
"Bagaimana rasanya?" tanya Afifa saat Bram mencicipi kue buatannya
"Rasanya..." Bram mengunyah pelan kue dalam mulutnya, ia mengangguk anggukan kepala pelan
"Apakah enak?" tanya Afifa, dan kembali di jawab Bram dengan anggukan. Merasa tidak puas dengan jawaban sang suami. Afifa ikut memakan potongan kue di piring, dan seketika ia mengambil tissue dan melepehkan kue yang baru ia kunyah, sedangkan Bram yang melihatnya hanya tertawa, dan ikut melepehkan kue di dalam mulutnya
"Bagaimana Nyonya, apakah rasanya enak?" tanya Bram
"Ish, menyebalkan. Kenapa tidak bilang kalau kue-nya tidak enak" protes Afifa
"Takut kau kecewa saja"
"Ish, dasar. Sudahlah, biar kue-nya aku buang saja kalau begitu" Afifa segera membereskan kue buatannya dan membuangnya di tempat sampah, karena ia tidak mungkin memberi suaminya makan kue yang tidak enak itu
Setelah membuang kue-nya, Afifa lantas membersihkan dapur dengan bantuan suaminya. Mulai dari menyapu, mengepel, mencuci piring, dan masih banyak lagi. Setelah selesai, mereka memilih duduk di ruang televisi yang sekaligus merupakan ruang tamu rumah mereka
"Sayang, bagaimana kalau kita mengunjungi Ayah dan Bunda hari ini?" usul Bram
"Benarkah? Ya sudah ayo, aku juga sudah merindukan Ayah dan Bunda" ucap Afifa
*
"Assalamu'alaikum..." salam Bram dan Afifa bersamaan, saat ini keduanya telah berada di kediaman Dirgantara
"Wa'alaikum salam" terdengar suara Bara yang mendekati pintu utama, lalu membukanya "Kakak? Ayo masuk" Bara membukakan pintu dan masuk lebih dulu untuk memanggil orang tuanya "Bun, ada Kak Fifa dan Kak Bram di luar"
__ADS_1
Bunda Sekar membuka pintu kamar, dan melihat putranya di sana "Dimana Kakakmu?"
"Di depan, di ruang keluarga kayaknya"
"Baiklah"
Bunda Sekar dan Ayah Daffa keluar dari kamar, menemui anak dan menantunya mereka "Sayang, kau sehat Nak?" tanya Bunda Sekar
"Sehat Bun, Bunda bagaimana, sehat?"
"Alhamdulillah Ayah dan Bunda sehat"
"Bun, di dalam ada makanan?" tanya Bram tanpa sungkan. Ya, ia begitu dekat dengan keluarga istrinya, membuatnya tidak lagi sungkan untuk sekedar meminta makan
"Iya, aku tiba tiba rindu masakan Bunda" ucap Bram, yang mengundang tatapan aneh dari Afifa
"Tapi tadi kau sudah makan di rumah" ucap Afifa
"Rindu masakan Bunda, Sayang"
"Ya sudah tidak apa apa. Masuklah, makanannya ada di meja makan" ucap Bunda Sekar
Bram langsung berdiri diikuti oleh istrinya. Namun seketika ia menahan pergerakan istrinya dan memintanya duduk kembali "Aku bisa sendiri, kau mengobrol saja bersama Ayah dan Bunda"
"Kau yakin?"
__ADS_1
"Iya, kalau begitu aku makan dulu ya" Bram mengelus pucuk kepala istrinya, sebelum akhirnya beranjak pergi
"Bunda senang melihat hubungan Kakak dan Bram. Bram terlihat sangat menyayangi Kakak" ujar Bunda Sekar
"Iya Bun, Alhamdulillah Bram memang memperlakukan Kakak dengan baik"
"Syukurlah" ucap Bunda Sekar lega "Bagaimana, apa Kakak sudah isi?" tanya Bunda
"Belum Bun, do'a kan saja"
"Aamiin, Bunda selalu mendo'akan yang terbaik untuk anak anak Bunda"
Di sisi lain, tepatnya di ruang makan. Bara yang baru selesai minum, membalik tubuhnya saat melihat Kakak Iparnya mendekat "Kak Bram mau apa?" tanya Bara
"Makan" jawab Bram singkat sembari mulai mengambil makanan santapannya
"Jadi datang ke sini pagi pagi karena ingin meminta makan?" tanya Bara mengejek
"Kau kira Kakak Iparmu ini orang miskin sampai harus meminta makan? Aku sedang rindu saja dengan masakan Bunda"
"Oh..." Bara ikut mendudukkan dirinya di samping bram "Tapi seingatku, rasa masakan Kak Afifa lebih enak daripada masakan Bunda, kenapa Kakak malah merindukan masakan Bunda. Aneh sekali" Ya, diantara Bunda dan Kakaknya, masakan Kakaknya lah yang lebih enak
"Tidak tahu, tapi dari tadi pagi aku terlintas ingin kemari saja karena ingin makan di sini"jawab Bram sembari memulai makannya. Ia memakan makanan di atas meja dengan lahap. Bahkan nasi beserta beberapa sayur lainnya sudah habis Bram makan. Membuat Bara yang melihatnya bergidik ngeri, karena Kakak Iparnya makan seperti orang kesetanan
"Fix, dia Kakak Iparku yang paling aneh" batin Bara
__ADS_1