
Aliya mengelus perutnya karena lagi lagi perutnya terasa begah. Padahal ia dan Alex hanya berbagi satu porsi soto yang tidak seberapa. Tapi entah mengapa, perutnya terasa begitu kenyang
"Kau kenyang?" tanya Alex
"Menurutmu? Tentu saja aku kenyang" jawab Aliya ketus dengan mata terpejam. Ya, setelah makan kenyang, ia malah merasa benar benar mengantuk
Bukannya tersinggung, Alex malah tersenyum mendengar ucapan ketus Aliya "Apa selama kehamilan, mereka menyusahkanmu?" tanya Alex menatap pada perut Aliya
"Tidak" jawab Aliya. Lalu sedetik kemudain ia membuka matanya kembali dan menatap Alex "Mereka? Kau tahu bahwa mereka kembar?" tanya Aliya
"Bram yang mengatakannya"
"Bram?" Aliya mengedarkan tatapannya ke setiap sudut, dan matanya menangkap keberadaan Bram yang saat ini tengah berjongkok dan mencium perut Afifa. Seketika itu juga kening Aliya mengerut. Bukankah waktu itu Bram mengatakan akan ada perjalanan ke luar kota, lalu kenapa sampai saat ini, Bram masih ada di Jakarta "Jadi Bram yang mengatakan padamu?" tanya Aliya memastikan yang dijawab anggukan kepala oleh Alex.
"Al..."
__ADS_1
"Hm?"
"Apakah tidak ada lagi kesempatan untukku memperbaiki kesalahanku padamu?" tanya Alex
"Apakah kau sudah mencintaiku?"
Ditanya demikian oleh Aliya, membuat Alex bungkam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Karena ia 'pun tidak tahu dengan pasti seperti apa perasaannya pada Aliya. Tapi yang pasti, ia tidak rela jika Aliya benar benar meninggalkannya, apalagi ada anak mereka yang pasti akan menjadi korban atas perpisahan mereka
"Bahkan sampai sekarang 'pun kau masih belum mampu menjawab pertanyaanku Alexander, lalu kesempatan yang seperti apa lagi yang kau minta? Sudahlah, mulai sekarang aku tidak lagi melarangmu untuk memenuhi keinginan anak anakku, tapi untuk kesempatan lagi akan hubungan kita, aku rasa itu tidak perlu" ucap Aliya
"Katakan padaku bahwa kau mencintaiku" desak Aliya menantang. Namun sayang sekali, Alex justru menjawab dengan gelengan kepala "Itu artinya semuanya sudah jelas, bahwa antara kau dan aku tidak memiliki hubungan apapun lagi selain karena mereka" ucap Aliya sembari mengelus perutnya
Aliya bangkit dari kursinya, dan memanggil Afifa untuk pulang. Afifa yang melihat itu dengan segera mengikuti Aliya untuk pulang. Begitu tiba di mobil, Aliya dan Afifa segera menduduki tempat masing masing
"Kak Al sepertinya masih menyimpan rasa untuk Kak Alex" ujar Bara
__ADS_1
"Diam kau, sudahlah cepat jalan"
"Ish, singa hamil" gerutu Bara sembari menjalankan kendaraannya untuk kembali ke rumah
*
Setelah Aliya memberi izin untuk Alex untuk memenuhi kebutuhan anak mereka. Alex juga mulai lebih sering mengirim bahan makanan, camilan dan berbagai bahan lainnya yang sekiranya Aliya butuhkan. Bahkan, pertemuan pertemuan mereka juga tidak lagi dilalui dengan drama, karena Alex selalu meminta Aliya untuk mengabarinya jika ibu hamil itu menginginkan sesuatu, dan Aliya juga hanya menurut saja, karena ia juga sudah terlanjur mengatakan bahwa ia mengizinkan Alex untuk memberi perhatian untuk anak mereka
"Al, ini pesananmu" ucap Alex sembari menghidangkan bakso pesanan Aliya di depan wanita itu, dan ia juga ikut duduk bersama mereka. Ya, mereka, karena disana bukan hanya ada Alex dan Aliya, tapi juga ada Bram dan Afifa serta Bara
Selama makan, Aliya hanya menerima setiap perlakuan lembut Alex padanya. Disamping karena ia menghargai usaha Alex untuk memberi perhatian atas kehamilannya, Aliya juga seakan merasa begitu bahagia saat Alex memberi perhatian lebih seperti itu
Tidak jauh berbeda dengan Alex dan Aliya, Bram dan Afifa juga ikut melakukan hal hal romantis. Seperti saling menyuapi, atau menertawakan hal hal kecil diantara mereka. Sedangkan Bara, jangan tanyakan dimana Bara, karena tentu saja ia menjadi penonton atas keromantisan antara kedua kakak kembarnya bersama suami mereka
"Anggap saja aku ngontrak" gerutu Bara
__ADS_1