Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 36


__ADS_3

"Lex... mau kemana?" tanya Nyonya Rengganis saat melihat putranya yang memakai jaket


"Keluar sebentar Ma" jawab Alex


"Kemana?"


"Main dengan teman teman, sebentar saja"


Nyonya Rengganis melihat jam di pergelangan tangannya "Jam sepuluh malam, teman mana yang akan kau kunjungi?"


"Teman lama Ma, sudahlah aku hanya pergi sebentar saja. Aku janji hanya satu jam" ucap Alex


"Tidak boleh, kecuali Mama ikut" ucap Nyonya Rengganis


"Ma..."


"Apa? Mama tidak boleh ikut? Kalau begitu, kau tidak boleh keluar. Masuk kamar sekarang"


Huh


Alex menghela napas kasar karena lagi lagi Mamanya melarang untuk keluar. Alasannya karena sebentar lagi ia akan menikah, dan tidak baik bagi calon pengantin bepergian malam malam, karena aura pengantinnya akan tersedot karena udara malam. Itu adalah alasan Mamanya, entah dari mana Mama Rengganis mendapatkan kata kata itu, Alex juga tidak tahu. Tanpa berniat membantah lagi, akhirnya Alex kembali ke kamarnya


"Dasar anak nakal" gerutu Nyonya Rengganis


Kembali ke Alex, ia membuka pintu kamarnya, dan masuk ke dalam. Namun seketika kekesalan kembali merasuki jiwanya saat mendengar suara suara aneh dari kamar sebelah. Ia menendang pintu kamarnya dengan kesal karena suara suara itu kembali merusak mood-nya. Ia kemudian beralih ke ruang kerja, dan menghabiskan malam di ruang kerjanya

__ADS_1


*


Wajah Bram tampak berbinar cerah pagi ini. Rupanya imun yang tadi malam Afifa berikan benar benar membuat hatinya berbunga bunga. Ia keluar dari kamar mandi sembari mengusap rambutnya yang basah. Terlihat Afifa yang masih duduk di depan meja rias sembari mengeringkan rambutnya dengan hair dryer


"Kemari, biar aku yang keringkan" pinta Bram


Afifa menatap Bram dari pantulan cermin, kemudian ia memilih menundukkan kepalanya. Sebab, bayangan tentang apa yang ia dan Bram lakukan tadi malam benar benar membuatnya malu. Apalagi, hal itu tidak hanya mereka lakukan tadi malam, tapi juga berlanjut hingga tadi pagi


"Ayo cepat, biar aku yang keringkan" ucap Bram


"Tidak perlu, ini sudah selesai" Afifa mencabut colokan hair dryer dan menyimpannya


Menyadari sikap aneh Afifa, Bram memutar tubuh Afifa hingga menghadap dirinya "Kenapa, kau malu?" tanya Bram "Kau terlihat lebih cantik saat malu malu seperti ini"


"Bram..." Afifa memukul perut Bram dengan brutal karena Bram lagi lagi membuatnya salah tingkah


Bram dan Afifa saling kejar dengan tawa yang begitu nyaring. Bram terus berlari karena Afifa yang terus mengejarnya. Namun di detik berikutnya, ide jahil terlintas dalam benaknya. Dengan sengaja ia menghentikan larinya, dan merentangkan tangan, membuat Afifa yang tengah berlari tidak bisa menghentikan langkahnya, yang pada akhirnya ia berada dalam pelukan Bram lagi


"Hahaha aku tetap pemenangnya Fa" ucap Bram dengan tawanya yang terdengar keras


Tok... tok... tok...


"Ada orang" ucap Afifa menyadarkan Bram


"Paling Bik Inem manggil untuk sarapan" ujar Bram, ia melepas rengkuhannya pada tubuh Afifa, dan membuka pintu

__ADS_1


"Den, di tunggu Tuan dan Nyonya di meja makan"


"Baik, kami segera turun"


"Kalau begitu, Bibi duluan Den"


"Iya Bik, terima kasih"


Begitu mendengar Bik Inem pergi, Afifa keluar dari balik pintu "Benar Bik Inem?" tanya Afifa


"Iya, kenapa kau malah bersembunyi begitu?" tanya Bram heran


"Takut ketahuan kalau aku ada di kamarmu" jawab Afifa


"Memangnya kenapa kalau ketahuan?"


"Kemarilah" Afifa meminta Bram untuk sedikit menunduk, sebab tubuh Bram sedikit lebih tinggi darinya "Aku takut di nikahkan paksa" ucap Afifa yang mengundang tawa dari Bram


Bram dan Afifa pergi ke ruang makan bersama sama. Begitu tiba di ruang makan, terlihat Tuan dan Nyonya Wijaya, serta Alex sudah menunggu di sana. Mereka berdua segera duduk di kursi kosong yang tersedia


"Kenapa wajahmu kusut sekali?" tanya Bram pada Alex


"Begadang" jawab Alex


"Begadang? Makanya jangan sok sok'an begadang. Sudah tahu tidak kuat begadang, malah uji nyali"

__ADS_1


Alex mendelik kesal mendengar perkataan Bram "Aku begadang karenamu bodoh"


"Aku?" tunjuk Bram pada dirinya sendiri. Namun di detik berikutnya ia justru tertawa terbahak bahak saat bisa menangkap arti dari ucapan Alex


__ADS_2