Takdir Cinta Twins D

Takdir Cinta Twins D
Bab 49


__ADS_3

"Aku... ehem... Al, kau tahu bahwa kita menikah karena perjodohan, dan jujur saja aku belum bisa menerima pernikahan ini sepenuhnya. Maaf jika kata kataku menyakitimu, aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya padamu bahwa aku belum bisa menerima status kita yang ternyata sudah menikah" jelas Alex


"Lalu apa sekarang, apa maumu?" tanya Aliya


"Untuk sementara, biarlah kita menyesuaikan diri dulu satu sama lain. Seiring berjalannya waktu, kita akan terbiasa dengan sendirinya"


"Itu artinya, selama kita belum bisa menerima pernikahan ini, maka selama itu juga kita tidak akan saling memiliki?"


"Maaf Al, aku hanya tidak ingin kita sama sama tersakiti. Aku mungkin bisa menyentuhmu tanpa cinta sekalipun, tapi kau yang akan di rugikan. Jadi aku mohon, beri aku waktu untuk menerima semua ini"


Aliya kembali duduk di ranjang. Berkali kali ia menghela napas kasar demi meredam rasa kecewa atas penolakan suaminya. Bahkan satu tangannya sudah menumpu diatas paha, dengan kepala yang menunduk, menunjukkan betapa ia cukup kecewa


"Maaf, aku tahu kau sakit hati mendengar ucapanku, tapi ini akan lebih baik untuk hubungan kita ke depannya" ucap Alex


Aliya menegakkan kepalanya sembari mengangguk dengan mata terpejam. Ya, meskipun sebenarnya ia merasa kecewa, tapi ia membenarkan ucapan Alex, bahwa mereka akan sama sama terluka jika terlalu memaksakan "Tapi aku ada permintaan yang harus kau penuhi" ucap Aliya


"Pemintaan?" tanya Alex


"Ya, permintaan. Cinta tidak akan tumbuh dengan sendirinya jika tidak di iringi dengan usaha. Maka dari itu biarkan aku berusaha dengan caraku untuk mendapatkan cintamu" ucap Aliya

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Kau akan tahu nanti"


*


Afifa menatap tempat pemberhentian mobil mereka. Ia sedikit mengernyit saat melihat bahwa saat ini mobil mereka berhenti di parkiran pantai. Afifa melirik Bram yang turun dari mobil lebih dulu, lalu terlihat Bram mengitari mobil, dan membukakan pintu untuknya. Setelah itu, seperti biasa, laki laki itu bersikap begitu manis dan menggandengnya


"Apa acaranya di dalam?" tanya Afifa


"Iya, ayo" Bram kembali mengajak Afifa untuk mengikuti langkahnya, hingga terlihat dua kursi lipat yang berada di bibir pantai "Ayo" ajak Bram lagi


"Kita hanya berdua?" tanya Afifa saat melihat pantai tersebut begitu amat sepi


Bram dan Afifa melangkah mendekati bibir pantai. Menikmati angin malam yang berhembus, dan terasa menusuk tulang. Ombak pantai juga sesekali membasahi kaki Afifa yang terbalut heels, membuatnya sedikit mundur untuk menghindar. Namun ia tidak tahu jika Bram berdiri di belakang tubuhnya, yang membuat ia tidak lagi bisa mundur


"Biarkan saja, mungkin dia ingin berkenalan denganmu" ucap Bram. Dengan berani, tangan Bram menyelusup, dan memeluk perut Afifa


"Tapi kakiku basah" adu Afifa

__ADS_1


Bram melihat kaki Afifa, dan benar saja, kaki Afifa telah basah sekarang "Apa kau tidak nyaman?" tanya Bram yang di jawab anggukan oleh Afifa. Lalu di detik berikutnya, tanpa kata Bram segera menggendong Afifa ala bridal, lalu berjalan menuju kursi lipat yang tersedia. Setelah itu, ia duduk di kursi tersebut dan mendudukkan Afifa di pangkuannya


"Bram malu, bagaimana jika ada yang melihat?" ucap Afifa


"Tidak bagaimana bagaimana, memangnya kenapa, bukankah kita suami istri?" ucap Bram santai yang membuat Afifa tidak lagi bisa protes


Beberapa hari hidup bersama Bram membuat Afifa mulai memahami sosok Bram yang sesungguhnya. Selain humoris, Bram ternyata adalah sosok yang romantis. Bahkan, mereka kerap menghabiskan waktu di kamar, dan mengobrol ringan, lalu berakhir dengan kegiatan kegiatan melelahkan. Selama beberapa hari ini, Afifa mulai membiasakan diri untuk menerima setiap perlakuan manis Bram, meskipun ada sisi hatinya yang merasa kosong, karena takut Bram memperlakukannya dengan baik dengan tujuan tertentu


"Bram..."


"Hm?" Bram mendongakkan kepalanya menatap wajah cantik istrinya, ia tersenyum simpul, kemudian menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah istrinya "Ada apa?"


"Apa kau sudah mencintaiku?" tanya Afifa


Bukannya menjawab, Bram justru terkekeh mendengar pertanyaan istrinya. Apa wanita itu tidak bisa merasakan setiap perlakuannya selama pernikahan mereka. Bagaimana ia yang selalu bersikap baik, untuk menunjukkan wujud nyata dari cintanya untuk Afifa. Tapi kenapa wanita ini justru bertanya demikian, apakah sebegitu penting ungkapan cinta bagi seorang wanita?


"Jangan tertawa" sungut Afifa


"Baiklah baiklah, maafkan aku"

__ADS_1


Bram meraih jemari Afifa lalu di arahkannya pada mulutnya, dan mengecupnya singkat. Wajahnya tidak henti menyunggingkan senyum, dengan dada yang berdebar kencang. Ia lantas merogoh saku jas-nya, dan memperlihatkan kotak perhiasan berukuran kecil dari dalam sana


"Apakah ini cukup untuk menjawab pertanyaanmu?"


__ADS_2