
"Jaga diri Sayang, ingat patuhi perintah suamimu" ucap Nyonya Sekar
"Iya Bun, Kakak akan tetap menghubungi Bunda, dan minta pengarahan untuk rumah tangga Kakak nantinya" ucap Aliya
"Bunda pasti akan mengajari Kakak semampu Bunda" Bunda Sekar memeluk putri pertamanya dengan erat. Ya, pagi ini Aliya dan Alex serta Bram dan Afifa tengah berpamitan untuk benar benar memulai lembaran baru dalam hidup mereka
"Tan, Aliya pamit. Aliya juga pasti akan sering menghubungi Tante nantinya" ucap Aliya pada Tante kesayangannya
"Pasti Sayang, Tante dan Bunda pasti akan mengajarimu semampu kami"
Aliya memeluk adik dan para sepupunya bergantian. Begitu pula dengan Afifa, ia melakukan hal yang sama pada seluruh anggota keluarganya, serta memeluk mereka satu persatu. Begitu selesai, sepasang kembaran itu beralih mendekati Ayah Daffa
"Ayah, kami pamit" ucap Afifa
"Iya Nak, jaga diri kalian baik baik, dan berbahagialah" Tuan Daffa mengelus wajah kedua putrinya, setelah itu ia memeluknya sekilas. Setelah Aliya dan Afifa bergeser, kini giliran Bram dan Alex yang mendekati Tuan Daffa "Ayah titip putri ayah pada kalian. Ingat, anak perempuan adalah cinta nyata bagi seorang Ayah. Ayah tahu bahwa kalian belum mencintai putri putri Ayah, dan Ayah harap, suatu saat nanti hati kalian akan terbuka dan bisa mencintai putri putri Ayah dengan tulus. Tapi jika ternyata sampai nanti kalian tidak bisa mencintai putri Ayah, maka kembalikan mereka kepada Ayah. Karena cinta seorang Ayah untuk anak perempuannya tidak akan pernah habis"
Dengan berani, Bram menatap mata ayah mertuanya "Atas nama diriku dan atas nama keluarga besarku, aku berjanji untuk terus mencintai putri ayah sampai kapan 'pun"
Ayah Daffa mengangguk sembari menepuk bahu menantu ke-duanya "Ayah pegang kata katamu Nak" pandangan mata Tuan Daffa kemudian beralih pada Alex, sang menantu pertama
Menyadari tatapan Ayah mertuanya, Alex ikut menegakkan kepalanya, dan memandang wajah tua di hadapannya "Cinta adalah perkara waktu Ayah, dan aku berharap, seiring berjalannya waktu, aku bisa mencintai putri Ayah"
"Ayah percaya pada kalian"
__ADS_1
Setelah sesi berpamitan selesai. Bram dan Alex membawa koper milik istri mereka menuju mobil yang akan membawa mereka menuju tujuan masing masing. Keluarga Dirgantara melepas kepergian kedua putri mereka sampai ke pintu utama. Begitu mobil tidak lagi terlihat, mereka mulai membubarkan diri, dan pergi ke kamar masing masing
Sedangkan Tuan Daffa, ia tidak ikut ke kamar, ia lebih memilih duduk di ruang keluarga, dan memperhatikan ruang keluarga kediamannya dengan mata berkaca kaca. Dulu, ruangan ini adalah ruangan tempat dirinya, Tante Daffina, dan kedua orang tuanya berkumpul. Lalu setelah kelahiran Aliya, Afifa dan Bara, ruang keluarga ini juga menjadi saksi tumbuh kembang ketiga buah hati mereka. Tapi sekarang, rumah ini kembali sunyi
"Ayah Aliya mengambil buah milikku" adu Afifa kecil
"Tidak Ayah, Aliya memintanya tadi, tapi Afifa tidak mau berbagi"
"Lalu?" tanya Tuan Daffa
"Aliya rampas saja" jawab Aliya dengan kepala menunduk
Tuan Daffa tersenyum dengan mata berkaca kaca. Ia seperti dejavu, dan melihat bayangan Aliya dan Afifa saat mereka berumur tujuh tahun. Sedari dulu, Aliya adalah si pembuat onar dalam keluarga Dirgantara. Ada saja yang ia lakukan, entah mengambil barang barang milik saudaranya, atau menyembunyikan buah segar di kamarnya, dan lain sebagainya
"Ayah sepatu Afifa hilang sebelah" adu Afifa
"Bukan aku Ayah, sungguh" bela Aliya
"Tidak, pasti Aliya. Selama ini 'kan Aliya memang paling jahil" tuduh Afifa
"Tidak, aku mengatakan yang sebenarnya Ayah" ucap Aliya kecil dengan mata berkaca kaca
Tuan Daffa berjongkok, dan menyamakan tubuhnya dengan Aliya, ia usap wajah sang putri, dan menelisiknya dalam dalam. Setelah itu, ia kembali berdiri dengan membawa Aliya dalam gendongannya "Ayah tahu Aliya tidak berbohong" ucap Tuan Daffa
__ADS_1
"Tapi Ayah, sepatu Afifa bagaimana?" tanya Afifa saat melihat Ayahnya mempercayai jika Aliya tidak bersalah
"Sudah, ayo kita cari sama sama" Tuan Daffa mwnurunkan Aliya, dan menggandeng tangan kedua putrinya untuk mencari sepatu milik Afifa
"Bababababa... wle... babababa"
Tuan Daffa meletakkan jari telunjuk di depan mulut. Memberi intruksi kepada kedua putrinya untuk diam. Melihat kode sang Ayah, Aliya dan Afifa mengangguk bersamaan. Mereka berjalan mindik mindik mengintip di balik sofa ruang keluarga, dan ternyata di sana ada bocah laki laki menggemaskan yang tengah memegang mobil mobilan, dengan sepatu Afifa sebagai isian box-nya
"Bara..." sapa Tuan Daffa
"Bababa... bababa..."
Tampaknya, bocah laki laki itu hanya bisa mengucapkan kata keramat itu saja. Hingga sedari tadi yang keluar dari mulutnya hanyalah kata kata yang Tuan Daffa sendiri tidak tahu artinya. Tuan Daffa berjongkok, lalu meraih putranya ke dalam gendongannya
"Jadi kau yang mengambil sepatu Kak Afifa?" tanya Tuan Daffa
"Bababababa..."
"Baiklah" meski tidak mengerti, Tuan Daffa hanya mengangguk, seakan Bara tengah mengucapkan kata Maaf. Tuan Daffa lantas melihat kedua putrinya yang saat ini tengah berdiri saling berhadapan
"Al, maafkan Afifa ya, Afifa bersalah" Afifa meletakkan tangannya di kedua telinganya
Aliya menggelengkan kepala saat melihat apa yang adiknya lakukan. Ia lantas berjalan maju, dan menurunkan tangan Afifa. Lalu di detik berikutnya, ia memeluk saudara kembarnya dengan erat
__ADS_1
"Aliya juga minta maaf ya"
Begitulah rumah tangga Tuan Daffa berjalan. Setiap harinya ada saja keusilan demi keusilan yang terjadi. Entah Aliya atau Bara sebagai tersangka. Sedangkan Afifa, gadis kecil itu selalu menjadi pembelaan kedua orang tuanya, sebab diantara ketiganya, hanya Afifa yang paling kalem dan tidak banyak tingkah