
"Bil..." teriak Tante Daffina memanggil putrinya
"Kenapa Ma?"
"Panggil Kakak Kakakmu, kita makan malam"
"Iya"
Sabila telah selesai memanggil para sepupu dan iparnya untuk makan malam. Kini, mereka semua berjalan bersamaan menuju ruang makan. Begitu tiba di ruang makan, terlihat Om Gavin dan Tante Daffina yang sudah duduk lesehan dengan berbagai hidangan yang sudah tersedia. Mereka semua ikut duduk lesehan bersama Om Gavin dan Tante Daffina. Tidak lama, akhirnya Aaron juga ikut turun dari kamarnya yang berada di lantai dua. Tidak rumah ini bukan rumah besar dengan dua lantai seperti rumah rumah besar di kota. Rumah kediaman Bumantara ini adalah sebuah rumah panggung sederhana, dimana di bagian bawah rumah sudah ditambahi dinding kayu, membuat rumah ini jadi memiliki dua lantai
"Kalian sudah datang? Ayo duduk" ajak Tante Daffina
__ADS_1
Mata Aliya berbinar saat melihat hidangan yang tersaji didepannya. Ini sangat sesuai dengan keinginannya. Terdapat sambal seruit dengan berbagai sayuran, dan ikan panggang yang menjadi pelengkap. Ada juga sayur asam yang terlihat cukup menggiurkan. Terlihat juga tumis kangkung dengan cabai merah menyala yang menjadi penghias, dan menambah nilai estetik untuk hidangan mereka kali ini. Aliya berkali kali meneguk ludahnya saat membayangkan rasa makanan itu
"Ayo langsung dimakan saja" ucap Om Gavin
"Al, mau aku ambilkan" tawar Alex
"Tidak perlu"
Aliya langsung mengambil piring, dan mengisinya dengan nasi. Ia langsung mengambil sambal yang banyak dan satu ekor ikan. Kemudian langsung melahap makanannya. Sedangkan Bram, laki laki itu dengan telaten langsung mengambilkan makan untuk istrinya. Begitu piring istrinya terisi, ia langsung menaruh piring tersebut dihadapan sang istri, lalu mengambil makanan untuknya sendiri. Alex yang melihat itu hanya terbengong
Alex mengalihkan tatapannya dari Bram dan Afifa, dan menatap Aliya yang mukanya sudah memerah karena batuk "Al, aku ambilkan minum ya" ucap Alex khawatir. Barusaja ia akan menuangkan air, Sabila sudah lebih dulu menyodorkan gelas berisi air putih pada Aliya
__ADS_1
"Menghadapi cewek itu jangan dengan pertanyaan Kak, tapi aksi" ucap Sabila
Aliya langsung meminum air yang diberikan Sabila. Setelah cukup, ia akan menaruh gelas tersebut, tapi Alex dengan segera mengambilnya. Aliya menatap Alex dengan wajah yang kesal, karena Alex benar benar tidak memiliki inisiatif seperti Bram yang selalu dengan sigap melayani kebutuhan dan keinginan Afifa tanpa bertanya. Sedangkan Alex, laki laki itu secara terus menerus membuat dirinya kesal
"Sudah, dilanjut makannya ya, tidak baik ribut didepan makanan" ucap Tante Daffina saat melihat Aliya menatap Alex dengan tajam
Aliya melepas tatapannya dari Alex, lalu memilih berdiri dari duduknya, dan pergi. Melihat Aliya pergi, Alex juga ikut membasuh tangannya, dan menyusul Aliya. Sedangkan di tempat makan, semua orang saling pandang, dan menghela napas bersamaan.
Kembali ke Aliya. Aliya benar benar merasa kesal pada Alex karena Alex tidak memiliki inisiatif sama sekali untuk melayaninya. Nalurinya sebagai seorang wanita benar benar membenci sebuah pertanyaan. Karena ia benar benar ingin melihat aksi bukan sebuah narasi
"Al, Al tunggu aku. Aku minta maaf" ucap Alex sembari mengikuti langkah Aliya. Namun Aliya masih saja melanjutkan langkah, tanpa berniat menjawab Alex "Al, please. Aku minta maaf karena aku tidak bisa seperti Bram"
__ADS_1
Aliya menghentikan langkahnya, dan membalik tubuhnya menghadap Alex "Aku tidak menuntutmu seperti Bram, aku hanya menginginkan inisiatifmu untuk menyenangkanku. Tapi kau justru terus menerus membuat aku kesal"
"Aku takut Al, aku takut kalau karena inisiatifku kau justru merasa tidak nyaman dan kembali meninggalkanku" jelas Alex "Aku bisa berinisiatif untuk menyenangkanmu, tapi dengan kondisi hatimu yang masih menaruh benci padaku, apakah kau akan menerima perlakuan baikku? Maaf Al, aku hanya tidak ingin mengecewakanmu lagi"