
"Brengsek, kau memang benar benar tidak bisa diandalkan. Apa yang kau lakukan pada adikku, hah?" sentak Aksa.
Ya, setelah mengetahui siapa yang kecelakaan, Alex segera menghubungi orang rumah, dan membawa Aliya ke rumah sakit umum yang ada di sana. Saat ini, Aliya tengah berada dalam ruang pemeriksaan sejak beberapa menit yang lalu. Namun hingga kini, tidak terlihat tanda tanda pintu ruangan yang akan terbuka, membuat Alex panik bukan kepalang. Apalagi ia juga harus menghadapi kemarahan Udo Aksa, membuat ia benar benar merasa tersudut
"Aksa sudah, tenangkan dirimu" ujar Om Gavin
"Dia menyakiti Aliya lagi Pa" ucap Aksa menggebu dengan tatapan tajam yang terarah pada Alex
Ceklek
Pintu ruangan yang terbuka mengalihkan perhatian mereka semua. Aksa dan Alex seakan tidak ingin mengalah, keduanya segera mendekati dokter wanita tersebut secara bersamaan, dan menanyakan keadaan Aliya
__ADS_1
"Kecelakaan yang menimpa pasien membuat keadaannya sangat lemah, begitu 'pun dengan janinnya. Dengan sangat terpaksa, kami akan melakukan kuretase pada kehamilan pasien karena detak jantung bayi sudah semakin lemah"
Duar
"Tidak!"
Tubuh Alex bergetar mendengar penjelasan dokter tersebut. Bahkan sendi sendinya seakan tidak berfungsi. Tubuhnya nyaris limbung jika ia tidak berpegangan pada tembok ruangan.
"Maafkan kami Pak, benturan pada perut pasien membuat kami terpaksa melakukan tindakan ini" jelas sang Dokter. Setelah menjelaskan lebih lanjut, akhirnya dokter tersebut pamit untuk pergi
Om Gavin dan Aaron berusaha menenangkan Aksa. Sementara Bram, laki laki itu berada di sisi Alex, mengantisipasi jika sewaktu waktu sepupunya itu pingsan. Sedangkan Tante Daffina sendiri, ia memilih memeluk Afifa yang tampak menangis tersedu dalam pelukannya
__ADS_1
"Tidak..." Alex menggelengkan kepalanya, lalu tanpa kata, ia bergegas masuk ke dalam ruangan, tanpa mempedulikan mereka yang menghalanginya.
Begitu masuk, hati Alex terasa teriris saat melihat wajah istrinya yang begitu pucat. Selang infus menancap di punggung tangan kanannya. Setiap tetesan air infus terdengar jelas ditelinga Alex, sebab di ruang perawatan tersebut begitu sangat hening. Secara perlahan, Alex mendekati brankar, dan menggenggam tangan istrinya dengan tangis yang tidak mampu lagi untuk ia tahan
"Al..." suara Alex tercekat, ia benar benar tidak mampu mengucapkan lebih, sebab air mata sudah menggenang, bahkan menganak sungai di pipinya "Maafkan aku"
Tangan Alex terangkat, dan menyentuh perut istrinya yang masih tampak buncit. Ya, kuretase memang belum dilakukan, dan jujur, Alex berharap jika kuretase itu tidak akan pernah dilakukan. Karena ia masih sangat berharap jika kedua bayinya masih selamat.
"Hai, jagoan Daddy. Kita baru saja bertemu, kenapa kalian meninggalkan Mommy dan Daddy Nak? Padahal Daddy sangat menantikan kalian. Daddy ingin kalian lahir ke dunia ini sebagai pelengkap kebahagiaan untuk Daddy dan Mommy, tapi kenapa kalian harus pergi?" Alex mengusap perut istrinya dengan air mata yang semakin deras "Tunggu Daddy dan Mommy kalian di syurga sayang. Daddy janji, Daddy akan menjaga Mommy dengan sepenuh hati Daddy. Selamat jalan anak anak Daddy"
Punggung Alex bergetar. Namun sebisa mungkin ia menegakkan tubuhnya, dan melabuhkan kecupan hangat di perut istrinya. Kini, pandangannya beralih menatap wajah istrinya. Wajah cantik yang selalu dipuja oleh setiap pengusaha maupun artis negeri ini, kini terlihat sangat pucat. Alex menahan air matanya untuk tidak kembali jatuh, ia mendekatkan wajahnya pada telinga sang istri sembari memejamkan mata
__ADS_1
"Maafkan aku Sayang, aku mohon bangunlah Al. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu padamu. Aku mohon bangunlah. Selama ini kau ingin mendengar ungkapan perasaanku bukan? Maka berjanjilah padaku untuk bangun setelah ini, berjanjilah" ucap Alex, meskipun ia tahu bisikannya mungkin tidak akan terdengar oleh istrinya. Ia memejamkan mata kembali, dan merengkuh tubuh Aliya dalam rengkuhannya
"Al... I love you so much"