
Ehem
Deheman dari arah tangga menyadarkan Afifa dan Bram dari rasa bahagia mereka "Al..." ucap keduanya bersamaan
"Lanjutkan saja, aku hanya akan mengambil minum di dapur" Aliya melanjutkan langkahnya untuk menuju dapur. Setelah mengambil air, ia kembali menaiki tangga
"Bram" panggil Afifa sembari menatap kepergian Aliya
"Hm?"
"Apa ini adil untuk hubungan mereka? Ini sudah satu bulan, tapi tidak ada kemajuan apapun dalam hubungan Alex dan Aliya" ucap Afifa prihatin
"Iya, ini memang sedikit tidak adil. Udo bilang, dia hanya akan mengetes Alex, tapi nyatanya Udo sama sekali tidak memberikan jalan pada Alex untuk menunjukkan perasaannya" timpal Bram
"Lalu bagaimana, apakah kita harus ikut campur?" tanya Afifa sembari menatap wajah suaminya
__ADS_1
"Aku rasa iya, ini saatnya kita yang ikut andil" Bram dan Afifa saling pandang dengan senyum tipis penuh arti
Sementara Aliya. Begitu masuk ke dalam kamar, ia meletakkan gelas airnya, dan langsung menuju pintu balkon. Ia menyingkap gorden kamarnya dan memantau keberadaan Alex. Ya, inilah yang sering ia lakukan, meskipun tidak melihat Alex secara langsung dari luar balkon. Tapi Aliya selalu memperhatikan laki laki itu dari balik gorden kamarnya. Tapi sayang sekali, hari ini Aliya tidak mendapati keberadaan Alex di luar gerbang sana
"Kemana dia?" monolog Aliya sembari terus mencari keberadaan Alex. Namun sayang sekali, sepertinya Alex memang tidak datang siang ini
Aliya melirik bungkusan ketoprak yang masih belum ia makan. Entahlah, tadi ia sangat menginginkan makanan tersebut, tapi kini ia seolah enggan untuk memakannya. Ia mengambil bungkusan tersebut, dan melirik ke luar balkon. Terlihat Mang Cecep yang tengah mengelap mobil di halaman depan
"Mang..." panggil Aliya, membuat Mang Cecep celingukan di bawah sana "Diatas Mang, di balkon Aliya" ucap Aliya memberi tahu
"Eh ada apa Non?" tanya Mang Cecep saat sudah mengetahui siapa yang memanggilnya
"Ketoprak? Boleh Non"
"Ini" Aliya menyodorkan bungkusan ketopraknya pada Mang Cecep
__ADS_1
"Tapi bagaimana mengambilnya Non? Masa mau Non lempar?" tanya Mang Cecep
"Tunggu sebentar"
Aliya kembali masuk ke kamarnya, dan mengambil tali yang memang sengaja ia simpan. Jangan tanyakan tujuannya menyimpan tali tersebut, karena ia juga tidak bisa menjelaskannya secara detail. Tapi yang pasti, tali itu memang selalu ia simpan untuk ia gunakan di waktu yang tepat. Seperti kabur dari kamar saat Ayahnya tidak mengizinkannya keluar misalnya. Lupakan soal tali. Aliya membawa tali itu ke balkon, lalu menalikan ke plastik yang berisi bungkusan ketoprak tersebut. Setelah itu, ia mengulur talinya hingga akhirnya sampai juga di tangan Mang Cecep
"Terima kasih Non"
"Sama sama Mang" jawab Aliya sembari tersenyum dan mengiringi langkah Mang Cecep yang mulai menjauh
"Al..."
Deg
Jantung Aliya berdebar tak karuan saat mendengar suara teriakan yang tak asing itu. Ia melirik ke depan gerbang untuk memastikan pendengarannya, dan benar saja, ada Alex di luar sana. Aliya segera memutus tatapannya, dan hendak masuk. Namun ucapan penuh permohonan dari Alex membuatnya mengurungkan langkah
__ADS_1
"Aku mohon beri aku satu kesempatan lagi Al"
Aliya kembali masuk ke kamarnya tanpa melihat Alex lagi. Ia bahkan menutup gorden kamar, dan langsung duduk di kasur dengan dada yang berdegup kencang dan mata yang mulai memanas. Berkali kali ia tampak menghela napas, sebab melihat wajah Alex membuatnya merasakan rindu yang begitu membuncah. Entahlah, apakah ini pengaruh kehamilannya atau mungkin ini adalah efek kerinduan yang memang ia rasakan