
Aliya dan Alex serta Afifa dan Bram keluar bersamaan dari kamar. Ke-empatnya terlihat sama sama saling tatap. Lalu kemudian, Bram dan Afifa mempersilahkan Alex dan Aliya untuk berjalan lebih dulu. Akhirnya, ke-empat pasangan itu menuruni tangga menuju ruang makan bersamaan
"Hai Sayang, ayo duduk" ajak Bunda Sekar begitu melihat anak anaknya turun
Di meja makan bukan hanya ada keluarga inti saja. Tapi di sana juga sudah ada semua keluarga dari Tante Daffina. Terlihat ada Om Gavin, Sabila, Aaron, dan Aksa berserta dan anaknya. Afifa, Aliya serta suami keduanya tersenyum kepada semua keluarga, dan ikut duduk bersama di meja makan
Makan malam di mulai, Aliya dan Afifa beberapa kali di ajari oleh Tante Daffina dan Bunda Sekar cara melayani suami mereka di meja makan. Tentu saja kedua wanita yang baru menyandang gelar istri itu begitu cekatan melakukan setiap ajaran dari Bunda Tante mereka. Begitu semua piring mereka sudah terisi, semua orang mulai melahap makanannya masing masing
__ADS_1
"Setelah makan, kita berkumpul di ruang keluarga sebentar ya, Ayah ingin membicarakan sesuatu" ucap Tuan Daffa di sela makannya, dan langsung diangguki oleh seluruh anggota keluarga
*
Sesuai apa yang di katakan Tuan Daffa sebelumnya. Kini, semua orang sudah duduk di tempatnya masing masing di ruang keluarga kediaman Dirgantara itu. Begitu semua orang duduk, Tuan Daffa mengeluarkan berkas yang ia simpan di laci, kemudian meletakkannya diatas meja. Terdapat dua berkas diatas meja, dengan nama Aliya dan Afifa
Afifa melirik suaminya sekilas, kemudian tangannya terulur, dan mengambil berkas yang bertuliskan namanya. Di bukanya berkas itu, dan betapa terkejutnya ia saat melihat isi di dalamnya. Di dalam berkas itu, tercantum jika Afifa adalah pewaris dari tiga perusahaan cabang Dirgantara yang tersebar di tiga kota, dan salah satunya adalah kota Jakarta sendiri, tepatnya kantor perusahaan yang selama ini ia naungi
__ADS_1
"Ayah... ini berlebihan"
"Tidak Nak, itu milikmu" ucap Tuan Daffa, kemudian tatapan tuan Daffa beralih pada Aliya "Untuk Aliya..." Tuan Daffa tampak menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya "Alex, kau harus extra sabar menghadapinya, dan Ayah tidak akan memberi pilihan bagi Aliya untuk memilih perusahaan atau Ibu Rumah Tangga, karena Ayah tahu, putri Ayah satu ini tidak bisa bekerja di perusahaan. Maka dari itu, dengan sedikit memaksa, harta warisan atas nama Aliya, akan Ayah serahkan untuk di kelola olehmu. Ambillah" tunjuk Tuan Daffa pada berkas yang masih tersisa
Alex meraih berkas pemberian Ayah Mertuanya. Ia membuka berkas tersebut dan melihat isi di dalamnya "Ayah ini..."
"Ya, itu milik kalian. Ayah memberikan kalian warisan dengan rata, tanpa ayah beda bedakan. Ayah harap, kau dan Bram bisa menjaga amanah yang Ayah berikan" ucap Tuan Daffa pada Alex dan Bram
__ADS_1
Aliya dan Afifa bangkit dari duduknya. Lalu memeluk ayah mereka dengan erat. Ayah, adalah sosok cinta pertama bagi anak perempuannya. Dari Ayah merekalah, mereka mengerti betapa besarnya bentuk cinta di dunia ini. Dari ayah mereka juga mereka mengerti bahwa cinta bukanlah apa yang terlihat oleh mata dan yang terdengar oleh telinga. Tapi cinta adalah apa yang di rasakan oleh hati