Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 12


__ADS_3

Bram melirik jam di pergelangan tangannya. Jam istirahat hampir habis, dan ia harus secepatnya kembali ke kantor. Sebab, sebagai atasan, ia harus bisa memberikan contoh yang baik bagi karyawannya, dan salah satu caranya adalah dengan selalu bekerja tepat waktu


"Fa, maaf tapi jam istirahatku hampir habis, aku duluan ya. Nanti aku janji akan datang di acara pertunanganmu" Bram bangkit dari duduknya, ia memeluk Afifa sejenak, sebelum akhirnya berjalan keluar


Afifa ikut bangkit dari duduknya, dan berjalan keluar dari restoran. Ia kembali mengendarai mobilnya menuju perusahaan. Begitu tiba, ia segera menuju ruangannya


"Apa katanya? Pertunanganku? Dasar" gerutu Afifa saat teringat ucapan terakhir Bram padanya


Afifa masuk kedalam ruangannya, dan kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda. Afifa tampak begitu fokus dengan pekerjaannya. Sesekli, ia akan meminum kopi saat merasa kantuk mulai melanda


Waktu terasa berlalu begitu cepat. Afifa meregangkan ototnya, dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan waktu shalat maghrib, Afifa menutup laptopnya, dan berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu. Setelah itu, ia melaksanakan shalat di ruangannya

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh..."


Shalat selesai, Afifa mengusap wajahnya setelah mengucap salam. Ia lalu mengadahkan kedua tangan, dan mulai memanjatkan do'a. Selesai dengan semua itu, ia segera membereskan peralatan kantornya, lalu melenggang keluar untuk pulang


Ya, inilah yang di lakukan Afifa selama ini. Ia akan berangkat pagi ke kantor, bahkan sesekali ia melewatkan sarapan di rumah, lalu akan pulang di saat jam makan malam. Meskipun sesekali ia juga kerap pulang di jam yang normal seperti para pekerja pada umumnya. Namun hal yang paling sering ia lakukan adalah ini, pulang ke rumah di tiga puluh menit sebelum makan malam. Setelah itu ia akan makan malam, lalu kembali ke kamar dan tidur. Hanya itu yang ia lakukan secara berulang


"Baru pulang Non?" sapa Mang Cecep


Mang Cecep hanya mengangguk patuh tanpa bertanya. Jika yang memintantanya menyimpan mobil adalah Aliya ataupun Bara, maka mungkin Mang Cecep akan bertanya apakah anak majikannya itu akan keluar lagi nantinya atau tidak, sebab Aliya dan Bara memang kerap keluar rumah karena tuntutan pekerjaan mereka. Namun mengingat wanita yang tadi adalah Afifa, membuat Mang Cecep tidak perlu lagi bertanya, karena semua pekerja di rumah kediaman Dirgantara itu sudah tahu jika Afifa adalah anak yang paling jarang keluar atau bergaul dengan teman temannya


"Assalamu'alaikum..."

__ADS_1


"Wa'alaikum Salam, Sayang. Uhh anak Bunda pasti lelah bekerja seharian, ayo mandi dulu, setelah itu makan malam, biar tidurnya nyenyak" Bunda menuntun sang putri menuju tangga, begitu sampai di tangga, ia membiarkan saja putrinya naik ke kamarnya


"Afifa sudah pulang Bun?" tanya Tuan Daffa


"Sudah, itu" tunjuk Bunda pada punggung Afifa yang masih terlihat sedikit "Yah... apa tidak sebaiknya Afifa kita carikan jodoh juga seperti Aliya, Bunda takut melihat anak itu yang selalu menghabiskan waktu di kamar dan perusahaan. Sesekali, Bunda ingin melihat dia keluar bersama teman temannya atau kekasihnya" ucap Bunda Sekar dengan tatapan sendu


Tuan Daffa merangkul pundak sang istri, dan mengajaknya untuk duduk di kursi meja makan "Kita tidak bisa melakukan itu pada Afifa Bun. Bunda 'kan tahu, Afifa tidak pernah membuat sesuatu apapun yang membuat kita pusing, anak itu justru selalu membuat kita bangga, terutama Ayah. Ayah merasa sangat bangga dengan Afifa karena dia mampu mengembangkan perusahaan yang ia pimpin menjadi maju pesat. Bahkan, Ayah tidak keberatan jika harus melepas kantor pusat, dan memberikannya pada Afifa, karena Ayah tahu dia mampu"


"Tapi dia terlalu tertutup Yah" keluh Bunda Sekar


"Sudahlah, nanti dia akan mulai terbuka dan menjalani hidup seperti biasa saat dia sudah menemukan laki laki yang cocok"

__ADS_1


Ya, belajar dari masa lalu, itulah yang Tuan Daffa terapkan. Dimana di masa muda, ia di jodohkan oleh orang tuanya kepada sang istri. Bahkan diawal pernikahan, Tuan Daffa seringkali mengabaikan istrinya, dan menutup diri dari dunia luar. Ia bahkan sering menghabiskan waktunya di kantor, seperti apa yang Afifa lakukan sekarang. Namun setelah akhirnya saling mengenal, Tuan Daffa akhirnya berubah dengan sendirinya. Ia sudah lebih sering menghabiskan waktu dengan keluarga, dan mulai membuka diri untuk hubungan pertemanan


__ADS_2