
"Ayo masuk" Afifa membuka pintu kamarnya, mempersilahkan Bram untuk masuk
Bram memasuki kamar Afifa, ini adalah pertama kalinya ia memasuki kamar wanita. Ia melihat setiap isi di dalam kamar tersebut. Tidak ada yang istimewa, kamar dengan dominasi warna silver, dengan banyaknya rak buku yang berjejer seperti rak perpustakaan, benar benar menggambarkan diri seorang Afifa. Gadis simpel yang sangat menyukai bacaan. Bram berjalan mendekati rak berukuran besar yang berisi buku buku Afifa
"Berapa lama kau menyelesaikan bacaan bavyaan ini?" tanya Bram
"sekitar satu bulan"
"Lalu, jika kau sudah membacanya, kau kemana 'kan?"
"Aku donasikan ke tempat tempat yang membutuhkan"
"Ohh..." Bram melihat lihat buku koleksi Afifa, sesekali ia juga membuka buku buku tersebut dan membacanya sekilas
"Bram..." panggil Afifa
"Ada apa?" Bram meletakkan buku yang sempat ia pegang, ia beralih mendekati Afifa yang sudah duduk di sofa kamar
"Kita sudah menikah ya?" tanya Afifa
"Kau ini kenapa, bukankah tadi pagi kita sudah menikah"
"Tapi rasanya ini seperti mimpi, aku menikah dengan sahabatku sendiri. Aku jadi canggung untuk berprilaku seperti apa di hadapanmu" ujar Afifa
__ADS_1
"Kenapa? Bersikaplah seperti biasa, kita masih tetap teman walaupun sudah menikah. Bedanya, jika kemarin kemarin kita adalah teman bermain, maka sekarang kita adalah teman hidup"
Wajah Afifa bersemu merah saat mendengar kata teman hidup. Apakah mungkin itu akan terjadi dalam pernikahan mereka. Mengingat pernikahan mereka adalah pernikahan yang tidak pernah terpikir sebelumnya, ya ini adalah pernikahan aneh menurut Afifa. Karena mereka menikah bukan karena cinta ataupun perjodohan, mereka menikah atas dasar keterpaksaan dan tanggung jawab
"Bram... jujur, aku belum ada terpikir untuk menikah sebelumnya, apalagi pernikahan kita ini sedikit tidak wajar, tapi maukah kau berjanji padaku untuk tetap mempertahankan pernikahan ini?" tanya Afifa
"Kenapa tidak. Aku berjanji bahwa hanya kau yang akan menyandang status Nyonya Muda Pradipta, sampai kapan 'pun"
"Andaikan kau tahu, aku sangat mencintaimu Bram, dan pernikahan ini seakan menjadi jalan Tuhan menunjukkan kuasanya untuk mempersatukan kita. I love you" batin Afifa
Afifa memejamkan matanya, menghirup dalam dalam aroma tubuh suaminya yang selalu berhasil membuatnya tenang. Ya, itulah faktanya, Afifa sudah jatuh cinta pada Bram sejenak pertemuan mereka di hari pertama kuliah. Tapi melihat Bram yang sepertinya tidak memiliki perasaan yang sama dengannya, membuat Afifa memilih memendam perasaannya
*
"Kakak lama sekali, aku sampai lapar karena menunggu terlalu lama" ujar Bara
"Ish, anak kecil tidak sopan" Aliya menyentil telinga adiknya hingga membuat Bara mengaduh sakit
"Kakak ini memang dasar pemeran antagonis dalam keluarga. Selain antagonis, Kakak juga suka KDRT" Bara mengusap telinganya yang terasa kebas "Jangan sampai di telingaku ada bekas sentilanmu, atau aku akan melakukan visum" gerutu Bara
"Sudah sudah, kalian ini ribut terus" ujar Nyonya Sekar. Pandangan Nyonya Sekar beralih pada Bram dan Afifa, ia tersenyum lembut kepada keduanya "Ayo duduk, kita makan malam bersama"
Bram duduk berdampingan bersama Afifa. Sedangkan Aliya, bagai dejavu, ia malah duduk bersama adik bungsunya seperti apa yang Afifa lakukan beberapa hari yang lalu saat ia dan Alex duduk berdampingan. Makan malam di mulai dengan khidmat, hanya ada dentingan sendok yang berlaga dengan piring yang terdengar. Selebihnya, mereka semua diam, dan menikmati sajian yang tersedia
__ADS_1
"Bagaimana Nak Bram, kau suka?" tanya Bunda Sekar
"Suka Tan, masakannya enak"
"Ets, panggilnya jangan Tante lagi, 'kan sudah jadi mertua, panggilnya Bunda, seperti Afifa" ujar Bunda Sekar
"Iya Bund"
"Baiklah, Fa... ajak suamimu ke kamar, kalian pasti lelah, istirahatlah"
"Iya Bun, kalau begitu, Afifa izin pergi dulu"
Afifa dan Bram kembali menuju lantai atas. Meninggalkan anggota keluarga Dirgantara yang lain, yang nampak menatap kepergian mereka. Terlebih Tuan Daffa, terlihat sekali jika ia menatap putrinya dengan mata berkaca kaca
"Ayah kenapa?" tanya Bunda Sekar
"Tidak, Ayah hanya tidak menyangka saja jika Afifa sudah menikah, dan sekarang dia bukan lagi milikku. Sebentar lagi, Aliya juga akan menikah, dan dia juga pasti akan pergi dari rumah ini. Kita akan kesepian lagi Bun" jawab Ayah Daffa
"Ayah, jangan berkata seperti itu, aku sedih" Aliya beranjak dari kursinya dan memeluk Ayahnya
"Tidak, Sayang. Ayah justru bahagia jika Ayah bisa mengantar anak anak Ayah menikah. Ayah bahagia karena Ayah masih di beri umur yang panjang untuk bisa menikahkan putri putri Ayah"
"Jangan berkata begitu, Ayah dan Bunda masih akan berumur panjang, kalian akan bahagia karena nanti di kelilingi oleh cucu cucu yang lucu"
__ADS_1