
Aliya tersenyum melihat ekspresi lucu suaminya. Ia membenarkan duduknya menjadi bersandar pada headboard, lalu menepuk sisi sampingnya, meminta Alex untuk duduk di sana. Tanpa bantahan, Alex langsung duduk di samping sang istri. Begitu ia duduk, Aliya langsung menyelusup ke dalam pelukannya
"Maaf kalau pertanyaanku menyinggungmu" ucap Alex
"Tidak" Aliya menggeleng dalam pelukan Alex. Ia memejamkan mata, menikmati aroma tubuh suaminya yang begitu memabukkan "Reputasiku memang terlanjur buruk di mata semua orang dan aku menyadari itu. Bahkan, mungkin itu juga alasanmu sulit untuk menerimaku"
"Aku dan Afifa memang terlampau berbeda Lex, Afifa dengan sikapnya yang mampu berbaur dengan orang lain membuat orang lain nyaman berada di dekatnya. Sedangkan aku, aku tidak sepertinya. Aku tidak memiliki satu teman 'pun dalam hidupku, dan itu adalah alasan terbesarku masuk ke dunia entertainment. Karena aku berharap aku bisa mempunyai teman di dunia yang aku geluti. Tapi ternyata tidak semudah itu"
Aliya kembali mengeratkan pelukannya pada tubuh Alex sebelum melanjutkan ceritanya "Aku tidak mendapatkan teman meskipun sudah terkenal, dan itu juga alasanku selalu membuat huru hara dan skandal settingan agar semua orang melihat aku dan membicarakanku. Hidupku terlanjur hampa Lex, dan aku tidak tahu cara meramaikannya. Sekarang, jika kehadiranku tidak bisa kau terima, lalu aku harus ke mana?"
__ADS_1
Aliya memejamkan mata di sertai air mata yang menetes tanpa bisa ia cegah. Ia menangis tergugu dalam pelukan suaminya setelah menyampaikan segala isi hatinya. Ya, inilah yng ia rasakan selama ini. Ia tidak tahu mengapa Tuhan menciptakan sifat dan sikapnya berbeda dari Afifa. Afifa dengan sifat kalemnya mampu membuat orang lain terpikat dan jatuh hati padanya, sedangkan dirinya, tidak ada satu orang 'pun yang bisa menerima sikapnya yang terlanjur bar-bar
Harus Aliya akui jika perlakuan orang tuanya pada dirinya, Afifa dan Bara sama sekali tidak ada perbedaan. Tapi untuk rasa sayang, Aliya tidak tahu mengapa, tapi hatinya merasa jika kasih sayang kedua orang tuanya lebih dominan kepada Afifa dan Bara daripada dirinya
Sedangkan Alex, laki laki itu merasa begitu bersalah karena telah memandang Aliya sebelah mata. Jujur, ia sudah tahu jika sebenarnya skandal antara Aliya dan beberapa orang yang di gosipkan itu semua hanyalah settingan. Tapi untuk hal pribadi, seperti sebuah making love, jujur Alex tidak tahu apakah Aliya masih terjaga atau justru sudah ternoda. Tapi setelah mendengar ungkapan hati Aliya, Alex jadi merasa begitu bersalah, apalagi ketika ia merasakan bahu istrinya yang bergetar, membuat rasa bersalah dalam diri Alex kian terasa besar
"Maafkan aku"
Sejak hari dimana Aliya mencurahkan semua isi hatinya. Bersamaan dengan Alex yang akhirnya mengetahui segalanya tentang istrinya. Sejak hari itu juga hubungan antara Alex dan Aliya berangsur membaik. Kini, setelah melewati satu minggu yang begitu manis di pulau Sumba. Aliya dan Alex telah kembali ke Jakarta
__ADS_1
"Mama..." Aliya berlari dan memeluk Mama Mertuanya, yang tentu saja di sambut baik oleh Mama Rengganis
"Oh Sayang, bagaimana liburanmu? Berkesan?" tanya Mama Rengganis
"Sangat Ma"
"Syukurlah, Mama senang mendengarnya" ucap Mama Rengganis, ia kemudian melirik ke belakang menantunya dimana sang putra tengah membawa satu koper besar "Tapi Mama akan jauh lebih senang jika kalian mengingat Mama" ucap Mama Rengganis lagi
"Kenapa Mama berkata seperti itu? Kami pasti mengingat Mama" ucap Aliya cepat
__ADS_1
"Bukan seperti itu Al" sahut Alex, ia lantas menyodorkan sebuah paper bag kepada Aliya "mengingat Mama dalam hal oleh oleh, itu yang Mama maksud" ucap Alex, seakan paham bagaimana maksud sang Mama
"Sayang, kau yang terbaik Nak" Mama Rengganis melepas pelukan menantunya dan beralih memeluk Putranya