
Hari berlalu, minggu 'pun mulai berganti. Tidak terasa pernikahan Aliya dan Alex sudah berjalan satu bulan. Selama itu juga, tidak ada hal berarti yang terjadi dalam hubungan mereka. Hubungan mereka masih seperti semula. Bahkan hingga usia pernikahan satu bulan, Aliya dan Alex belum pernah melakukan hubungan apapun layaknya suami istri pada umumnya
Berbagai cara telah coba Aliya lakukan untuk membuat Alex luluh. Di mulai dari membuat makanan, menyiapkan pakaian, dan masih banyak lagi yang coba Aliya lakukan. Namun semua itu tidak berarti apa apa. Pagi ini, Aliya telah menyiapkan setelan kantor yang akan di gunakan suaminya hari ini. Namun begitu Alex melihat pakaian yang di pilihkan Aliya, ia justru menolak, dan meminta baju lain
"Bagaimana dengan warna pink?" tanya Aliya sembari menunjuk kemeja pink di tangannya
"Tidak, yang lain coba" pinta Alex
"Sage green" tawar Aliya lagi
"No, yang lain"
"Red?"
"No"
"Yellow?"
"No, coba cari yang lain lagi"
"Ish, kau ini maunya yang mana, sudahlah cari saja sendiri, aku lelah" Aliya menghentakkan kakinya karena kesal, ia lantas menyingkir dari lemari dan membiarkan Alex memilih pakaiannya sendiri
Alex mulai melihat lihat koleksi kemejanya. Pilihannya jatuh pada sebuah kemeja berwarna putih tulang, yang berada di bagian paling bawah lipatan "Bagaimana, apa ini cocok?" tanya Alex sembari memperlihatkan kemeja pilihannya pada Aliya
"Kau seperti bapak bapak anak tiga dengan baju itu" komentar Aliya
__ADS_1
"Benarkah?" Alex memperhatikan kemeja pilihannya "Tapi aku rasa ini tidak buruk, lagipula pilihan Afifa tidak pernah salah" monolog Alex
"Oh... jadi itu baju pemberian Afifa? Sedekat apa sih kalian dulu, sampai sampai dia membelikanmu baju" protes Aliya
Alex sedikit kaget karena Aliya ternyata mendengar ucapannya yang sangat lirih "Tidak tidak, kau salah paham. Maksudku adalah, baju ini pilihan Afifa saat aku dan Bram meminta bantuannya untuk memilih baju kami di mall saat itu" jelas Alex
"Hanya itu?" tanya Aliya tak percaya
"Iya, kau bisa tanyakan langsung padanya jika kau tidak percaya" ucap Alex "Sudahlah, ini sudah siang, aku ganti pakaian sebentar"
Aliya hanya mentap kosong kepergian Alex. Inilah yang selama ini ia alami. Ia hidup dalam rumah tangga yang setiap harinya selalu terdengar nama Afifa. Ya, setiap hari Alex pasti akan membanding bandingkan dirinya dengan kembarannya. Walaupun ucapan Alex tidak terdengar keras, tapi Aliya tetap saja merasa tersinggung dan merasa tidak di hargai
Tok... tok... tok...
Aliya segera membuka pintu kamar saat mendengar suara Bik Inem "Ada apa Bik?"
"Baiklah, kami segera turun" Aliya kembali menutup pintu kamar saat Bik Inem telah pergi
"Siapa Al?" tanya Alex
"Bik Inem" Aliya mendekat pada Alex, dan memasangkan dasi Alex dengan cekatan, begitu selesai, ia meraih jas milik Alex dan kembali membantu memakaikannya "Selesai, ayo turun. Mama dan Papa sudah menunggu" Aliya berbalik, dan hendak keluar lebih dulu, tapi tangannya di tahan oleh Alex
"Maaf kalau kau kecewa lagi" ucap Alex
Aliya tersenyum mendengar ucapan Alex. Ya, ini bukanlah kekecewaannya yang pertama, tapi ini adalah kekecewaannya yang ke-sekian kalinya. Karena selama satu bulan menikah dengan Alex, ada saja hal yang membuat Aliya merasa kecewa pada suminya itu
__ADS_1
"Aku sudah terbiasa. Sudah ayo, kita sarapan" Aliya menarik tangan Alex untuk turun, membuat Alex hanya menurut pasrah
"Pagi Ma, Pa" sapa Aliya saat melihat Mama Rengganis dan Papa Alan sudah duduk di meja makan
"Pagi Sayang, ayo duduk"
Alex dan Aliya segera duduk di kursi masing masing. Aliya terlihat mulai terbiasa melayani suaminya. Terbukti, saat ini Aliya terlihat begitu cekatan mengambilkan makanan untuk suaminya
"Al..." panggil Mama Rengganis
"Ya Ma?" Aliya meletakkan piring makan suaminya, dan beralih menatap sang Mama mertua
"Kita ke mall ya hari ini" ajk Mama Rengganis
"Boleh, Mama ingin membeli apa?"
"Mmm belum tahu, lihat lihat saja dulu. Kalau ada yang menarik, ya kita beli"
"Oh, baiklah"
Mendengar jawaban menantunya, senyum Mama Rengganis mengembang sempurna. Ia sangat suka mwngajak Aliya bepergian karena ia tahu menantunya pasti tidak akan menolak. Ia lantas melihat suami dan putranya secara bergantian, merasa tidak di perhatikan, Mama Rengganis mendekatkan tubuhnya pada sang menantu "Jangan lupa bawa kartu hitam suamimu" bisik Mama Rengganis
"Memang di mana kartu hitam Papa?" tanya Aliya ikut berbisik
"Papa sedang marah dengan Mama, jadi dia tidak membolehkan Mama belanja. Jadi pakai kartu hitam suamimu saja ya" jawab Mama Rengganis
__ADS_1
"Baiklah"