Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 29


__ADS_3

Di sisi lain, pagi pagi sekali, kegaduhan sudah terjadi di kediaman Dirgantara. Dimana Nyonya Sekar yang tengah melintasi ruang keluarga begitu terkejut saat mendapati suaminya yang terduduk lemas. Melihat itu, Nyonya Sekar segera mendekat


"Yah, ada apa?" tanya Nyonya Sekar panik


"Afifa Bun..."


"Afifa kenapa? Apa terjadi sesuatu?"


Tuan Daffa berusaha menegakkan tubuhnya. Bagaimana 'pun ia harus tetap kuat, dan tetap berusaha sadar. Walaupun sebenarnya kabar yang barusaja ia terima membuatnya merasa begitu lemas


"Bunda bersiap, kita berangkat ke Bogor sekarang" ucap Tuan Daffa


"Tapi kenapa Yah, ada apa?"


"Bunda bersiap saja dulu, nanti Ayah jelaskan di jalan"

__ADS_1


"Bik..." panggil Tuan Daffa saat melihat Asisten tumah tangganya melintas "Jika anak anak bertanya tentang saya dan Nyonya, katakan saja kami ke Bogor, ada urusan sebentar"


"Baik Tuan"


Bunda Sekar segera menyiapkan keperluannya sesuai anjuran sang suami. Setelah siap, keduanya segera meminta Mang Cecep untuk menyiapkan mobil, dan langsung menuju kota Bogor pagi itu juga. Selama di perjalanan, Tuan Daffa menjelaskan apa yang terjadi terhadap putri mereka, sesuai dengan apa yang tadi Afifa katakan padanya.


Setelah cukup lama mengemudi. Akhirnya mobil yang di kemudikan Mang Cecep berhenti di depan Balai Desa yang sudah di jelaskan tuannya. Tuan Daffa dan Nyonya Sekar segera turun dari mobil, dan langsung diarahkan menuju ruangan dimana Afifa dan Bram berada


"Bunda..." Afifa segera berlari memeluk sang Bunda saat melihat bundanya telah tiba "Bun, aku tidak melakukan apa apa, aku bersumpah" ucap Afifa


Bunda Sekar mengusap punggung putrinya dengan sayang. Sedangkan Ayah Daffa, ia duduk bersama Pak Kades dan Bram yang mulai menceritakan lebih rinci tentang kejadian yang menimpa putrinya. Pak Kades juga menjelaskan jika peraturan desa mereka, bagi siapa saja yang terciduk berbuat tak senonoh, maka orang itu tidak akan di biarkan pulang begitu saja, melainkan harus di nikahkan terlebih dahulu


"Maafkan saya Om" ucap Bram pada Tuan Daffa, setelah Pak Kades pergi


Tuan Daffa melirik Bram, ia tersenyum sembari menepuk bahu Bram pelan "Seharusnya Om yang berterima kasih. Terima kasih karena kau memahami apa saja yang di takutkan Afifa, sehingga kau dengan segera menangkannya saat ia sudah meringkuk ketakutan. Om tidak bisa membayangkan jika kau tidak tahu mengenai phobia-nya dan mengabaikannya begitu saja, mungkin hari ini Om dan Tante tidak akan berada di sini, melainkan berada di rumah sakit"

__ADS_1


Ya, Tuan Daffa juga mengetahui jika Afifa sangat takut akan gelap. Entah apa penyebabnya, bahkan Tuan Daffa sendiri 'pun tidak tahu. Yang ia tahu, jika Afifa berada dalam kegelapan dalam waktu yang lama, maka Afifa akan pingsan. Maka dari itulah Tuan Daffa tidak marah pada Bram, karena Bram hanya berniat menolong, bukan melecehkan putrinya


"Kau sudah hubungi Nyonya dan Tuan Wijaya?" tanya Tuan Daffa


"Sudah Om, mereka sedang perjalanan ke sini"


"Baiklah"


Tuan Daffa mendekati istrinya yang masih berpelukan bersama sang putri. Ia tepuk pelan punggung putrinya, seakan menyalurkan energi positif kepada putrinya yang tengah menangis itu. Menyadari akan kehadiran sang Ayah di dekatnya, Afifa melepas pelukan sang Bunda, dan beralih memeluk Ayahnya


"Ayah, aku bersumpah tidak melakukannya"


"Iya Sayang, Ayah percaya. Kau adalah putri Ayah, tidak ada yang memahamimu melebihi Ayah, dan Ayah mempercayaimu. Tapi pernikahan ini tetap harus di lakukan sebentar lagi" ucap Tuan Daffa


"Apa Ayah sudah berbicara dengan Kepala Desa untuk meminta keringanan? Setidaknya kalaupun harus menikah, Afifa dan Bram harus menikah di Jakarta, dan di saksikan keluarga kita" ucap Bunda Sekar

__ADS_1


"Tidak bisa Bun, peraturan desa ini sudah di tetapkan, dan kita tidak bisa melanggarnya. Sudahlah, mungkin ini adalah cara Tuhan untuk mempertemukan mereka. Kita hanya tinggal menunggu Tuan dan Nyonya Wijaya tiba, baru setelah itu akad nikah akan di laksanakan"


__ADS_2