
Pagi hari, Aliya terbangun saat merasakan seseorang mengusik tidurnya. Ia lantas membuka kedua matanya, dan langsung mendapati Alex yang mengajak perutnya bicara sembari mengusap dan menciumnya berulang kali
"Anak anak Daddy apa sudah bangun hm? Perkenalkan, ini Daddy, kalian mungkin belum mengenal Daddy karena kita jarang bersama selama ini. Tapi Daddy janji, setelah ini kita akan bersama-sama terus. Sehat sehat ya Sayang, Muah..." Alex kembali mencium perut istrinya yang masih tertutup piyama.
Aliya mengulas senyum saat melihat kelembutan Alex pagi ini. Menyadari Alex yang akan menatap wajahnya, Aliya dengan segera memejamkan mata kembali. Sedangkan Alex, calon ayah itu kembali memandang wajah damai istrinya. Ia pindai wajah sang istri dengan seulas senyum di wajahnya. Lalu sedetik kemudian, dengan berani, ia melabuhkan satu kecupan selamat pagi di pucuk kepala istrinya. Setelah itu ia melenggang keluar dari kamar menuju kamar mandi
Selepas kepergian Alex, Aliya kembali membuka matanya, dan memegang dadanya yang berdebar. Bagai anak remaja yang baru jatuh cinta, Aliya merentangkan kedua tangan di udara untuk mengungkapkan perasaan bahagianya
Ceklek
Pintu yang terbuka membuat Aliya menurunkan tangannya dengan kikuk. Ia bahkan memalingkan wajah, dan agar Alex tak melihat dirinya yang kekanakan. Sedangkan Alex, laki laki itu justru terlihat cemas, dan mendekati ranjang kembali
"Al, ada apa, apa ada yang sakit? Apa kau mual?"
"Ti-tidak, aku baik baik saja"
"Kau yakin?"
__ADS_1
"Iya"
"Baiklah, aku mandi dulu kalau begitu" Alex mengambil handuknya dari dalam koper. Ya, tadi ia kembali ke kamar karena ia melupakan handuk dan baju gantinya. Namun begitu membuka pintu, ia justru melihat istrinya yang seperti orang atraksi. Setelah mengambil handuknya dari dalam koper, Alex kembali keluar
"Ish Al, jangan sampai dia tahu kalau kau salah tingkah, nanti dia malah memperlakukanmu seenaknya lagi" gerutu Aliya pada dirinya sendiri
Aliya bangkit dari ranjang dan keluar kamar. Tujuannya adalah kamar mandi. Ya, kamar mandi di rumah ini ada dua dan letaknya ada di bagian paling belakang rumah, dekat dengan sumur. Rumah ini memang benar benar masih tradisional asli, karena rumah ini adalah rumah turun temurun dari keluarga Kesaibatinan Om Gavin, maka dari itulah kamar mandi di rumah ini tidak di sediakan di masing masing kamar
"Pagi Al" sapa Tante Daffina begitu Aliya melewati dapur
"Pagi Tan" jawab Aliya "Oh iya, siapa di kamar mandi Tan?" tanya Aliya
"Oh..."
"Kau tunggu saja dibelakang, mungkin sebentar lagi Sabila selesai, dia juga sudah cukup lama di kamar mandi" ucap Tante Daffina
Aliya mengangguk, dan mengikuti saran Tante Daffina. Begitu tiba di kamar mandi, ternyata kedua pintu kamar mandi tersebut masih sama sama tertutup, menandakan masih ada orang didalamnya. Tidak lama, akhirnya Sabila keluar dari kamar mandi dengan sarung yang membungkus tubuhnya dan sebuah handuk untuk menutupi bagian pundaknya
__ADS_1
"Kak Al, mau mandi?" tanya Sabila
"Tidak Sayang, mau makan" jawab Aliya ketus
"Ish, benar kata Kak Bara, Kak Al itu memang singa betina"
"Apa katamu?" Aliya melotot tajam pada Sabila karena kini yang mengatainya singa betina bukan hanya Bara
"Siapapun diluar, tolong isi tower airnya, airnya mati" teriak Alex dari dalam, membuat Aliya dan Sabila melihat kearah kamar mandi yang pintunya masih tertutup itu
"Jadi yang didalam Kak Alex? Kenapa Kakak tidak mandi bersama Kak Alex saja, malah susah susah menunggu aku" ucap Sabila
"Ish kau itu, cepat nyalakan mesin airnya. Kau tidak dengar airnya habis?" ucap Aliya ketus. Ya, bagaimana ia akan berkata lembut kalau Sabila bukannya menghidupkan air seperti permintaan Alex, tapi justru membahas hal yang tidak perlu
"Tapi benar, Mama dan Papa saja biasanya mandi di satu kamar mandi, kenapa Kak Al dan..."
"Cepat hidupkan airnya atau sendal ini akan melayang" ancam Aliya
__ADS_1
Melihat sendal yang sudah terangkat dan siap untuk melemparnya, Sabila segera berjalan cepat untuk masuk dan menghidupkan air. Setelah menghidupkan air, bukannya langsung masuk, ia justru melongokan kepalanya kembali dan melihat Aliya "Kalau aku sudah menikah nanti, aku pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mandi bersama" teriaknya, membuat Aliya benar benar melempar sendalnya kearah Sabila