Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 44


__ADS_3

Tuan Daffa masih menikmati pelukan kedua putrinya. Tidak lama, ia melepas pelukan tersebut, dan memandang wajah kedua putrinya bersamaan. Ia masih tidak menyangka dengan sumua ini. Ia masih sangat ingat, dua puluh lima tahun yang lalu, ia masih menyaksikan kedua putrinya yang masih sangat kecil. Tumbuh kembang dari keduanya, tidak pernah terlewatkan sedetik 'pun dari pandangan Tuan Daffa. Kini, kedua putri yang sudah ia besarkan harus berpisah darinya. Percayalah, bahwa ini adalah hal yang paling menyakitkan yang di rasakan oleh seorang Ayah


"Semoga kalian bahagia Nak" ucap Tuan Daffa kemudian kembali memeluk kedua putrinya


Selesai berpelukan dengan sang Ayah, sepasang kembaran itu bergeser ke hadapan sang Bunda. Sama halnya dengan Tuan Daffa, Nyonya Sekar juga merasa begitu sedih karena kini kedua putrinya akan berpisah darinya. Bahkan mata wanita setengah baya itu sudah berkaca kaca dan siap meluruhkan tangisnya


"Bunda..."


Lagi dan lagi, Afifa dan Aliya memeluk Bunda mereka dengan air mata. Kesedihan nyatanya tidak hanya di rasakan oleh kedua orang tua mereka. Tapi mereka 'pun ikut merasa sedih. Setelah melepas pelukan sang Bunda, si kembar beralih memeluk keluarga yang lain satu persatu tanpa terkecuali

__ADS_1


"Untuk kalian berdua, menantu Ayah" panggil Tuan Daffa "Ayah titip kedua putri kesayangan Ayah pada kalian. Ayah mohon, bimbing mereka dengan sabar dan penuh kelembutan, karena ayah sama sekali tidak pernah membentak mereka dengan alasan apapun. Mereka adalah putri dari keluarga pengusaha, hidup nyaman dan berkecukupan selalu mereka rasakan di setiap pertumbuhan mereka. Ayah tidak menuntut kalian untuk memberikan kenyamanan yang sama pada mereka, tapi Ayah menuntut kalian untuk memberikan cinta yang sama pada mereka, seperti cinta yang sudah Ayah berikan untuk membesarkan mereka" Tuan Daffa mengusap ujung matnya yang mengeluarkan cairan bening


Bram dan Alex saling pandang dari tempat duduk mereka. Lalu tatapan mereka terarah kembali pada sang Ayah Mertua. Sembari tersenyum, keduanya menganggukan kepala secara yakin


"Kami berjanji untuk membahagiakan putri Ayah dengan cara kami sendiri" jawab Bram dan Alex


Tatapan Bram dan Alex teralihkan pada Aksa. Lalu mereka berdua kembali mengangguk bersamaan "Kami berjanji untuk itu Do"


*

__ADS_1


Afifa masih belum reda dengan tangisnya setelah pertemuan keluarga di ruang keluarga tadi. Ia bahkan masih tampak sesegukan di pelukan suaminya, dengan tangis yang menganak sungai. Berkali kali Bram berusaha menenangkan, tapi air mata Afifa seakan sulit untuk di hentikan


"Sudahlah, jangan bersedih lagi" ucap Bram


"Tapi Ayah adalah pelindungku selama ini, aku tidak pernah jauh darinya dengan waktu yang lama" jawab Afifa dengan suara parau karena terlalu lama menangis


"Aku mengerti, tapi setelah ini akan ada aku yang menggantikan perlindungan Ayah atasmu. Aku yang akan memelukmu setiap waktu saat kau membutuhkan pelukan, dan aku akan menjadi pendengar yang baik atas segala cerita sedih dan senang dalam hidupmu, karena aku mencintaimu, istriku"


Bram mengecup pucuk kepala istrinya dengan begitu dalam. Tangannya tidak tinggal diam, tangan besar dengan penuh kehangatan itu secara terus menerus mengusap punggung sang istri yang masih saja bergetar. Lalu kemudian, Bram menarik selimut yang menutupi setengah tubuh mereka menjadi menutupi seluruh tubuh sampai ke leher. Setelah itu, ia merebahkan istrinya di ranjang, dan kembali memberi pelukan ternyamannya

__ADS_1


__ADS_2