalu ia melabuhkan satu kecupan di dahi sang suami. Setelah memastikan suaminya benar benar tertidur nyenyak, Afifa beranjak keluar menuju kamar Aliya kembali
__ADS_1